Jumat, 01 Maret 2013

kisah


GENERASI-GENERASI MASA LAMPAU
Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang
sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk
Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah?. Telah datang kepada
mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata; maka Allah tidaklah
sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi mereka lah yang menganiaya diri
mereka sendiri.(QS. At-Taubah: 70)
Pesan-pesan suci, disampaikan untuk umat manusia oleh Allah melalui utusan-utusan-
Nya, telah dikomunikasikan kepada kita sejak penciptaan umat manusia, Beberapa
masyarkat/kaum telah menerima pesan/ajaran ini sementara yang lain telah
mengingkarinya. Adakalanya, ada sejumlah kecil dari suatu masyarakat yang mau
menerima perintah suci tersebut mengikuti seorang pembawa risalah(nabi).
Namun sebagian besar dari masyarakat yang telah didatangi risalah suci tersebut tidak
bersedia menerimanya. Mereka tidak hanya mengabaikan pesan suci yang disampaikan
oleh sang pembawa pesan, namun juga berusaha untuk melakkan perbuatan keji terhadap
para pembawa pesan dan para pengikutnya. Para pembawa pesan suci tersebut biasanya
dituduh serta difitnah sebagai "pembohong, sihir, orang yang sakit gila dan penuh dengan
kesombongan" dan menjadi pemimpin dari banyak orang yang harus mereka cari-cari
untuk dibunuh.
Semua hal yang diinginkan oleh para nabi dari kaumnya adalah kepatuhan mereka
kepada Allah. Mereka tidak meminta uang ataupun berbagai keuntungan dunia lainnya
sebagai balasan. Dan juga mereka tidak berusaha memaksa kaum mereka. Yang mereka
inginkan hayalah mengajak kaum mereka kepada agama yang haq dan bahwa mereka
seharusnya memulai sebuah jalan hidup yang berbeda bersama dengan para pengikutnya
terpisah dari masyarkat.
Apa yang telah terjadi antara Syu'aib dan kaum Madyan dimana dia diutus,
menggambarkan hubungan antara nabi dengan kaumnya sebagaimana yang disebutkan
dimuka. Reaksi dari suku Syu'aib terhadap Syu'aib, yang menyerukan kepada mereka
untuk beriman kepada Allah dan menghentikan semua tindakan ketidakadian yang telah
mereka lakukan, dan bagaimana itu semua berakhir sangatlah menarik :
Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka Syu'aib, Ia berkata:
"Hai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan selain Dia. Dan jaganlah
kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam
keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan
azab hari yang membinasakan (kiamat)."
Dan Syu'aib berkata: "hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan
adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan
janganlah kamu berbuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.
Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagi kamu jika kamu orang-orang
yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas diri kamu.
Mereka berkata: "Hai Syu'aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar
meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami
berbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah
seorang yang sangat penyantun lagi berakal.
Syu'aib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti
yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku daripada-Nya rezeki yang baik
(patutkah aku menyalahi perintah-Nya). Dan aku tidak berkehendak mengerjakan
apa yang aku larang kamu daripadanya. Aku tidak bermaksud kecuali
(mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada
taufik bagiku, melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku
bertawakal dan hanya kepada-Nya lah aku kembali.
Hai kaumku, janganlah hendakya pertentangan antara aku (dengan kamu)
menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang
menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaun Luth tidak
(pula) jauh (tempatnya) dari kamu.
Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya.
Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi maha Pengasih.
Mereka berkata: "Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu
katakana itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang
benar-benar lemah diantara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah
kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa
disisi kami.
Syu'aib menjawab: "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut
pandanganmu daripada Allah, sedangkan Allah kamu jadikan sesuatu yang
terbuang dibelakangmu?. Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa
yang kamu kerjakan".
Dan (dia berkata): "Hai kaumku, berbuatalah menurut kemampuanmu,
sesungguhya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang
akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah
azab (tuhanku), sesungguhnya akupun menungu bersama kamu."
Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang
beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang
yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka
mati bergelimpangan di tempat tinggalnya. Seolah-olah mereka belum pernah
berdiam di tempat itu. Ingatlah kebinasaanlah bagi penduduk Madyan
sebagaimana kaum Tsamud yang telah binasa.(QS Huud 84-95).
Dengan memikirkan "batu /prasasti Syu'aib" yang tidak lain kecuali menerukan mereka
kepada kebaikan, kaum Mdyan dihukum dengan kutukan dari Allah dan merekapun telah
dibinasakan sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat diatas. Masyarakat Madyan
bukanlah satu-satunya contoh. Sebaliknya sebagaimana Syu'aib sedang berbicara kepada
kaumnya, banyak masyarakat yang telah ada lebih dahulu sebelum masyarakat Madyan
yang telah dibinasakan. Setelah Madyan, banyak masyarakat lain yang juga dihancurkan
oleh kemurkaan Allah.
