Agama dan Kebudayaan yang Menceritakan Banjir Nabi Nuh
Peristiwa Banjir Nuh tersebut disebarluaskan ke hampir semua manusia (kaum) lewat
lesan para Nabi yang menyampaikan Agama yang Benar, tetapi akhirnya cerita itu
menjadi legenda-legenda berbagai kaum-kaum itu, dan kisah itu mengalami penambahanpenambahan
dan juga pengurangan-pengurangan dalam periwayatannya.
Allah telah menyampaikan kisah tentang Banjir Nuh kepada manusia melalui para rasul
dan kitab-kitab yang Dia turunkan kepada berbagai masyarakat agar hal itu menjadi
peringatan atau permisalan. Dalam setiap masa teks atau kitab-kitab tersebut telah
dirubah dari aslinya, dan penuturan tentang banjir Nuh itu juga telah ditambah-tambahai
dengan unsur-unsur yang mistis. Hanyalah al-Qur'an lah sumber yang masih memiliki
kesamaan yang mendasar dengan temuan-temuan dan observasi empiris. Hal ini hanya
tidak lain karena Allah menjaga al-Qur'an dari perubahan, meski hanya sebuah perubahan
kecil sekalipun, dan Dia tidak mengizinkan al-Qur'an itu terkurangi. Menurut padangan
al-Qur'an berikut ini "Kami telah dengan tanpa keraguan menurunkan risalah, dan Kami
dengan pasti akan menjaganya (dari pengurangan)"(QS.Al-Hijr: 9), al-Qur'an berada di
bawah pengawasan khusus Allah.
Dalam bagian terakhir dari bab ini yang berkaitan dengan banjir, kita akan melihat,
bagaimana insiden banjir itu diilustrasikan -meski telah terjadi manipulasi/pengurangan -
dalam berbagai kebudayaan dan di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Banjir Nabi Nuh dalam Perjanjian Lama
Kitab yang sebenarnya diwahyukan kepada nabi Musa adalah Taurat. Hampir semua sisasisa
wahyu dan buku-buku yang berkaitan dengan Injil "Pentateuch (lima buku pertama
dari Kitab perjanjian Lama)", seiring dengan berjalannya waktu, telah lama kehilangan
hubungannya dengan wahyu yang asli. Bahkan, kemudian bagian yang paling meragukan
tersebut telah diubah oleh para rabi (pendeta) dari masyarakat Yahudi. Sama halnya
dengan wahyu-wahyu yang dikirimkan kepada nabi-nabi lain yang diutus kepada Bani
Israel setelah nabi Musa, juga mendapat perlakuan yang sama dan mengalami perubahan
yang luar biasa. Inilah sebab yang menjadikan kita untuk menyebut buku-buku itu
sebagai "Pentateuch yang telah dirubah (Altered Pentateuch)" dikarenakan telah
kehilangan hubungannya dengan aslinya, membawa kita untuk menganggapnya lebih
hanya sebagai bikinan manusia semata yang berupaya untuk mencatat sejarah suku
bangsanya daripada menganggapnya sebagai sebuah kitab suci. Tidaklah mengherankan
jika ciri-ciri dari Pentateuch yang telah dirubah itu dan berbagai kontradiksi yang
terkandung didalamnya bisa dengan mudah terungkap dalam pemaparannya terhadap
cerita tentang nabi Nuh meskipun mempunyai berbagai kesaman dalam sebagian yang
diceritakan dengan al-Qur'an.
Menurut Perjanjian Lama, Tuhan memerintahkan kepada Nuh bahwa semua orang kecual
para pengikutnya akan dihancurkan karena bumi telah penuh dengan berbagai macam
tindak kekerasan. Dan akhirnya Tuhan memerintahkan mereka untuk membuat sebuah
Perahu dan menyebutkan secara detail bagaimana cara mengerjakannya. Tuhan juga
mengatakan kepadanya (Musa) untuk membawa keluarganya, tiga orang anaknya, istriistri
anaknya, dua (sepasang) dari setiap mahkluk hidup dan berbagai persedian bahan
pangan.
Tujuh hari kemudian, ketika waktu banjir telah tiba, semua sumber yang ada di dalam
tanah mendadak terbuka lebar, pintu-pintu surga terbuka dan sebuah banjir besar
menenggelamkan semuanya. Hal ini berlangsung selama empat puluh hari dan empat
puluh malam. Kapal yang dtumpangi Nuh beserta pengikutnya berlayar diatas air yang
menutupi semua pegunungan dan dataran tinggi. Mereka yang berada di dalam kapal
bersama Nuh diselamatkan dan mereka yang tidak ikut ke dalam kapal dan terbawa oleh
air bah tersebut ditenggelamkan hingga mati. Hujan berhenti setelah banjir terjadi, yang
terjadi selama 40 hari 40 malam, dan airpun mulai surut 150 hari kemudian.
Setelah berada pada hari ke tujuh belas dari bulan ke tujuh, kapal tersebut berhenti di
gunung Ararat (Agri). Nuh memerintahkan seekor merpati untuk melihat apakah air telah
benar-benar surut atau tidak, dan ketika akhirnya merpati tersebut tidak kembali lagi, ia
menyadari bahwa air telah benar-benar surut. Tuhan memerintahkannya untuk keluar dari
kapal dan menyebar ke seluruh penjuru bumi.
Salah satu kontradiksi yang terdapat dalam kisah yang terdapat dalam perjanjian Lama ini
adalah; berdasarkan ringkasan ini, dalam versi tulisan yang "berbau Yahudi", dikatakan
bahwa Tuhan memerintahkan kepda Nuh untuk membawaa tujuh dari binatang-binatang
tersebut, jantan dan betina, Ia (Tuhan) menyebut-Nya "clean(halal)" dan hanya pasanganpasangan
binaang-binaang tersebut Ia sebut "unclean(haram)". Hal ini bertentangan
dengan teks dibawah ini. Disamping itu dalam Perjanjian Lama, jangka waktu terjadinya
banjir juga berbeda. Menurut versi yang berbau Yahudi itu, peristiwa naiknya air akibat
banjir terjadi selama 40 hari, sedangkan berdasarkan pendapat orang-orang awam,
dikatakan terjadinya selama 150.
Sebagian dari Perjanjian Lama yang menceritakan tentang banjir Nuh mengatakan ; Dan
Tuhan berkata kepada Nuh, akhir dari semua jasad manusia adalah menghadap
kepadaKu; dan karena bumi telah penuh dengan kekerasan; maka lihatlah Aku akan
menghancurkan mereka bersama dengan bumi. Maka kamu buatlah perahu dari kayu
gopher;…..
..Dan, lihatlah meskipun Aku memberikan banjir yang membanjiri seluruh bumi untuk
menghancurkan semua manusia, dimana semua yang bernafas, dari bawah surga;
(dan)setiap yang ada dibumi akan mati. Namun bersamamu Aku akan menetapkan
janjiKu; dan kamu akan masuk ke dalam perahu, kau dan anakmu, dan istrimu, dan istriistri
anak-anak mu. Dan semua mahkluk hidup, dua (sepasang) dari setiap mahkluk kamu
bawa ke dalam perahu, untuk tetap menjaga mereka hidup bersamamu; mereka haruslah
jantan dan betina…
…demikianlah yang dilakukan Nuh; berdasrkan semua yang Tuhan perintahkan
kepadanya. (Genesis 6:13-22).
Dan perahupun berhenti pada bulan ke tujuh, pada hari ke tujuhbelas dari bulan
tersebut di atas gunung Ararat. (Genesis 8:4).
Setiap binatang yang halal kamu bawa sebanyak tujuh ke dalam perahu jantan dan
betinanya, dan biatang yang tidak halal kamu bawa sebanyak dua jantan dan
betinanya, unggas juga kamu ambil dari udara sebanyak tujuh, jantan dan
betinanya, untuk menjaga agar bebih tetap hidup diseluuh penjuru bumi (Genesia
7:2-3).
Dan Aku akn menepati janjiKu terhadapmu, dan semua orang-orang yang lain
akan ditenggelamkan oleh air banjir, dan banjir akan lebih banyak lagi yang akan
menghancurkan dunia (Genesis, 9:11).
Berdasarkan kepada Perjanjian Lama, berkenaan dengan keputusan yang menyatakan
bahwa "semua mahkluk hidup yang ada di dunia akan mati" dalam sebuah banjir yang
menggenagi seluruh permukaan bumi, maka semua orang dihukum, dan yang selamat
hanyalah mereka yang berlayar dengan perahu bersama Nuh.
Banjir Nuh dalam Perjanjian Baru
Perjanjian Baru yang kita miliki saat ini adalah bukan sebuah Kitab Suci dalam arti kata
yang sebenarnya. Terdiri dari perkataan dan perbuatan dari 'Isa (jesus), Pernanjian Baru
dimulai dengan empat "Gospels (ajaran)" yang ditulis satu abad setelah kematian 'Isa oleh
orang-orang yang belum pernah melihatnya atau berteman dengan Isa; mereka (para
penulis) ini bernama Matius, Markus, Lukas dan Johanes . Terdapat berbagai kontradiksi
yang sangat gamblang diantara keempat gospel (ajaran) ini. Khususnya Gospel of John
(Johanes) yang sangat memiliki banyak perbedaan dengan dari ketiga yang lain (Synoptic
Gospel), meski dalam beberapa tingkat tertentu memiliki kesamaan. Buku-buku lain dari
Perjanjian Baru terdiri dari surat-surat yang ditulis oleh Apostle (utusan/rasul) dan Saul
dari Tarsus ( yang kemudian disebut dengan Saint Paul) menyebutkan perbuataan setelah
kematian Isa.
Namun demikian Perjanjian Baru yang terdapat saat ini bukan lagi merupakan sebuah
naskah suci namun lebih merupakan sebuah buku semi-sejarah semata.
Dalam Perjanjian Baru, banjir Nuh disebutkan secara singkat sebagai berikut; Nuh diutus
sebagai seorang pembawa pesan kepada sebuah masyarakat yang tidak patuh dan tersesat,
namun kaumnya tidak mau mengikutinya dn meneruskan penyimpangan mereka,
kemudian Allah menimpakan kepada mereka yang menolak keimanan dengan sebuah
peristiwa banjir dan menyelamatkan Nuh dan para pengikutnya dengan menempatkan
mereka ke dalam perahu. Beberapa bab dri perjanjian Baru yang berkaitan dengan hal ini
adalah sebagai berikut;
Tetapi, pada masa Nabi Nuh, dan juga kedatangan seorang anak laki-laki. Dan
pada hari-hari di mana mereka sebelum datangnya banjir, mereka makan dan
minum, mereka menikah dan saling memberi dalam pernikahan itu, hingga
datanglah suatu waktu ketika Nuh masuk ke dalam perahu, dan mengertilah dia
tidak lebih hingga datangnya banjir, dan dia membawa mereka semua menjauh,
demikian juga dengan datangnya seorang anak lelaki itu. (Matius, 24:37-39).
Dan terpisah, bukan di bumi yang telah tua, tetapi selamatlah Nuh sebagai orang
yang ke delapan, seorang penyeru kesalehan, membawa dalam banjir ke atas dunia
yang tidak taat pada Tuhan. (Peter kedua,2: 5)
Dan sebagaimana pada hari-hari masa Nuh, dan seharusnya juga juga pada masa
seorang anak laki-laki. Mereka makan, minum, menikahi isteri, mereka saling
diberi dalam perkawinan, hingga datanglah suatu hari ketika Nuh memasuki
perahu, dan banjir datang, dan menghancurkan mereka semua. (Lukas, 17: 26-27).
Di saat mereka itu ingkar (tidak mentaati), ketika suatu masa Tuhan lama
menderita menunggu di masa Nuh, sembari perahu dipersiapkan, dalam jumlah
beberapa, delapan jiwa diselamatkan oleh air. (Peter pertama, 3:20).
Dikarenakan mereka mengabaikan, bahwa dengan kata Tuhan surga-surga
menjadi tua, dan bumi mempertahankan air dan berada di dalam air: Di mana
bumi kemudian, diluapi dengan banjir, dibinasakan. (Peter kedua,3:5-6).
Peristiwa Terjadinya Banjir dalam Kebudayaan Lain Dalam Kebudayaan Sumeria
Tuhan/ Dewa yang bernama Enlil berkata kepada suatu kaum bahwa tuhan yang lain
ingin menghancurkan umat manusia, namun ia sendiri berkenan untuk meyelamatkan
mereka. Pahlawan dalam kisah ini adalah Ziusudra, raja yang taat kepada raja negeri
Sippur. Tuhan Enlil menyuruh Ziusudra apa yang harus dilakukan untuk bisa selamat dari
banjir. Naskah yang berkaitan dengan pembuatan kapal tersebut telah hilang, namun
fakta bahwa bagian ini pernah ada, diungkapkan dalam bagian yang menyebutkan
bagaimana Ziusudra diselamatkan. Berdasarkan versi bangsa Babylonia tentang banjir,
bisa disimpulkan bahwa dalam versi bangsa Sumeria pun, tentulah terdapat perincian
yang lebih luas secara utuh tentang kejadian tersebut, tentang sebab-sebab terjadinya
banjir dan bagaimana perahu tersebut dibuat.
Dalam Kebudayaan Babilonia
Ut-Napishtim adalah persamaan tokoh bangsa Babilonia terhadap pahlawan dalam
peristiwa banjir dalam kisah bangsa Sumeria yaitu Ziusudra. Tokoh penting yang lain
adalah Gilgamesh. Menurut legenda, Gilgamesh memutuskan untuk mencari dan
menemukan para leluhurnya untuk mengupayakan rahasia kehidupan yang abadi. Ia
melakukan sebuah perjalanan yang menentang bahaya dan pebuh dengan kesulitan. Ia
diperintahkan supaya melakukan sebuah perjalan dimana ia harus melewati "Gunung
Mashu dan air kematian" dan sebuah perjalanan yang hanya dapat diselesaikan oleh
seorang anak tuhan bernama Shamash. Namun Gilgamesh tetap dengan gagah berani
melawan semua bahaya selama perjalanan dan akhirnya berhasil mencapai Ut-Napishtim.
Naskah ini dipotong/selesai pada titik dimana terjadi pertemuan antara Guilgamesh dan
Ut-Napishtim, dan ketika akhirnya menjadi jelas, Ut-Napishtim bekata kepada Gilgamesh
bahwa "para tuhan hanya menyimpan rahsia kematiandan kehidupam untuk diri mereka
sendiri" (yang mereka tidak akan memberikannya kepada manusia). Atas jawaban ini
Gilgamesh bertanya kepada Ut-Napishtim bagaimana ia dapat memperoleh keabadian;
dan Ut-Napishtim menceritakan kepadanya kisah tentang banjir sebagai jawaban atas
pertanyaannya. Banjir tersebut juga diceritakan dalam kisah "duabelas meja (twelve
tables) " yang terkenal dalam epik tentang Gilgamesh.
Ut-Napishtim memulainya dengan mengatakan bahwa kisah yang akan diceritakan
kepada Gilgamesh adalah merupakan"sesuatu yang rahasia, sebuah rahasia dari tuhan". Ia
berkata bahwa ia dari kora Shuruppak, kota tertua diantara kota-kota di daratan Akkad.
Berdasarkan ceritanya, tuhan "Ea" telah menyerukan kepaanya melalui tembok gubuknya
dan mengumumkan bahwa tuhan-tuhan telah memutuskan untuk menghancurkan semua
benih kehidupan dengan perantaraan sebuah banjir; namun alasan tentang keputusan
mereka tidaklah diterangkan dalam cerita banjir bangsa Babylonia sebagaimana telah
diterangkan dalam kisah banjir bangsa Sumeria. Ut-Napishtim berkata bahwa Ea telah
menyuruhnya untuk membuat sebuah perahu dimana ia harus membawa serta dan
membwa "benih-benih dari semua makhluk hidup". Ea memberitahukan kepadanya
tentang ukuran dan bentuk dari kapal tersebut, berdasarkan hal ini, lebar, panjng dan
ketinggian dari kapal sama satu sama dengan yang lain. Badai besar menjungkirbalikan
semuanya dalam waktu enam hari dan enam malam. Pada hari yang ke tujuh, badai mulai
reda. Ut-Napishtim melihat bahwa diluar kapal, "telah berubah menjadi Lumpur yang
lengket'. Dan sang kapalpun berhenti di gunung Nisir.
Menurut catatan bangsa Sumeria dan Babylonia, Xisuthros atau Khasisatra diselamatkan
dari banjir oleh sebuah kapal dengan panjang 925 meter, bersama dengan keluarga dan
teman-temannya dan bersama burung-burung dan berbagai jenis binatang. Hal ini
dikatkan bahwa "air terbentang menuju ke surga, lautan menutupi pantai dan sungai
meluap dari dasar sungai". Dan kapalpun akhirnya berhenti di gunung Corydaean.
Menurut cattan bangsa Babilonia-Syria, Ubar Tutu atau Khasisatra diselamatkan bersama
dengan keluarga dan pembantunya, umatnya dan binatang-binatang dalam sebuah kapal
dengan lebar 600 cubits (ukuran panjang), tinggi dan lebarnya 60 cubit. Banjir tersebut
berlangsung selama 6 hari dan 6 malam. Ketika kapal tersebut menapai gunung Nizar,
merpati yang dilepaskan kembali ke kapal sedangkan burung gagak yang sama-sama
dilepaskan tidak kembali.
Berdasarkan beberapa catatan bangsa Sumeria, Asyiria dan Babylonia, Ut-Napishtim
bersama dengan keluarganya selamat dari banjir yang terjadi selama 6 hari dan 6 malam.
Hal ini dikatakan " Pada hari ke tujuh Ut-napishtim melihat keluar. Ternyata sangatlah
sepi. Orang telah berubah menjadi Lumpur". Ketika kapal berhenti di gunung Nizar, Utnapishtim
menerbangkan seekor burung merpati, seekor ggak dan seekor buurng pipit.
Burung gagak tinggal untuk memakan bangkai, sedangkan dua burung yang lain tidak
kembali.
Dalam Kebudayaan India
Dalam epic dari India berjudul Shatapata Brahmana dan Mahabharata, seseorang yang
disebut dengan Manu diselamatkan dari banjir bersama dengan Rishiz. Menurut legenda ,
seekor ikan yang ditangkap oleh Manu dan ikan tersebut diselamatkannya, tiba-tiba
berubah menjadi besar dan mengatakan kepadanya untuk membuat sebuah perahu dan
mengikatkan ke tanduknya. Ikan ini dilambangkan sebagai pengejawantahan dari dewa
Wisnu. Ikan tersebut menuntun kapal mengarungi ombak yang besar dan membawanya
ke utara ke gunung Hismavat.
Dalam Kebudayaan Wales
Menurut legenda Welsh (dari Wales, dari Celtic di Inggris), dikatakan bahwa Dwynwen
dan Dwfach selamat dari bencana yang besar dengan sebuah kapal. Ketika banjir yang
amat mengerikan yang terjadi dari meluapnya Llynllion yang disebut dengan Danau
Gelombang. Setelah selamat akhirnya mereka berdua mulai menghuni kembali daratan
Inggris.
Dalam Kebudayaan Scandinavia
Legenda Nordic Edda melaporkan tentang Bergalmir dan istriya selamat dari banjir
dengan sebuah kapal yang besar.
Dalam Kebudayaan Lithuania
Dalam legenda Lithuania, diceritakan bahwa beberapa pasang manusia dan binatang
diselamatkan dengan berlindung di puncak permukaan gunung yang tinggi. Ketika angin
dan banjir yang berlangsung sela dua hari dan dua belas malam tersebut mulai mencapai
ketinggian gunung yang hampir akan menenggelamkan yang ada diatas puncak gunung
tersebut, sang Pencipta melemparkan sebuah kulit kacang raksasa kepada mereka.
Sehingga mereka yang ada di gunung tersebut diselamatkan dari bencana dengan berlayar
didalam kulit kacang raksasa ini.
Dalam Kebudayaan China
Sumber di bangsa China menghubungkan cerita ini dengan seseorang yang dipanngil
denangan nama Yao bersama dengan tujuh orang lain atau Fa li bersama dengan istri dan
anak-anaknya, diselamatkan dari bencana banjir dan gempa bumi dalam sebuah perahu
layar. Disini dikatakan "dunia semuanya berada dalam kehancuran. Air menyembur dan
menutupi semua tempat". Akhirnya, airpun surut.
Banjir Nuh dalam Mitologi Yunani
Dewa Zeus memutuskan untuk menghancurkan orang-orang yang telah menjadi semakin
bertindak sesat setiap saat, dengan sebuah banjir. Hanya Deucalion dan istrinya Pyrrha
yang diselamatkan dari banjir, karena ayah Deucalion sebelumnya telah menyarankan
anaknya untuk membuat sebuah kapal. Pasangan ini turun ke gunung Parnassis pada hari
ke sembilan setelah turun dari kapal.
Semua legenda ini mengindikasikan sebuah realitas sejarah yang konkret. Dalam sejarah
setiap masyarakat/kaum menerima pesan dan risalah, setiap insan menerima wahyu Suci,
sehinga banyak kaum yang telah belajar tentang Banjir. Sayangnya, sebagaimana kaumkaum
yang berpaling dari inti wahyu Suci, peristiwa banjir besar itupun mengalami
banyak perubahan dan menjadi bermacam legenda dan mitos.
Satu-satunya sumber dimana kita dapat menemukan kisah sejati tentang Nuh dan kaum
yang menolaknya adalah di dalam Al Qur'an, yang merupakan satu-satunya sumber yang
belum (dan tidak akan) mengalami perubahan sebahai Wahyu suci.
Al Qur'an menyediakan bagi kita keterangan yang benar tidak hanya tentang banjir Nuh
namun juga tentang kaum dan peristiwa sejarah lainnya, dalam bab-bab berikut kita akan
melihat kembali kisah-kisah sejati ini.
KEHIDUPAN NABI IBRAHIM
Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani akan
tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Allah) dan
sekali-kali bukanlah dia dari golongan orang yang musyrik.Sesungguhnya
orang yang paling dekat kepaa Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya
dan Nabi ini (Muhammad) serta orang-orang yan beriman (kepada
Muhammad), dan Allah adalah pelindung semua orangh-orang yang beriman.
(QS Ali Imran 67-68).
Nabi Ibrahim (Abraham) sering disebutkan di dalam Al Qur'an dan mendapatkan tempat
yang istimewa di sisi Allah sebagai contoh bagi manusia. Dia menyampaikan kebenaran
dari Allah kepada umatnya yang menyembah berhala, dan dia mengingatkan mereka agar
takut kepada Allah. Umat nabi Ibrahim tidak mematuhi perintah itu, bahkan sebaliknya
mereka menentangnya. Ketika penindasan yang semakin meningkat dari kaumnya, nabi
Ibrahim pindah ke mana saja bersama istrinya, bersama dengan nabi Lut dan mungkin
dengan bebeapa orang lain yang menyertai mereka.
Nabi Ibrahim adalah keturunan dari nabi Nuh. Al qur'an juga mengemukakan bahwa dia
juga mengikuti jalan hidup (diin) yang diikuti Nabi Nuh.
"Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam". Sesungguhnya
demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman.
Kemudian Kami tengelamkan orang-orang yang lain. Dan sesungguhnya
Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh).(QS Ash- Shafaat: 79-83).
Pada masa Nabi Ibrahim, banyak orang yang menghuni dataran Mesopotamia dan di
bagian Tengah dan Timur dari Anatolia tinggal orang-orang yang menyembah surgasurga
dan bintang-bintang. Tuhan yang mereka anggap paling penting adalah "Sin" yaitu
Dewa Rembulan. Tuhan mereka ini dipersonifikasikan sebagai seorng manusia yang
berjenggot panjang, memakai pakaian panjang membawa rembulan berbetuk bulan sabit
diatasnya. Lagian, orang -orang tersebut membuat hiasan gambar-gambar timbul dan
pahatan-pahatan (patung) dari tuhan mereka itu dan itulah yang mereka sembah. Hal ini
merupakan system kepercayaan yang tersebar luas ketika itu, yang mendapatkan tempat
persemaiannya di Timur Dekat (Near East), dimana keberadaannya terpelihara dalam
jangka waktu yang lama. Orang-orang yang tinggal di wilayah tersebut terus saja
menyembah tuhan-tuhan tersebut hingga sekitar tahun 600 M. Sebagai akibat dari
kepercayaan itu, banyak bangunan yang dikenal dengan nama "ziggurat" yang dulu
dipakai sebagai observatorium (tempat penelitian bintang-bintang) sekaligus sebagai kuil
tempat peribadatan yang dibangun di daerah yang membentang sejak dri Mesopotamia
hingga ke kedalaman Anatolia, disinilah beberapa tuhan,terutama dewa(i) Rembulan
yang bernama "Sin" disembah oleh orang-orang ini. 1
Kepercayaan yang hanya bisa ditemukan dalam penggalian arkeologis yang dilakuan saat
ini, telah disebutkan dalam Al Qur'an. Sebagaimana disebutkan dalam Al Qur'an, Ibrahim
menolak penyembahan tuhan-tuhan tersebut dan berpegang teguh kepada Allah saja,
satu-satunya Tuhan yang sebenarnya. Dalam Al Qur'an, perjalanan hidup Ibrahim
digambarkan sebagai berikut :
Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: "Pantaskah
kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?. Sesungguhnya aku
melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata. Dan demikianlah Kami
perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdpat) di
langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orangorang
yang yakin. Ketika malah telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang
(lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetpi tatkala bintang itu tenggelam dia
berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam". Kemudian tatkala dia
melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu
terbenam dia berkata : "Sesungguhnya jika Tuhnaku tidak memberikan
petunjuk kepadakum pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat". Kemudian
tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah tuhanku, ini lebih
besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata : "Hai kaumku,
sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.
Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan
langit dan b umi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku
bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.(QS. Al-An'an:
74-79)
Dalam al Qur'an, tempat kelahiran Ibrahim dan tempat di mana dia tinggal tidak
dikemukakan dengan terperinci. Tetapi diindikasikan bahwa Ibrahim dan Lut tinggal di
tempat yang saling berdekatan satu sama lain dan malaikat yang diutus kepada umat nabi
Lut juga mendatangi Ibrahim dan memberitahukan pada istrinya suatu berita gembira
tentang bayi laki-laki (yang dikandungnya), sebelum para malaikat itu pergi melanjutkan
perjalanan mereka menuju nabi Lut.
Cerita penting tentang Nabi Ibrahim dalam al Qur'an yang tidak disebutkan dalam
Perjanjian Lama adalah tentang pembangunan Ka'bah. Dalam Al Qur'an, kita diberitahu
bahwa Ka'bah dibangun oleh Ibrahim dan putranya Ismail. Sekarang ini, satu-satunya hal
yang diketahui oleh ahli sejarah tentang Ka'bah adalah bahwa Ka'bah merupakan tempat
yang suci sejak masa yang sangat tua. Adapun penempatan berhala-berhala pada Ka'bah
selama masa jahiliyah berlangsung sampai diutusnya Nabi Muhammmad, dan itu
merupakan penyimpangan dan kemunduran atas agama suci Ilahi yang pernah
diwahyukan kepada Nabi Ibrahim.
Ket.Gambar hal 36. (Atas : Pada masa Nabi Ibrahim, agama politheisme menyebar ke
seluruh wilayah Mesopotamia. Sang Dewa rembulan "Sin" salah satu berhala yang paling
penting. Orang-orang membuat patung-patung dari tuhan-tuhan mereka dan
menyembahnya. Disebelah tampak patung sin. Simbul bulan sabit dapat terlihat dengan
jelas pada dada patung tersebut).
(Bawah: Ziggurat yang digunakan baik sebagai kuil dan observatory perbintangan yang
dibangun dengan teknik yang paling maju ada masa itu. Bintang, rembulan dan matahari
menjadi objek utama dari penyembahan dan langi memiliki hal yang sangat penting. Di
sebelah kiri dan bawah adalah ziggurat utama dari bangsa Mesopotamia.
Pada masa Nabi Ibrahim,
agama politeisme
menyebar di wilayah
Mesopotamia. Sang Dewa
Bulan “Sin”, merupakan
salah satu berhala yang
paling penting. Orangorang
membuat patung
dari tuhan-tuhan mereka
dan menyembahnya. Di
sebelah tampak patung
Sin. Bentuk bulan sabit
terlihat jelas pada dada
patung tersebut. Zigurat,
yang digunakan baik
sebagai kuil dan tempat
pengamatan bintang,
merupakan bangunan
yang dibuat dengan
teknik paling maju pada
masa itu. Bintang, bulan
dan matahari menjadi
objek utama
penyembahan dan
karenanya, langit
merupakan hal sangat
penting. Di sebelah kiri
dan bawah adalah zigurat
utama bangsa
Mesopotamia.
Ibrahim Dalam Perjanjian Lama
Perjanjian Lama kemungkinan besar merupakan sumber paling detail dalam hal-hal yang
berkenaan dengan Ibrahim, meskipun banyak diantaranya yang mungkin tidak bisa
dipercaya. Menurut pembahasan dalam perjanjian lama, Ibrahim lahir sekitar 1900 SM di
kota Ur, yang merupakan salah satu kota terpenting saat itu yang berlokasi di Timur
Tengah dataran Mesopotamia. Pada saat lahir, Ibrahim tidak (belum) bernama "Ibrahim",
tetapi "Abram". Namanya kemudian kemudian dirubah oleh Allah (YHWH).
Pada suatu hari, menurut Perjanjian Lama, Tuhan meminta Ibrahim untuk mengadakan
perjalanan meninggalkan negeri dan masyarakatnya, menuju ke suatu negeri yang tidak
pasti dan memulai sebuah masyarakat baru di sana. Abram pada usia 75 tahun
mendengarkan seruan/pangilan itu dan melakukan perjalanan bersama istrinya yang
mandul yang bernama Sarai - yang kemudian dikenal dengan nama "Sarah" yang berarti
puteri raja - dan anak dari saudaranya yang bernama Lut. Dalam perjalanan menuju ke
"Tanah yang Terpilih (Chosen Land)" mereka singgah/tingal di Harran untuk sementara
waktu dan kemudian melanjutkan perjalanan mereka. Ketika mereka sampai di tanah
Kanaan yang djanjikan oleh Allah kepada mereka, mereka diberikan wahyu oleh Allah
berupa berupa pemberiahuan bahwa tempat tersebut secara khusus dipilihkan oleh Allah
buat mereka dan dianugerhkan buat mereka. Ketika Abram mencapai usia 99 tahun, dia
membuat perjanjian dengan Allah dan namanya kemudian dirubah menjadi Ibrahim
(Abraham). Dia meninggal pada usia 175 tahun dan dikubur di gua Macpelah yang
berdekatan dengan kota Hebron (e l-Kalil) di West Bank (tepi barat)yang hari ini wilayah
tersebut di bawah penguasan Israel. Tanah tersebut sebenarnya dibeli oleh Ibrahim
dengan sejumlah uang dan itu merupakan kekayaannya dan keluarganya yang pertama di
Tanah Yang Dijanjikan itu (Promise Land).
Tempat Kelahiran Ibrahim Menurut Perjanjian Lama
Dimanakah tempat dilahirkannya Ibrahim, tetaplah merupakan sebuah isu yang
diperdebatkan. Orang Kristen dan Yahudi menyatakan bahwa Ibrahim dilahirkan di
sebelah Selatan Mesopotamia, pemikiran yang lazim dalam dunia Islam adalah bahwa
tempat kelahiran nya adalah di sekitar Urfa-Harran. Beberapa penemuan baru
menunjukkan bahwa thesis dari kaum Yahudi dan Kristen tidaklah menyiratkan
kebenaran yang seutuhnya.
Orang Yahudi dan Kristen menyandarkan pendapat mereka pada Perjanjian Lama, karena
dalam Perjanjian lama tersebut, Ibrahim dikatakan telah dilahirkan di kota Ur sebelah
Selatan Mesopotamia setelah Ibrahim lahir dan dibesarkan di kota ini, dia dcieritakan
telah menempuh sebuah perjalanan menuju Mesir, dan dalam perjalanan tersebut mereka
melewati suatu tempat yang dikenal dengan nama Harran di wiayah Turki.
Meskipun demkian, sebuah manuskrip Perjanjian Lama yang ditemukan baru-baru ini,
telah memunculkan keraguan yang serius tentang kesahihan/validitas dari informasi di
atas. Dalam manuskrip yang ditulis dalam bahasa Yunani yang dibuat sekitar sekitar abad
ketiga SM, dimana manuskrip tersebut diperhitungkan sebagai salinan yang tertua dari
Perjanjian Lama, juga nama tempat "Ur" tidak pernah disebutkan. Hari ini banyak
peneliti Perjanjian Lama yang menyatakan bahwa kata-kata "Ur" tidak akurat atau bahwa
Ibahim tidak dilahirkan di kota Ur dan mungkin juga tidak pernah mengunjungi
daerah/wilayah Mesopotamia selama hidupnya.
Disamping itu, nama-nama beberapa lokasi serta daerah yang disebutkan itu, telah
berubah karena perkembangan jaman. Pada saat ini dataran Mesopotamia biasanya
merujuk kepada tepi sungai sebelah selatan dari daratan Irak, diantara sungai Efrat dan
Tigris. Lagipula, dua milinium (2000 tahun) sebelum kita, daerah Mesopotamia
digambarkan sebagai sebuah daerah yang letaknya lebih ke Utara, bahkan lebih jauh ke
autara sejauh Harran, dan membentang sampai ke daerah yang saat ini merupakan
daratan Turki. Karena itulah, bila sekalipun kita menerima pendapat bahwa "Dataran
Mesopotamia" yang disebutkan dalam Perjanjian Lama, tetap saja akan terjadi misleading
(keliru) untuk berpikir bahwa Mesopotamia dua millennium yang lebih awal dan
Mesopotamia hari ini adalah sebuah tempat yang persis sama.
Banhkan seandainya juga ada keraguan serius dan ketidaksepakatan tentang kota Ur
sebagai tempat kelahiran Ibrahim, tetapi ada sebuah pandangan umum yang disetujui
yaitu tentang fakta bahwa Harran dan daerah yang melingkupinya adalah tempat dimana
Nabi Ibrahim hidup. Lebih dari itu, peneliltian singkat yang dilakukan terhadap isi
Perjanjian Lama tersebut memunculkan beberapa informasi yang mendukung pandangan
bahwa tempat kelahiran Nabi Ibrahim adalah Harran. Sebagai contoh di dalam Perjanjian
Lama, daerah Harran ditunjuk sebagai "daerah Artam" (Genesis, 11:31 dan 28:10).
Disebutkan bahwa orang yang datrang dari keluarga Ibrahim adalah "anak-anak dari
seorang Arami" (Deutoronomi, 26:5). Identifikasi penyebutan Ibrahim dengan sebutan
"seorang Arami" menunjukkan bahwa beliau (Ibrahim) melangsungkan kehidupannya di
daerah ini.
Dalam berbagai sumber agama Islam, terdapat bukti yang kuat bahwa tempat kelahiran
Ibrahim adalah Harran dan Urfa. Di Urfa yang disebut dengan "kota para Nabi" ada
banyak cerita dan legenda tentang Ibrahim.
Mengapa Perjanjian Lama Dirubah?.
Perjanjian Lama dan Al Qur'an dalam mengungkapkan kisah tentang Ibrahim, tampaknya
hampir-hampir menggambarkan dua orang sosok Nabi yang berbeda, yang bernama
Abraham dan Ibrahim. Dalam Al Qur'an, Ibrahim diutus sebagai rasul bagi sebuah kaum
penyembah berhala. Kaum Ibrahim tersebut menyembah surga-surga, bintang-bintang
dan rembulan serta berbagai sembahan lain. Dia berjuang melawan kaumnya dan selalu
berusaha untuk mencoba agar mereka meninggalkan kepercayaan-kepercayaan tahayul
dan secara tidak terhindarkan, hal; itu juga telah membangkitkan nyala api permusuhan
dari seluruh masyarakatnya bahkan termasuk ayahnya sendiri.
Sebenarnya, tidak ada satupun dari hal yang disebutkan diatas diceritakan dalam
Perjanjian Lama. Dilemparkannya Ibrahim ke dalam api, bagaimana Ibrahim
menghancurkan berhala-berhala yang disembah oleh masyarakatnya, tidaklah disebutkan
dalam Perjanjian Lama. Secara umum Ibrahim digambarkan sebagai nenek moyang
bangsa Yahudi dalam Perjanjian Lama. Hal ini menjadi bukti bahwa pandangan di dalam
Perjanjian Lama ini dibuat oleh para pemimpin masyarakat Yahudi yang mencoba
memberikan pijakan di masa mendatang konsep "ras/suku bangsa". Bangsa Yahudi
percaya bahwamereka adalah kaum yang selalu dipilih oleh Tuhan dan merasa lebih
unggul dari yang lainya. Mereka dengan sengaja dan penuh keinginan untuk mengubah
kitab Suci mereka dan membuat penambahan-penambahan serta berbagai pengurangan
berdasarkan keyakinan seperti di atas. Inilah sebabnya mengapa Ibrahim digambarkan
sebagai nenek moyang bangsa Yahudi belaka dalam Perjanjian Lama.
Penganut Kristen yang percaya terhadap Perjanjian Lama, berpikir bahwa Ibrahim adalah
nenek moyang bangsa Yahudi, namun hanya terdapat satu perbedaan; menurut penganut
Kristen, Ibrahim bukanlah seorang Yahudi namun ia adalah seorang Kristen. Penganut
Kristen yang tidak begitu memperhatikan konsep mengenai ras/suku bangsa sebagaimana
dilakukan Yahudi, mengambil pendirian ini dan hal ini menjadi salah satu penyebab
perbedaan dan pertentangan diantara kedua agama ini. Allah memberikan keterangan
sebagaimana yang disebutkan dalam Al Qur'an sebagai berikut :
Hai ahli kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat
dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?.
Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah-membantah tentang hal yang kamu
ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah dalam hal yang tidak kamu ketahui;
Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.
Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani akan tetapi dia
adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah
dia dari golongan orang yang musyrik".
Sesungguhnya orang yang paling dekat kepaa Ibrahim adalah orang-orang
yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) serta orang-orang yan beriman
(kepada Muhammad), dan Allah adalah pelindung semua orangh-orang yang
beriman.(QS Ali Imran 65-68).
Di dalam Al Qur'an sangatlah berbeda dengan apa yang ditulis dalam Perjanjian Lama,
Ibrahim adalah seseorang yang memperingatkan kaumnya agar mereka takut kepada
Allah, serta bahwa dia adalah seseorang yang berperang/berjuang melawan kaumnya itu
pada akhirnya. Dimulai sejak masa mudanya, ia memperingatkan kaumnya yang
m,enyembah berhala-berhala untuk menghentikan perbuatan mereka itu. Sebagai reaksi,
kaumnya bertindak dengan mencoba untuk membunuh Ibrahim. Untuk menghindar dari
kejahatan yang dilakukan oleh kaumnya, maka Ibrahimpun akhirnya berpindah tempat.
CATATAN
1. Everett C. Blake, Anna G. Edmonds, Biblical Sites in Turkey, Istanbul: Redhouse Press, 1977, hlm. 13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar