Jumat, 01 Maret 2013

kisah bag.2


GENERASI-GENERASI MASA LAMPAU
Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang
sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk
Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah?. Telah datang kepada
mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata; maka Allah tidaklah
sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi mereka lah yang menganiaya diri
mereka sendiri.(QS. At-Taubah: 70)
Pesan-pesan suci, disampaikan untuk umat manusia oleh Allah melalui utusan-utusan-
Nya, telah dikomunikasikan kepada kita sejak penciptaan umat manusia, Beberapa
masyarkat/kaum telah menerima pesan/ajaran ini sementara yang lain telah
mengingkarinya. Adakalanya, ada sejumlah kecil dari suatu masyarakat yang mau
menerima perintah suci tersebut mengikuti seorang pembawa risalah(nabi).
Namun sebagian besar dari masyarakat yang telah didatangi risalah suci tersebut tidak
bersedia menerimanya. Mereka tidak hanya mengabaikan pesan suci yang disampaikan
oleh sang pembawa pesan, namun juga berusaha untuk melakkan perbuatan keji terhadap
para pembawa pesan dan para pengikutnya. Para pembawa pesan suci tersebut biasanya
dituduh serta difitnah sebagai "pembohong, sihir, orang yang sakit gila dan penuh dengan
kesombongan" dan menjadi pemimpin dari banyak orang yang harus mereka cari-cari
untuk dibunuh.
Semua hal yang diinginkan oleh para nabi dari kaumnya adalah kepatuhan mereka
kepada Allah. Mereka tidak meminta uang ataupun berbagai keuntungan dunia lainnya
sebagai balasan. Dan juga mereka tidak berusaha memaksa kaum mereka. Yang mereka
inginkan hayalah mengajak kaum mereka kepada agama yang haq dan bahwa mereka
seharusnya memulai sebuah jalan hidup yang berbeda bersama dengan para pengikutnya
terpisah dari masyarkat.
Apa yang telah terjadi antara Syu'aib dan kaum Madyan dimana dia diutus,
menggambarkan hubungan antara nabi dengan kaumnya sebagaimana yang disebutkan
dimuka. Reaksi dari suku Syu'aib terhadap Syu'aib, yang menyerukan kepada mereka
untuk beriman kepada Allah dan menghentikan semua tindakan ketidakadian yang telah
mereka lakukan, dan bagaimana itu semua berakhir sangatlah menarik :
Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka Syu'aib, Ia berkata:
"Hai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan selain Dia. Dan jaganlah
kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam
keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan
azab hari yang membinasakan (kiamat)."
Dan Syu'aib berkata: "hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan
adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan
janganlah kamu berbuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.
Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagi kamu jika kamu orang-orang
yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas diri kamu.
Mereka berkata: "Hai Syu'aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar
meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami
berbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah
seorang yang sangat penyantun lagi berakal.
Syu'aib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti
yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku daripada-Nya rezeki yang baik
(patutkah aku menyalahi perintah-Nya). Dan aku tidak berkehendak mengerjakan
apa yang aku larang kamu daripadanya. Aku tidak bermaksud kecuali
(mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada
taufik bagiku, melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku
bertawakal dan hanya kepada-Nya lah aku kembali.
Hai kaumku, janganlah hendakya pertentangan antara aku (dengan kamu)
menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang
menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaun Luth tidak
(pula) jauh (tempatnya) dari kamu.
Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya.
Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi maha Pengasih.
Mereka berkata: "Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu
katakana itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang
benar-benar lemah diantara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah
kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa
disisi kami.
Syu'aib menjawab: "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut
pandanganmu daripada Allah, sedangkan Allah kamu jadikan sesuatu yang
terbuang dibelakangmu?. Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa
yang kamu kerjakan".
Dan (dia berkata): "Hai kaumku, berbuatalah menurut kemampuanmu,
sesungguhya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang
akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah
azab (tuhanku), sesungguhnya akupun menungu bersama kamu."
Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang
beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang
yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka
mati bergelimpangan di tempat tinggalnya. Seolah-olah mereka belum pernah
berdiam di tempat itu. Ingatlah kebinasaanlah bagi penduduk Madyan
sebagaimana kaum Tsamud yang telah binasa.(QS Huud 84-95).
Dengan memikirkan "batu /prasasti Syu'aib" yang tidak lain kecuali menerukan mereka
kepada kebaikan, kaum Mdyan dihukum dengan kutukan dari Allah dan merekapun telah
dibinasakan sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat diatas. Masyarakat Madyan
bukanlah satu-satunya contoh. Sebaliknya sebagaimana Syu'aib sedang berbicara kepada
kaumnya, banyak masyarakat yang telah ada lebih dahulu sebelum masyarakat Madyan
yang telah dibinasakan. Setelah Madyan, banyak masyarakat lain yang juga dihancurkan
oleh kemurkaan Allah.
Di dalam halaman-halaman berikut, kita akan menyebutkan masyarakat-masyarakat yang
telah disebutkan diatas yang telah dibinasakan dan sisa-sisa peninggalan mereka. Di
dalam Al Qur'an, masyarakat-masyarakat ini disebutkan secara mendetail dan orangorang
diajak untuk merenungkan dan mengambil pelajaran serta peringatan tentang
bagaimana kaum-kaum ini berakhir.
Pada titik ini, Al Qur'an secara khusus menarik perhatian terhadap kenyataan bahwa
sebagian besar dari masyarakat yang dihancurkan tersebut memiliki tingkat peradaban
yang tinggi. . Di dalam Al Qur'an, sifat-sifat dari kaum-kaum yang dihancurkan
ditekankan sebagai berikut:
Dan berapa banyakkah umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka
yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini, maka mereka (yang
telah dibinasakan itu) telah pernah menjajah di beberapa negeri. Adakah (mereka)
mendapat tempat lari (dari kebinasaan)?.(QS Qaf 36).
Dalam ayat tersebut, dua sifat dari kaum yang telah dihancurkan secara khusus
ditekankan. Yang pertama adalah mereka merasa "lebih besar kekuatannya". Hal ini
berarti bahwa masyarakat-masyarakat yang telah dibinasakan tersebut telah berada dalam
suatu tingkat kedisiplinan dan system birokrasi militer yang tangguh dan merenggut
kekuatan diwilayah mereka berada memalui dengan cara paksaan kekuatan. Point kedua
adalah masyarakt-masyarakat yang telah disebutkan dimuka mendirikan kota-kota besar
yang dihiasai dengan karya-karya arsitektur mereka.
Hal ini patut untuk diperhatikan bahwa dari kedua macam sifat-sifat ini termasuk yang
dimiliki oleh peradaban yang ada dijaman kita sekarang ini, yang telah membentuk
sebuah kebudayaan dunia yang begitu luas melalui ilmu pengetahuan dan teknologi saat
ini dan telah mendirikan negara-negara yang tersentralisir, kota-kota besar, namun
mereka masih tetap mengingkari dan mengabaikan Allah, melupakan bahwa semua hal
tersebut memungkinkan untuk dibuat kaena Kekuasan Allah saja. Namun, sebagaimana
dikatakan di dalam ayat, peradaban mereka yang telah berkembang tidak bisa
menyelamatkan masyarakat yang telah dihancurkan tersebut, dikarenakan peradaban
mereka berdiri diatas landasan pengingkaran terhadap Allah. Akhir dari peradaban saat
inipun tidak akan berbeda selama peradaban sekarang ini berdasarkan kepada
pengingkaran dan berperilaku jahat di dunia.
Sejumlah peristiwa penghancuran, beberapa diantaraya yang diceritakan dalam Al
Qur'an, telah dibenarkan oleh berbagai penelitian arkeologis yang dilakukan di jaman
modern, Temuan-temuan ini yang secara jelas membuktikan bahwa peristiwa-peristiwa
yang dikutip dalam Al Qur'an benar-benar pernah terjadi, menjelaskan perlunya untuk
menjadi "peringatan terlebih dahulu" yang banyak digambarkan dalam kisah-kisah Al
Qur'an. Allah berfirman di dalam Al Qur'an bahwa penting untuk "bepergian di muka
bumi" dan "melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka".
Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan
wahyu kepadanya diantara penduduk negeri. Maka tidaklah mereka bepergian di muka
bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang
mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orangorang
yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memikirkanya.
Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harrapan lagi (tentang keimanan mereka)
dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada rasul itu
pertolongan Kami, lalu diselamatkanlah orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak
dapat ditolak siksa Kami daripada orang-orang yang berdosa.
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang
yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi
membenarkan (kiab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan
sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.(QS Yusuf 109-111).
Sesungguhnya, terdapat banyak contoh dalam kisah-kisah tentang masyarakat di waktu
lampau bagi orang-orang yang dikaruniai kepahaman. Kehancuran mereka yang
disebabkan oleh pemberontakan mereka terhadap Allah dan penolakan terhadap perintahperintah-
Nya, kaum-kaum ini mengungkapkan kepada kita betapa lemah dan tidak
berdayanya umat manusia dhadapan Allah. Di dalam halaman-halaman berikut, kita akan
mempelajari contoh-contoh dalam susunan yang urut berdasarkan kronologi kejadiannya.
BANJIR NABI NUH
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di
antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir
besar dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al Ankabut: 14)
Sebagaimana Banjir Nuh itu juga dikisahkan dalam hampir seluruh kebudayaan manusia,
banjir Nuh adalah salah satu dari sekian banyak contoh kisah-kisah yang paling banyak
diuraikan dalam al-Qur'an. Kengganan umat Nabi Nuh terhadap nasehat dan peringatan
dari Nabi Nuh, bagaimana reaksi mereka terhadap risalah Nabi Nuh, serta bagaimana
peristiwa banjir selengkapnya terjadi, semuanya diceritakan dengan sangat detail dalam
banyak ayat al-Qur'an.
Nabi Nuh diutus untuk mengingatkan umatnya yang telah meninggalkan ayat-ayat Allah
dan menyekutukanNya, dan menegaskan kepada mereka untuk hanya menyembah Allah
saja dan berhenti dari sikap pembangkangan mereka. Meskipun Nabi Nuh telah
menasehati umatnya berkali-kali untuk mentaati perintah Allah serta mengingatkan akan
murka Allah, mereka masih saja menolak dan terus menyekutukan Allah.
Tentang bagaimana kejadian itu berkembang, dilukiskan dengan jelas dalam ayat-ayat
berikut:
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Lalu ia berkata
"Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan
bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya)?". Maka
pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: "Orang ini tidak
lain hanyalah manusia seperti kamu , yang bermaksud hendak menjadi seorang
yang lebih tinggi dari kamu . Dan kalau Allah menghendaki , tentu Dia mengutus
beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar seruan (seruan yang
seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. Ia tidak lain hanyalah
seorang laki-laki yang berpenyakit gila , maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya
sampai suatu waktu. Nuh berdoa, "Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka
mendustakanku" .(Al-Mukminun : 23-26)
Sebagaimana dikemukakan dalam ayat-ayat tersebut, pemuka masyarakat di sekitar Nabi
Nuh berusaha menuduh bahwa Nabi Nuh telah berusaha untuk munjukkan
superioritasnya atas masyarakat lingkungannya, mencari keuntungan pribadi seperti
status sosial, kepemimpinan dan kekayaan......
Karena itulah, Allah menyampaikan pada Rasulullah Nuh bahwa mereka yang menolak
kebenaran dan melakukan kesalahan akan dihukum dengan detenggelamkan, dan mereka
yang beriman akan diselamatkan.
Maka, pada saat hukuman datang, air dan aliran yang sangat deras muncul dan
menyembur dari dalam tanah, yang dibarengi dengan hujan yang sangat lebat, telah
menyebabkan banjir yang dahsyat. Allah memerintahkan kepada Nuh untuk "menaikkan
ke atas berahu pasangan-pasangan dari setiap species, jantan dan betina, serta
keluarganya". Seluruh manusia di daratan tersebut ditenggelamkan ke dalam air,
termasuk anak laki-laki Nabi Nuh yang semula berpikir bahwa dia bisa selamat dengan
mengungsi ke sebuah gunung yang dekat. Semuanya tenggelam kecuali yang dimuat di
dalam perahu bersama Nabi Nuh. Ketika air surut di akhir banjir tersebut, dan "kejadian
telah berakhir", perahu terdampar di Judi, yaitu sebuah tempat yang tinggi, sebagaimana
yang diinformasikan oleh Qur'an kepada kita.
Studi arkeologis, geologis, dan studi historis menunjukkan bahwa insiden tersebut terjadi
dengan cara yang sangat mirip dan berhubungan dengan informasi al-Qur'an. Banjir
tersebut juga digambarkan secara hampir mirip di dalam beberapa rekaman atas
peradaban-pertadaban masa lalu di dalam banyak dokumen sejarah, meski ciri-ciri dan
nama-nama tempat bervariasi, dan "seluruh apa yang terjadi pada sebuah asbak manusia"
disajikan untuk manusia saat ini dengan tujuan sebagai peringatan.
Di samping dikemukakan dalam Perjanjian Lama, kisah tentang banjir Nuh ini diungkap
dengan cara yang hampir mirip dalam rekaman-rekaman sejarah Sumeria dan Assiria-
Babilonia, dalam legenda-legenda Yunani, dalam Shatapatha, Brahmana serta epik-epik
dalam Mahabarata dari India, dalam beberapa legenda dari Welsh di British Isles, di
dalam Nordic Edda, dalam legenda-leganda Lituania, dan bahkan dalam cerita-cerita
yang berasal dari Cina.
Bagaimana mungkin bisa terjadi, cerita-cerita yang sebegitu detail dan konsisten bisa
didapat dari daratan-daratan yang secara gegografis dan kultural berbeda jauh, yang
saling berjauhan letaknya baik antara satu tempat dengan tempat yang lainnya, maupun
dari tempat-tempat tersebut dengan tempat terjadinya banjir?.
Jawabannya sangat jelas: fakta bahwa peristiwa yang sama, yang saling berkaitan dalam
berbagai rekaman sejarah berbagai bangsa tersebut, yang mana sangat kecil
kemungkinannya bahwa mereka bisa saling berkomunikasi (mengingat masih rendahnya
peradaban masa itu), itu semua merupakan bukti yang sangat gamblang bahwa orangorang
dari berbagai bangsa itu menerima pengetahuan tentang banjir itu dari sebuah
sumber Ilahiah. Nampaknya bahwa banjir Nuh, salah satu dari tragedi yang paling besar
dan destruktif sepanjang sejarah itu, telah diriwayatkan oleh banyak Nabi yang diutus ke
berbagai peradaban bangsa-bangsa dengan tujuan untuk memberikan sebuah contoh atau
I'tibar. Dengan demikian bisalah dipahami dengan mudah bahwa berita tentang banjir
Nuh itu tersebar dalam berbagai budaya di dunia.
Namun, di balik diriwayatkannya kejadian itu dalam berbagai budaya dan sumbersumber
ajaran berbagai agama, cerita banjir dan tragedi yang terjadi pada masa Nabi Nuh
itu telah mengalami perubahan yang cukup banyak dan telah terpendar dari kisah aslinya
dikarenakan kepalsuan berbagai sumber ceritanya, pemindahan cerita dengan cara yang
tidak benar, atau bahkan mungkin dikarenakan memang sengaja dilakukan untuk suatu
tujuan-tujuan yang tidak baik. Riset menunjukkan bahwa, di antara sekian banyak
riwayat tentang banjir Nuh yang secara mendasar masih berkaitan namun dengan
berbagai perbedaan, satu-satunya penggambaran (periwayatan) yang paling konsisten
hanya satu, yakni di dalam al-Qur'an.
Nabi Nuh dan Banjir dalam al-Qur'an
Banjir Nuh disebutkan dalam banyak ayat di dalam al-Qur'an. Di bawah ini bisa dilihat
ayat-ayat yang disusun berdasarkan urut-urutan peristiwa banjir tersebut:
Nabi Nuh Menyeru Kaumnya pada Agama Kebenaran
Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnyalalu ia berkata: "Wahai
kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selainNya".
Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa
azab hari yang besar (kiamat)". (Al-A'raf: 59)
Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,
maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak
minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari
Tuhan semesta alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. QS.
Asy-Syuara': 107-110)
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Lalu ia berkata
"Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan
bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya)?".QS. Al-
Mukminun: 23)
Peringatan Nabi Nuh kepada kaumnya untuk Menghindari Hukuman dari Allah
Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan
memerintahkan): "Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab
yang pedih"(QS. Nuh: 1)
Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang
menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal. (QS. Hud:39)
Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan
ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan. (QS. Hud: 26)
Pembangkangan kaum Nabi Nuh
Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya kami memandang kamu
berada dalam kesesatan yang nyata".(QS. Al-A'raf: 60)
Mereka berkata: "Hai Nuh sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan
kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah
kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orangorang
yang benar. (QS. Hud: 32)
Dan mulailah Nuh membuat bahtera . Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan
melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkata Nuh: "Jika kamu mengejek kami,
maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian
mengejek (kami). (QS. Hud: 38)
Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: "Orang ini
tidak lain hanyalah manusia seperti kamu , yang bermaksud hendak menjadi
seorang yang lebih tinggi dari kamu . Dan kalau Allah menghendaki , tentu Dia
mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar seruan
(seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. Ia tidak lain
hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah)
terhadapnya sampai suatu waktu. (QS. Al-Mukminun: 24-25)
Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kaum Nuh maka mereka mendustakan
hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: "Dia seorang gila dan dia sudah pernah
diberi ancaman".(QS. Al-Qamar: 9)
Penghinaan terhadap para pengikut Nabi Nuh
Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak
melihat kamu , melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan
kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu , melainkan orang-orang
yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat
kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa
kamu adalah orang-orang yang dusta". (QS. Hud: 27)
Mereka berkata: "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti
kamu ialah orang-orang yang hina?" Nuh menjawab: "Bagaimana aku mengetahui
apa yang telah mereka kerjakan?". Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak
lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari .Dan aku sekali-kali tidka
akan mengusir orang-orang yang beriman. Aku (ini) tidak lain melainkan pemberi
peringatan yang menjelaskan. (QS. Asy-Syuara': 111-115)
Peringatan Allah agar Nabi Nuh tidak Bersedih
Dan diwahyukan kepada Nuh , bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di
antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah
kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Hud: 36)
Doa Nabi Nuh
Maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka , dan
selamatkanlah aku dan orang-orang yang mukmin besertaku. (QS. Asy-Syuara':
118).
Maka dia mengadu kepada Tuhannya : "bahwasanya aku ini adalah orang yang
dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah (aku). (QS. Al-Qamar: 10)
Nuh berkata: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan
siang. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). (QS.
Nuh: 5-6).
Nuh berdoa : "Ya Tuhanku tolonglah aku, karena mereka mendustakan aku."(QS.
Al-Mukminun: 26)
Sesungguhnya Nuh telah menyeru kami : Maka sesungguhnya sebaik-baik yang
memperkenankan (adalah Kami).(QS. Ash-Shaffat: 75)
Pembuatan Kapal (Bahtera)
Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami , dan
janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang zalim itu ,
sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (QS. Hud: 37)
Penghancuran umat Nabi Nuh dengan cara Ditenggelamkan
Maka mereka mendustakan Nuh , kemudian kami selamatkan dia dan orang-orang
yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata
hatinya).(QS. Al-A'raf: 64).
Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. (QS. Asy-
Syuara: 120)
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di
antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun.Maka mereka ditimpa banjir
besar , dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al- Ankabut: 14)
Dibinasakannya Putera Nabi Nuh
Al-Qur'an sehubungan dengan dengan dialog yang terjadi antara Nabi Nuh dan
puteranya, pada tahap-tahap awal dari terjadinya banjir mengungkapkan:
Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung,
dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat jauh terpencil :
"Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada
bersama orang-orang yang kafir." Anaknya menjawab: "Aku akan mencari
perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!". Nuh berkata :
"Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang
Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya ; maka
jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (QS. Hud: 42-43)
Diselamatkannya Orang-Orang yang Beriman dari Banjir
Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal
yang penuh muatan.(QS. Asy-Syuara: 119).
Maka kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan kami
jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia. (QS. Al-Ankabut: 15)
Bentuk Fisik dari Banjir yang Terjadi
Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah .
Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air
itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke
atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku. (QS. Al-Qamar: 11-13)
Hingga apabila perintah Kami datang dan 'dapur'(permukaan bumi yang
memancarkan air hingga meneyebabkan timbulnya taufan) telah memancarkan
air, Kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing
binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah
terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman".
Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. Dan Nuh berkata:
"Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu
berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang". Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam
gelombang laksana gunung, dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada
di tempat jauh terpencil : "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan
janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir." .(QS. Hud: 40-42)
Lalu Kami wahyukan kepadanya : "Buatlah bahtera di bawah penilikan dan
petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan 'tannur' telah
memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap
(jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan
(akan ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku
tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan
ditenggelamkan.(QS. Al-Mukminun: 27)
Terdamparnya Perahu di Tempat yang Tinggi
Dan difirmankan: "Hai bumi tahanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,"
dan airpun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di
atas bukit Judi, dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim". (QS. Hud:
44)
I'tibar yang Diambil dari Peristiwa Banjir
Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa )nenek
moyang) kamu ke dalam bahtera, agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi
kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. (QS. Al-Haqqah:
11-12)
Pujian Allah terhadap Nabi Nuh
"Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam". Sesungguhnya
demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS.
Ash-Shaffat: 79-81)
Apakah Banjir itu Bencana Lokal Saja ataukah Global ?
Mereka yang menolak realitas terjadinya Banjir masa nabi Nuh, menopang pendirian
mereka dengan menyatakan bahwa banjir global atas seluruh dunia adalah suatu hal yang
mustahil. Bukan hanya itu, penyangkalan mereka atas terjadinya banjir yang
bagaimanapun bentuknya adalah ditujukan untuk menyerang apa yang telah
dikemukakan al-Qur'an. Menurut mereka, semua kitab yang berasal dari wahyu, termasuk
al-Qur'an, mempertahankan pendirian bahwa banjir Nuh adalah banjir yang global, dan
karenanya, seluruh berita itu adalah informasi yang keliru.
Penolakan terhadap pernyataan al-Qur'an ini tidak benar. Al-Qur'an diwahykan oleh
Allah, dan al-Qur'an ini merupakan satu-satunya kitab suci yang tidak terrubah. Al-
Qur'an memandang banjir dengan sudut pandang yang sangat berbeda dibandingkan cara
pandang Pentateuch dan legenda-legenda tentang banjir yang lain yang diriwayatkan
dalam berbagai kebudayaan. Pentateuch, nama bagi lima buku (kitab) pertama dalam
Perjanjian Lama, menyatakan bahwa banjir tersebut bersifal global, menutupi seluruh
bumi. Namun, al-Qur'an tidak memberikan keterangan seperti itu, dan sebaliknya, ayatayat
yag relevan dengan peristiwa ini membawa pada suatu kesimpulan bahwa banjir itu
hanya bersifat regional (menutupi wilayah tertentu) dan tidak menutupi seluruh bumi, dan
hanya menenggelamkan umat Nabi Nuh saja yang mereka itu telah diberi peringatan oleh
nabi Nuh dan akhirnya membangkang, sehingga mereka dihukum.
Ketika riwayat-riwayat tentang banjir dalam Perjanjian Lama dan riwayat-riwayat sejenis
dalam Al-Qur'an diuji, perbedaannya sederhana saja. Perjanjian Lama, yang telah
mengalami banyak perubahan dalam penambahan sepanjang sejarahnya, yang karenya
tidak bisa dinilai sebagai wahyu yang orisinil, menggambarkan bagaimana banjir berawal
dalam uraian sebagai berikut:
"Dan Tuhan melihat bahwa kejahatan manusia di bumi adalah besar, dan bahwa setiap
imajinasi dari pikiran-pikiran dalam hatinya hanya selalu perbuatan jahat. Dan ini
menjadikan Allah menyesali bahwa Dia telah menciptakan manusia, dan ini
menyedihkan hatiNya. Dan Tuhan berkata, "Saya akan membinasakan manusia yang
telah saya ciptakan dari permukaan bumi; kedua jenis yang ada, manusia dan binatang,
dan segala yang merayap, dan unggas-unggas di udara, yang karena telah
mengecewakanKu yang telah mencipatakan mereka. Akan tetapi, (Nabi) Nuh
mendapatkan kasih sayang di mata Tuhan" (Genesis, 6: 5-8)
Meski demikian, dalam al-Qur'an, diperlihatkan dengan jelas bahwa banjir itu tidak
meliputi seluruh dunia (bumi), tetapi hanya umat Nabi Nuh yang dihancurkan. Tidak
berbeda sebagaimana Nabi Hud diutus hanya untuk kaum 'Ad (QS. Hud: 50), Nabi Shalih
diutus untuk kaum Tsamud (QS. Hud: 61) serta seluruh Nabi kemudian
sebelumMuhammad adalah diutus hanya untuk umat mereka saja, Nabi Nuh hanya diutus
untuk umatnya dan banjir tersebut hanya menyebabkan punahnya umat Nabi Nuh;
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata):
"Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak
menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab (pada)
hari yang sangat menyedihkan. (QS. Hud: 25-26)
Mereka yang dimusnahkan adalah orang-orang yang secara total tidak menghiraukan
Proklamasi Nabi Nuh akan kerasulannya dan senantiasa menentang. Ayat-ayat yang
senada telah menggambarkan dengan cara yang cukup gamblang:
Maka mereka mendustakan Nuh , kemudian kami selamatkan dia dan orang-orang yang
bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan
ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).(QS. Al-
A'raf: 64).
Di samping itu, dalam al-Qur'an , Allah menegaskan bahwa Dia tidak akan
menghancurkan suatu komunitas masyarakat kecuali seorang rasul telah diutus kepada
mereka. Penghancuran terjadi jika seorang pemberi peringatan telah sampai kepada suatu
kaum, dan pemberi peringatan itu didustakan. Allah menyatakan hal itu dalam Surat al-
Qashash:
Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum dia mengutus di ibukota
itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah
(pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan
kezaliman. (QS. Al-Qashash: 59).
Bukanlah cara Allah untuk mengancurkan suatu kaum yang kepada mereka belum Dia
turunkan rasul. Sebagai seorang pemberi peringatan, Nuh hanya diutus untuk kaumnya
saja. Karena itu, Allah tidak menghancurkan kaum-kaum yang kepada mereka tidak Dia
utus rasul, akan tetapi Allah hanya menghancurkan umat Nabi Nuh.
Dari penyataan-pernyataan dalam al-Qur'an ini, kita bisa memastikan bahwa banjir
tersebut adalah bencana yang bersifat lokal, bukannya global (seluruh dunia). Penggalianpenggalian
yang dilakukan pada daerah-daerah arkeologis yang diperkirakan sebagai
lokasi terjadinya banjir - yang nanti akan kita bahas berikutnya- menunjukkan bahwa
banjir tersebut bukanlah sebuah peristiwa global yang mempengaruhi seluruh bumi, akan
tetapi merupakan sebuah bencana yang sangat luas yang mempengaruhi bagian tertentu
dari wilayah Mesopotamia.
Apakah Seluruh Binatang ikut Dinaikkan ke atas Perahu?
Para penfasir Bibel yakin bahwa Nabi Nuh memasukkan seluruh species binatang yang
ada di muka bumi ke atas Perahu dan binatang-binatang itu bisa selamat dari kepunahan
karena kebaikan Nabi Nuh itu. Menurut apa yang mereka yakini ini, setiap pasang dari
tiap species yang ada di muka bumi juga dibawa bersama ke atas perahu.
Mereka yang mempertahankan pernyataan itu dengan tanpa ragu harus menghadapi
kejanggalan-kejanggalan yang serius dalam berbagai hal. Pertanyaan tentang bagaimana
berbagai jenis binatang yang diangkut ke atas perahu itu diberi makan, bagaimana
mereka ditempatkan di dalam perahu itu (kandang-kandang untuk mereka), atau
bagaimana mereka dipisahkan satu dengan lainnya adalah pertanyaan-pertanyaan yang
mustahil bisa terjawab. Lagi pula, masih ada beberapa pertanyaan yang tersisa:
bagaimana binatang-binatang yang berasal dari berbagai benua (daratan) yang berbeda
bisa dibawa bersamaan - berbagai mamalia yang ada di kutub, kanguru dari Australia,
atau bison yang Aneh dari Amerika?. Juga, masih adalah berbagai pertanyaan lebih
banyak lagi, seperti, bagaimana binatang yang sangat membahayakan - yang berbisa
seperi berbagai jenis ular, kalajengking dan binatang-binatang buas - itu semua bisa
ditangkap, serta bagaimana mereka bisa bertahan padahal dipisahkan dari habitat
alamiahnya untuk suatu waktu hingga banjir itu surut?.
Ini adalah berbagai pertanyaan yang dihadapi oleh Perjanjian Lama. Di dalam al-Qur'an,
tidak ada pernyataan yang mengindikasikan bahwa seluruh species binatang di muka
bumi dinaikkan ke atas perahu. Dan sebagaimana yang telah ditegaskan sebelumnya,
banjir tersebut terjadi dalam sebuah wilayah tertentu saja, sehingga, binatang yang
dinaikkan perahu pun hanyalah yang hidup di wilayah di mana umat Nabi Nuh itu
tinggal.
Meski demikian, ini adalah bukti bahwa mustahil sekalipun hanya untuk mengumpulkan
seluruh jenis binatang yang hidup di wilayah tersebut. Sulit dipikirkan Nabi Nuh beserta
sejumlah kecil orang-orang yang beriman yang menyertainya (QS. Hud: 40) pergi
menuju ke segala penjuru untuk mengumpulan masing-masing dua ekor dari ratusan
species binatang di sekitar mereka. Bahkan, lebih mustahil lagi bagi mereka untuk
mengumpulkan berbagai tipe serangga yang hidup di wilayah mereka, serta untuk
memisahkan antara yang jantan dan betina!. Ini alasan mengapa yang lebih
memungkinkan adalah bahwa yang dikumpulkan itu hanya binatang yang bisa dengan
mudah ditangkap dan dipelihara, dan karenanya, binatang tersebut adalah binatang ternak
yang secara khusus berguna bagi manusia. Nabi Nuh agaknya memasukkan ke atas
perahu binatang binatang sejenis itu, yakni seperti, sapi, biri-biri, kuda, unggas, unta dan
sejenisnya, karena inilah binatang-binatang yang dibutuhkan untuk penyangga kehidupan
baru bagi di wilayah yang telah kehilangan sejumlah besar prasarana hidup dikarenakan
bencana banjir tersebut.
Di sini masalah penting terletak pada bahwa kebijaksanaan Ilahiah dalam perintah Allah
kepada Nabi Nuh untuk untuk mengumpulkan berbagai binatang terletak pada arahan
untuk menumpulkan binatang-binatang yang dibutuhkan untuk kehidupan baru setelah
banjir berakhir daripada untuk kepentingan mempertahankan genus berbagai binatang.
Selama banjir itu bersifat lokal, maka kepunahan berbagai jenis binatang tidak akan
mungkin terjadi. Agaknya ada kecenderungan bahwa pada masa setelah banjir, berbagai
binatang dari wilayah-wilayah lain bermigrasi ke tempat tersebut dan memadati daerah
tersebut dengan cara kehidupan lama yang pernah ada. Sehingga yang terpenting adalah
bahwa kehidupan bisa dirintis kembali begitu banjir berakhir, dan binatang-binatang yang
dikumpulkan (dan diangkut ke atas perahu) adalah dimaksudkan untuk tujuan perintisan
kehidupan seperti itu.
Berapa Tinggikah Air Banjir Tersebut?
Perdebatan lain di seputar masalah banjir itu adalah, apakah banjir itu memancar dan
menggenang sebegitu tingginya sehingga menenggelamkan gunung?. Sebagaimana telah
diberitahukan, al-Qur'an menginformasikan kepada kita bahwa perahu Nabi Nuh itu
terdampat di suati tempat yang bernama "al-Judi" setelah banjir selesai. Kata-kata "judi"
secara umum merujuk pada lokasi gunung tertentu, sedangkan kata-kata itu memiliki arti
"tempat yang tinggi atau bukit". Karenanya, hendaknya jangan dilupakan bahwa di dalam
al-Qur'an , "judi" bisa jadi tidak digunakan sebagai nama bagi gunung tertentu, akan
tetapi untuk menunjukkan bahwa perahu telah terdampar dan terhenti pada sebuah tempat
yang tinggi. Di samping itu, makna dari kata-kata "judi" yang disebutkan di atas mungkin
juga memperlihatkan bahwa air bah itu mencapai ketinggian tertentu, tetapi tidak
mencapai ketinggian puncak gunung. Dengan kata lain bisa dikatakan bahwa yang paling
memungkinkan adalah bahwa banjir itu tidak menenggelamkan seluruh bumi dan seluruh
gunung sebagaimana digambarkan dalam Perjanjian Lama, tetapi hanya menggenangi
wilayah tertentu saja.
Lokasi Banjir Nuh
Daratan Mesopotamia diduga kuat sebagai lokasi di mana banjir masa Nabi Nuh terjadi.
Wilayah ini diketahui sebagai tempat bagi peradaban tertua dalam sejarah. Lagi pula,
dengan posisinya yang berada di antara sungai Tigris dan Eufrat, tempat ini sangat
memungkinkan untuk terjadinya sebuah banjir yang besar. Di antara fakor penyebab
terjadinya banjir kemungkinan adalah bahwa kedua sungai ini airnya meluap dan
membanjiri wilayah tersebut.
Alasan kedua mengapa daerah tersebut diduga kuat sebagai tempat terjadinya banjir
adalah bukti-bukti historis. Dalam rekamana sejarah berbagai peradaban manusia yang
pernah menempati lokasi tersebut, banyak dokumen yang ditemukan telah merujuk pada
pernah terjadinya sebuah banjir, dan banjir itu dalam dokumen tersebut disebutkan terjadi
dalam sebuah pereode masa yang sama. Setelah menyaksikan pembinasaan kaum Nabi
Nuh, peradaban-peradaban tersebut agaknya merasa perlu untuk merekam dalam sejarah
mereka, bagaimana banjir itu terjadi, serta bagaimana juga akibat-akibat yang
ditimbulkan oleh banjir tersebut. Telah diketahui pula, bahwa mayoritas legenda-legenda
yang menceritakan banjir tersebut berasal dari Mesopotamia juga. Yang juga lebih
penting bagi kita adalah temuan-temuan arkeologis. Temuan ini memperlihatkan bahwa
sebuah banjir besar pernah terjadi di wilayah ini. Sebagaimana yang akan kami bahas
secara detail pada halaman-halaman berikutnya, banjir ini telah menyebabkan
tertundanya mata rantai perkembangan peradaban untuk selama jangka waktu tertentu.
Dalam penggalian-penggalian yang dilakukan, nampak jejak-jejak dari bencana dahsyat
tersingkap dari timbunan tanah.
Penggalian-penggalian yang dilakukan di wilayah Mesopotamia telah mengungkap,
bahwa berkali-kali dalam sejarah, wilayah ini menderita berbagai macam bencana
sebagai akibat dari berkali-kali banjir dan meluapnya Sungai Eufrat dan Tigris. Sebagai
misal, pada millenium kedua Sebelum Masehi (SM), pada masa Ibbi-sin, penguasa dari
bangsa Ur yang besar, yang berlokasi di sebelah selatan Mesopotamia, sebuah tahun
tertentu ditandai dengan "sesudah terjadinya sebuah banjir yang telah melenyapkan garis
batas antara surga-surga dan bumi" .1 Di sekitar tahun 1700 Sebelum Masehi (SM), pada
masa kekuasaan Hamurabi dari Babilonia, sebuah tahun dikenang sebagai sebuah masa
dimana terjadi di dalamnya insiden " hujan di kota Eshnunna yang disertai dengan
banjir".
Pada abad ke 10 SM, pada masa pemerintahan Nabu-mukin-apal, sebuah banjir terjadi di
kota Babilon.2 Setelah masa kehidupan Isa (Jesus) pada abad ke 7, 8, 10, 11, dan 12,
banjir-banjir yang dinilai bersejarah (penting) terjadi dalam wilayah tersebut. Dalam abad
ke 20, kejadian yang sama terjadi pada tahun 1925, 1930, dan 1954.3 Jelaslah sudah,
bahwa wilayah ini telah menjadi obyek bagi terjadinya bencana banjir, dan sebagaimana
ditunjukkan dalam al-Qur'an, bahwa rupa-rupanya sebuah banjir yang massif
telah menghancurkan dan membinasakan sebuah komunitas manusia secara
keseluruhan
Catatan
1.Max Mallowan, Nuh's Flood Reconsidered, Iraq:XXVI-2, 1964, hlm.66
2. Ibid.
3. Muazzez Ilmiye Cig, Kuran, Incil ve Tevrat'in Sümer'deki Kökleri (The Roots of Qur'an,
Old Testament and New Testament in Sumer), 2.b., Istanbul: Kaynak, 1996

Tidak ada komentar:

Posting Komentar