Di dalam halaman-halaman berikut, kita akan menyebutkan masyarakat-masyarakat yang
telah disebutkan diatas yang telah dibinasakan dan sisa-sisa peninggalan mereka. Di
dalam Al Qur'an, masyarakat-masyarakat ini disebutkan secara mendetail dan orangorang
diajak untuk merenungkan dan mengambil pelajaran serta peringatan tentang
bagaimana kaum-kaum ini berakhir.
Pada titik ini, Al Qur'an secara khusus menarik perhatian terhadap kenyataan bahwa
sebagian besar dari masyarakat yang dihancurkan tersebut memiliki tingkat peradaban
yang tinggi. . Di dalam Al Qur'an, sifat-sifat dari kaum-kaum yang dihancurkan
ditekankan sebagai berikut:
Dan berapa banyakkah umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka
yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini, maka mereka (yang
telah dibinasakan itu) telah pernah menjajah di beberapa negeri. Adakah (mereka)
mendapat tempat lari (dari kebinasaan)?.(QS Qaf 36).
Dalam ayat tersebut, dua sifat dari kaum yang telah dihancurkan secara khusus
ditekankan. Yang pertama adalah mereka merasa "lebih besar kekuatannya". Hal ini
berarti bahwa masyarakat-masyarakat yang telah dibinasakan tersebut telah berada dalam
suatu tingkat kedisiplinan dan system birokrasi militer yang tangguh dan merenggut
kekuatan diwilayah mereka berada memalui dengan cara paksaan kekuatan. Point kedua
adalah masyarakt-masyarakat yang telah disebutkan dimuka mendirikan kota-kota besar
yang dihiasai dengan karya-karya arsitektur mereka.
Hal ini patut untuk diperhatikan bahwa dari kedua macam sifat-sifat ini termasuk yang
dimiliki oleh peradaban yang ada dijaman kita sekarang ini, yang telah membentuk
sebuah kebudayaan dunia yang begitu luas melalui ilmu pengetahuan dan teknologi saat
ini dan telah mendirikan negara-negara yang tersentralisir, kota-kota besar, namun
mereka masih tetap mengingkari dan mengabaikan Allah, melupakan bahwa semua hal
tersebut memungkinkan untuk dibuat kaena Kekuasan Allah saja. Namun, sebagaimana
dikatakan di dalam ayat, peradaban mereka yang telah berkembang tidak bisa
menyelamatkan masyarakat yang telah dihancurkan tersebut, dikarenakan peradaban
mereka berdiri diatas landasan pengingkaran terhadap Allah. Akhir dari peradaban saat
inipun tidak akan berbeda selama peradaban sekarang ini berdasarkan kepada
pengingkaran dan berperilaku jahat di dunia.
Sejumlah peristiwa penghancuran, beberapa diantaraya yang diceritakan dalam Al
Qur'an, telah dibenarkan oleh berbagai penelitian arkeologis yang dilakukan di jaman
modern, Temuan-temuan ini yang secara jelas membuktikan bahwa peristiwa-peristiwa
yang dikutip dalam Al Qur'an benar-benar pernah terjadi, menjelaskan perlunya untuk
menjadi "peringatan terlebih dahulu" yang banyak digambarkan dalam kisah-kisah Al
Qur'an. Allah berfirman di dalam Al Qur'an bahwa penting untuk "bepergian di muka
bumi" dan "melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka".
Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan
wahyu kepadanya diantara penduduk negeri. Maka tidaklah mereka bepergian di muka
bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang
mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orangorang
yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memikirkanya.
Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harrapan lagi (tentang keimanan mereka)
dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada rasul itu
pertolongan Kami, lalu diselamatkanlah orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak
dapat ditolak siksa Kami daripada orang-orang yang berdosa.
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang
yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi
membenarkan (kiab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan
sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.(QS Yusuf 109-111).
Sesungguhnya, terdapat banyak contoh dalam kisah-kisah tentang masyarakat di waktu
lampau bagi orang-orang yang dikaruniai kepahaman. Kehancuran mereka yang
disebabkan oleh pemberontakan mereka terhadap Allah dan penolakan terhadap perintahperintah-
Nya, kaum-kaum ini mengungkapkan kepada kita betapa lemah dan tidak
berdayanya umat manusia dhadapan Allah. Di dalam halaman-halaman berikut, kita akan
mempelajari contoh-contoh dalam susunan yang urut berdasarkan kronologi kejadiannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar