Jumat, 01 Maret 2013

kaum nabi luth


KAUM NABI LUTH
Dan Kota Yang Dijungkirbalikkan
Kaum Luth pun telah mendustakan ancaman-ancaman ( Nabinya ).
Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang
membawa batu-batu (yang menimpa mereka ), kecuali keluarga Luth. Mereka
Kami selamatkan di waktu seelum fajar menyingsing. Sebagai ni"mat dari
Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang
bersyukur. Dan sesungguhnya dia ( Luth ) telah memperingatkan mereka akan
azab-azab Kami, maka mereka mendustakan ancaman-ancaman itu. (QS Al
Qamar 33-36 )
Nabi Luth hidup satu masa dengan Ibrahim. Luth diutus sebagai seorang pembawa
risalah kepada salah satu kelompok masyarakat yang hidup berdekatan dengan kaum
Nabi Ibrahim. Kaum ini, sebagaimana diriwayatkan dalam Al Qur'an mengerjakan
perbuatan yang menyimpang yang kemudian dikenal luas sebagai perilaku sodomi.
Dikala Luth menyerukan kepada mereka untuk menghentikan penyimpangan tersebut
diserukan kepada mereka peringatan dari Allah, maka mereka mengingkarinya, menolak
kenabian Lut dan meneruskan penyimpangan perilaku mereka. Pada akhirnya kaum ini
dihancurkan/dilulhlantakkan dengan bencana yang mengerikan.
Kota dimana dahulu Nabi Luth berdiam, dalam Perjanjian Lama dihubungkan dengan
kota Sodom, Berada disebelah Utara laut Merah, masyarakat ini diketahui telah
dihancurkan sebagaimana termaktub dalam Al Qur'an. Penelitian arkeologis
mengungkapkan bahwa kota tersebut berada diwilayah Laut Mati yang terbentang
memanjang diantara perbatasan Israel- Jordania.
Sebelum mencermati sisa-sisa dari bencana ini, marilah kita lihat mengapa kaum Luth
dihukum dengan cara seperti ini. Al Qur'an menceritakan bagaimana Luth
memperingatkan kaumnya dan apa jawab mereka :
" Kaum Luth telah mendustakan rasul-nya, ketika saudara mereka Luth,
berkata kepada mereka " Mengapa kamu tiidak bertaqwa?". Sesungguhnya aku
adalah seorang rasul kepercayaan ( yang diutus ) kepadamu, maka bertaqwalah
kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah
kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta
alam. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki diantara manusia, dan kamu
tinggalkan istri-istri yang dijadikan Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah
orang-orang yang melampaui batas. Mereka menjawab " Hai Luth,
sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang
yang diusir". Luth berkata " Sesungguhnya aku sangat benci kepada
perbuatanmu ". ( QS Asy-Syu"ara" 160-168 ).
Kaum Nabi Lut justeru mengancamnya sebagai jawaban atas ajakannya ke jalan yang
benar. Kaumnya membenci Luth karena menunjukkan mereka ke jalan yang benar, dan
membuang/menyingkirkkannya dan orang-orang yang beriman kepadanya. Dalam ayat
lain, kejadian ini dikisahkan sebagai berikut :
" Dan ( Kami juga telah mengutus ) Luth ( kepada kaumnya ). (Ingatlah )
tatkala dia berkata kepada mereka :" Mengapa kamu mengerjakan perbuatan
faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (didunia ini)
sebelummu?". Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melampiaskan
nafsumu ( kepada mereka), bukanka kepada wanita, malah kamu ini adalah
kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan :"
Usirlah merkea ( Lut dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini, sesungguhnya
mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri ."(QS Al A'raaf
80-82).
Luth menyeru kaumnya kepada sebuah kebenaran yang begitu nyara dan
memperingatkan mereka dengan tegas, namun kaumnya sama sekali tidak mengindahkan
berbagai peringatan dan bahkan meneruskan penolakannya terhadap Luth dan
mengingkari azab yang telah dikatakan kepada mereka :
" Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya :"Sesungguhnnyya kamu
benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang sebelumnya belum
pernah dikerjaka oleh seorangpun dari umat-umat seblum kamu". Apakah
sesungguhnya kamu mendatangi laki-laki,menyamun dan mengerjakan
kemungkaran ditempat-tempat pertemuannmu? Maka jawaban kaumnya tidak
lain hanya mengatakan : " Datangkanlah kepada kami azab Allh, jika kamu
termasuk orang-oranng yang benar".( QS Al Ankabut 28-29).
Menerima jawaban seperti tersebut diatas dari kaumnya Luth meminta
pertolongan kepada Allah : " Ia berkata : Ya Tuhanku, tolonglah aku ( dengan
menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu " (QS Al-Ankabut
30)".
" Ya Tuhanku selamatkanlah aku beserta keluargaku dari ( akibat) perbuatan
yang mereka kerjakan" ( QS Asy Syu'ara'169).
Atas doa Luth tersebut, Allah mengrimkan dua malaikat yang menjelma dalam
wujud manusia. Para malaikat ini mengunjungi Ibrahim sebelum mendatangi
Luth, membawa kabar gembira kepada Ibrahim bahwa isterinya akan
melahirkan seorang jabang bayi, malaikat pembawa pesan menerangkan alasan
pengiriman mereka; bahwa kaum Luth yang angkara akan dihancurkan :
"Ibrahim bertanya; 'Apakah urusanmu hai para utusan?'. Mereka
menjawab;"Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum
Luth), agar kami timpakan kepada mereja batu-batu dari tanah yang (batu
belerang), yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk ( membinasakan ) orang-orang
yang melampaui batas. ( QS Adz -Dzaariyaat: 31-34).
"Kecuali Lut beserta pengikut-pengikutnya. Sesungguhnya Kami akan
menyelamatkan mereka semuanyua, kecuali istrinya, Kami telah telah
menentukan bahwa sesungguhnya ia itu termasuk orang-orang yang tertinggal
(bersama-sama dengan orang kafir lainnya )". ( QS Al Hijr 59-60).
Setelah meningalkan Ibrahim, para malaikat yang dikirim sebagai utusan pembawa
pesan, kemudian mendatangi Luth. Adapun Luth yang belum pernah ditemui sang
pembawa pesan, pada waktu pertama kalinya merasa khawatir namun selanjutnya merasa
tenang setelah berbicara dengan mereka ;
Ia berkata:" Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal".
Para utusan menjawab :" Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan
membawa azab yang selalu mereka dustakan ". Dan kami datang kepadamu
membawa kebenaran dan sesungguhnya kami betul-betul orang yang benar.
Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan
ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorangpun di antara kamu
menoleh kebelakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan
kepadamu". Dan Kami telah wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu
bahwa mereka akan ditumpas habis diwaktu subuh. ( QS Al Hijr 62-66).
Sementara itu, kaum Lut telah mengetahui bahwa Luth kedatangnan tamu. Mereka tidak
ragu-ragu untuk menadatangi tamu-tamu tersebut secara menentang sebagaimana mereka
sebelumnya telah mendatangi tamu yang lain. Mereka mengepung rumah Luth. Merasa
khawatir atas keselamatan tamunya, Luth berbicara kepada kaumnya :
" Luth berkata : " Sesungguhnyua mereka adalah tamuku; maka janganlah
kamu memberi malu ( kepadaku ), dan bertaqwalah kepada Allah dan janganlah
kamu membuat aku terhina". ( QS Al Hijr 68-69)
Kaum Lut menjawab dengan pedas ;
Mereka berkata :" Dan bukankah kami telah melarangmu dari ( melindungi)
manusia". Merasa bahwa Ia dan tamunya akan mendapatkan perlakuan yang
keji, Lut berkata : " Seandainya aku ada mempunyai kekuatan ( untuk
menolakmu ) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (
tentu akan aku lakukan ) (QS Al Hud 80 ). Tamunya mengingatkannya bahwa
sesungguhnya mereka adalah pembawa pesan dari Alllah dan mereka berkata ;"
Para utusan (malaikat ) berkata : " hai Luth, sesungguhnya kami adalah
utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu
kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut kamu di
akhir malam dan janganlah ada seorangpun diantara kamu yang tertinggal,
kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka
karena sesungguhnya saat jatihnya azab kepada mereka ialah diwakti subuh;
bukankah subuh itu sudah dekat ?". ( QS Hud 81).
Ketika penentangan warga kota mencapai tingkat kebencian yang memuncak, Allah
menyelamatkan Lut dengan perantaraan malaikat. Di pagi hari, kaumnya
dihancurleburkan dengan bencana yang sebelumnya telah diberitahukan oleh Luth.
" Dan sesunguhnya mereka telah membujuknya ( agar menyerahkan ) tamunya
(kepada mereka ), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku
dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka
ditimpa azab yang kekal ( QS Al-Qamar 37-38).
Ayat yang menerangkan pengnhancuran dari kaum ini adalah sebagai berikut :
" Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika
matahari akan terbit. Maka kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik
kebawah dan Kami hujani mereja dengan batu belerang yang keras .
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda ( kebesaran Kami )
bagi orang-orang yang meperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu
benar-benar terletak dijalan yang masih tetap ( dilalui manusia). ( QS Al Hijr
73-76).
" Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri Kaum Luth itu yang atas
ke bawah ( Kami balikkan ), dan Kami hujani mereka dengan (batu belerang )
tanah yang terbakar secara bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan
siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim. (QS Hud 82-83).
" Kemudian Kami binasakan yang lain, Dan Kami hujani mereka dengan hujan
( batu belerang) maka amat kejamlah hujan yang menimpa orang-orang yang
telah diberi peringatan itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat bukti-bukti yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman,
Dan sesungguhnya Tuhanmu, benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi
Maha Penyayang. ( QS Asy Syu'araa: 172-175).
Ketika kaum tersebut dihancurkan, hanya Lut dan pengikutnya yang hanya berjumlah
tidak lebih dari "sebuah keluarga". Adapaun istri Luth sendiri yang juga tidak percaya ,ia
juga dihancurkan.
" Dan ( Kami juga yang telah mengutus ) Luth ( kepada kaumnya), (Ingatlah)
tatkala dia bnerkata kepada mereka :" Mengapa kamu mengerjakan perbuatan
faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun ( didunia ini )
sebelumnya?'. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan
nafsumu ( kepada mereka ), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum
yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan :" Usirlah
mereka ( Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya
mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri". Kemudian
Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk
orang-orang yang tertinggal (dibinasakan ). Dan Kami turunkan kepada mereka
hujan (batu belerang), maka perhatikanlahbagaimana kesudahan orang-orang
yang memperturutkan dirinya dengan dosa dan kejahaan itu.( QS Al-Araf: 80-
84).
Demikianlah maka, Nabi Luth diselamatkan bersama dengan para pengikut dan
keluarganya, namun tidak demikian halnya dengan istrinya. Sebagaimana disebutkan
dalam Perjanjian Lama, ia (Luth) berindah dan menetap bersama Ibrahim. Adapun
terhadap kaum yang sesat mereka dihancurkan dan tempat tinggal mereka diratakan
dengan tanah.
"Tanda-Tanda yang Nyata" di Danau Luth
Ayat 82 Surat Hud secara jelas menyebutkan jenis bencana yang menimpa kaum Lut.
"Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri Kaum Lut itu yang atas ke bawah
( Kami balikkan ), dan Kami hujani mereka dengan (batu belerang ) tanah yang terbakar
secara bertubi-tubi,".
Pernyataan " menjungkirbalikkan (kota) " mengandung makna bahwa kawasan tersebut
diluluhlantakkan oleh kedahsyatan gempa bumi. Sesuai dengan keadaan Danau Lut
dimana penghancuran terjadi, terkandung bukti "nyata" dari bencana tersebut.
Mengutip apa yang dikatakan oleh ahli arkeologi Jerman bernama Werner Keller, sebagai
berikut :
Bersamaan dengan dasar dari retakan yang lebar ini yang terjadi secara seksama di
daerah ini, Lembah Siddim, termasuk Sodom dan Gomorah, terjerumus secara seketika
(dalam waktu satu hari ) ke dalam jurang yang sangat dalam. Kehancuran tersebut
terjadi melalui sebuah peristiwa gempa bumi hebat yang mungkin disertai dengan
letusan, petir dan keluarnya gas alam serta terjadinya lautan api yang dahsyat. 1
Sebagai sebuah fakta, Danau Lut atau yang lebih dikenal dengan Laut Mati, letaknya
tepat berada diatas suatu kawasan gunung berapi aktif, jadi merupakan daerah gempa
bumi :
Dasar dari Laut Mati berada pada pusat kehancuran lempeng bumi, Lembah ini terletak
diantara rentangan yang rentan antara Danau Taberiya di Utara dan pertengahan
danau Arabia di Selatan. 2
Peristiwa yang dilukiskan dengan " menghujani mereka dengan batu belerang keras
sebagaimana tanah liat yang terbakar secara bertubi-tubu" pada bagian akhir dari ayat. Ini
semua mungkin berarti sebuah letusan gunung api yang terjadi di tepian Danau Lut, dan
sebagai cadas dan batuan yang meletus dalam bentuk terbakar" ( kejadian yang sama
terjadi sebagaimana dalam ayat 173 Suarat ash Syu'araa' yang menyebutkan : Kami
menghujani mereka ( dengan belerang ) maka amat kejamlah hujan yang menimpa orangorang
yang telah diberi peringatan itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat bukti-bukti yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman.
Dalam kaitannya dengan hal ini, Werner Kelller nenulis :
"Subsidence ( surutnya arus banjir ) mengeluarkan/membangkitkan tenaga vulkanik yang
telah tertidur begitu lama di sepanjang patahan yang panjang. Di lembah yang tinggi di
Jordania dekat Bashan masih terdapat kawah yang menggelegak dari gunung api yang
sudah mati, lava yang melebar dan batuan basal dalam yang telah terkumpul di dalam
permukaan baru lapis. 3
Lava dan lapisan batu Basalt merupakan bukti terbesar yang ledakan gunung api dan
gempa bumi pernah terjadi disini. Bencana alam yang dilukiskan dengan ungkapan "
Ketika Firman Kami telah terbukti, Kami jungkirbalikkan ( kota) ", yang terjadi dalam
ayat yang sama, di dalam Al Qur'an kemungkinan besar menunjuk pada gempa bumi
yang mengakibatkan letusan gunung api diatas permukaan bumi dengan akibat yang
merusak dan terhadap retakan dan reruntuhan yang diakibatkan olehnya, dan Allah yang
Maha Mengetahui atas hal tersebut.
Sebuah citra satelit dari daerah
dimana dahulunya kaum Luth
pernah hidup.
Laut Mati
Pandangan dari atas gunung-gunung
di sekitar danau Luth
Di sebelah kiri: Sebuah ilustrasi yang
menunjukkan letusan gunung api dan
keruntuhan yang mengikutinya, yang
mengakibatkan seluruh kaum menghilang.
Pandangan dari atas gununggunung
di sekitar Danau Luth.
"Tanda-tanda yang jelas" yang disampaikan oleh Danau Lut sangatlah menarik, Secara
umum, kejadian yang menurut Al Qur'an terjadi di Timur Tengah, Jazirah Arab dan
Mesir. Tepatnya ditengah kawasan ini adalah Danau Lut. Danau Lut dimana kejadian
tersebut terjadi dan daerah sekitarnya secara geologis mendapatkan perhatian seksama.
Danau tersebut diperkirakan berada 400 meter dibawah permukaan Mediterania. Danau
tersebut dalamnya antara 400 meter, sedangkan dasarnya mencapai kedalaman 800 meter
dibawah Mediterania. Ini adalah merupakan titik yang paling rendah di seluruh
permukaan bumi, Di daerah lain yang kedalamannya lebih rendah dari permukaan lautan,
paling rendah sedalam 100 meter. Sifat lain dari Danau Lut adalah kandungan
garammnya yang sangat tinggi, dimana kepekatannya hampir mencapai 30%. Oleh
karena itu tidak ada mahluk hidup seperti ikan atau lumur yang dapat bertahan hidup di
dalam danau ini. Hal inilah yang menyebabkan Danau Lut dalam literature-literatur Barat
lebih sering disebut dengan " Laut Mati".
Kejadian yang menimpa kaum Lut, yang disebutkan dalam A Qur'an berdasrkan
perkiraan terjadi sekitar 1800 SM. Berdasarkan pada penelitian arkeologi dan geologi,
peneliti terkenal Jerman Werner Kelller mencatat bahwa kota Sodom dan Gomorah
adalah benar-benar berada di lembah Siddim yang merupakan daerah terjauh dan
terendah dari ujung Danau Lut.
Hal yang paling menarik adalah susunan karakteristik dari danau Lut adalah bukti yang
menunjukkan kejadian bencana alam sebagaimana yang diceritakan dalam Al Qur'an:
Di bagian Timur pantai Laut Mati adalah semenanjung El Lisan yang berbentuk seperti
lidah yang menjulur ke dalam air. El Lisan berarti " lidah " dalam bahasa Arab. Dari
daratan tidak akan nampak bahwa tanah dibawah permukaan air berguguran pada sudut
yang sangat luar biasa, memisahkan air danau menajdi dua bagian. Disebelah kanan
semenanjung lereng tanah menghunjam sedalam 1200 kaki. Disebelah kiri semenanjung,
secara luar biasa kedalaman air tetap dangkal. Penelitian yang dilakukan beberapa
tahun terakhir ini menunjukkan bahwa kedalamannya hanya berkisar antara 50 - 60
kaki. Bagian dangkal yang luar biasa dari Laut mati ini, mulai dari semenanjung el
Lisan smapai ke ujung bagian paling Selatan, adalah merupakan Lembah Siddim. 4
Werner Keller menengarai bahwa bagian yang dangkal
ini yang ditemukan belakangan adalah merupakan hasil
dari gempa bumi dahsyat sebagaimana yang telah
disebutkan diatas. Disinilah dimana Sodom dan
Gomorah berada dan disini pulalah kaum Lut pernah
hidup.
Meskipun memungkinkan untuk melintasi daerah ini
dengan berjalan kaki. Namun sekarang Lembah Siddim,
dimana Sodom dan Gomorah dahulunya berada,
diselimuti oleh permukaan datar bagian bawah Laut
Mati. Keruntuhan dari dasar danau sebagai akibat dari
bencana alam mengerikan yang terjadi di masa lampau
diawal Millenium kedua SM, mengakibatkan air garam
dari utara mengalir ke dalam rongga yang belakangan
terbentuk dan memenuhi lembah sungai dengan air yang
asin.
Jejak-jejak dari danau Lut akan nampak kentara …Jika
seseorang bersampan melintasi Danau Lut ke titik paling
Utara dan sang Surya sedang bersinar tepat diarahnya,
maka ia akan melihat sesuatu yang menakjubkan. Dari
kejauhan pantai akan nampak secara jelas dibawah permukaan air segaris bentuk hutan
yang secara luarbiasa diawetkan oleh kandungan garam yang tinggi dari Laut Mati.
Batang pepohonan dan akar-akaran didalam kilauan air yang hijau nampaklah sangat
kuno. Lembah Siddim dimana pepohonan ini dahulu daunnya pernah bermekaran
Beberapa reruntuhan dari
kota yang terkubur di dalam
danau, ditemukan di tepian
danau. Peninggalan tersebut
menunjukkan bahwa kaum
Luth telah memiliki standar
hidup yang cukup tinggi.
menutupi batang dan rantingnya adalah merupakan salah satu lokasi yang paling indah
didaerah ini.
Aspek mekanis dari bencana yang menimpa kaum Lut diungkapkan oleh para peneliti
Geologi. Pengungkapan bahwa gempabumi yang menghancurkan Kaum Lut terjadi
sebagai akibat rekahan yang sangat panjang didalam kerak bumi (fault line ) sepanjang
190 KM yang memanjang membentuk dasar sungai Sheri'at. Sungai Sheri'at secara total
runtuh 180 meter. Diantara bukt ini dan fakta bahwa danau Lut berada 400 meter
dibawah permukaan laut adalah dua potong bukti penting yang menunjukkan bawa
peristiwa geologis yang sangar hebat pernah terjadi disini.
Susunan yang menarik dari sungai Sheri'at dan Danau Lut hanya tersusun atas rekahan
kecil yang memisahkan kawasan ini dari kerak bumi. Keadaan seperti tersebut dan
rekahan yang memanjang baru dapat ditemukan pada waktu akhir-akhir ini.
Kondisi rekahan ini berasal dari daerah tepian gunung Taurus, memanjang ke pantai
selaran danau Lut dan terus berlanjut diatas gurun Arabia ke Teluk Aqaba dan berlanjut
melintasi Laut Merah dan berakhir di Afrika. Di sepanjang jarak tersebut terdapat
aktifitas gunung berapi yang sangat kuat. Batuan Basalt hitam dan lava terdapat di
gunung Galilea di Israel,daerah dataran tinggi Jordania, Teluk Aqaba dan daerah
sekitarnya.
Seluruh reruntuhan dan bukti-bukti geografis tersebut menunjukan bahwa bencana
geologis dahsyat pernah terjadi di danau Lut. Werner Kelller menulis:
Bersamaan dengan dasar dari retakan yang lebar ini yang terjadi secara seksama di
daerah ini, Lembah Siddim, termasuk Sodom dan Gomorah, terjerumus secara seketika
(dalam waktu satu hari ke dalam jurang yang sangat dalam. Kehancuran tersebut terjadi
melalui sebuah peristiwa gempa bumi hebat yang mungkin disertai dengan letusan, petir
dan keluarnya gas alam serta terjadinya lautan api yang dahsyat. Subsidence (surutnya
arus banjir) mengeluarkan/membangkitkan tenaga vulkanik yang telah tertidur begitu
lama di sepanjang patahan yang panjang. Di lembah yang tinggi di Jordania dekat
Bashan masih terdapat kawah yang menggelegak dari gunung api yang sudah mati, lava
yang melebar dan batuan basalt dalam yang telah terkumpul di dalam permukaan batu
lapis. 5
Lembaga Geografi nasional Amerika Serikat (National Geographic) pada Desember 1957
menyatakan sebagai berikut :
"Gunung Sodom, merupakan tanah gersang dan tandus muncul secara mendadak diatas
Laut Mati. Tidak ada seorangpun yang pernah menemukan kota Sodom dan Gomorah
yang dihancurkan, namum para ilmuwan percaya bahwa kota ini dahulunya berada di
lembah Siddim yang terletak melintang disepanjang tepian tebing jurang terjal ini.
Kemungkinan air bah dari Laut Mati yang menelan mereka yang disertai dengan gempa
bumi. 6
CATATAN
1. Werner Keller Und die Bibel hat doch recht (The Bible as History; a Confirmation of the Book of
Books), New York: William Morrow, 1964 hlm. 75-76.
2. "Le Monde de la Bible", Archeologie et Histoire, July-August 1993.
3. Werner Keller Und die Bibel hat doch recht (The Bible as History; a Confirmation of the Book of
Books), New York: William Morrow, 1964, hlm. 76
4 .Ibid, hlm. 73-74
5 Ibid, hlm. 75-76
6 G. Ernest Wright, "Bringing Old Testament Times to Life", National Geographic, Vol. 112, December
1957, hlm. 833

kisah bag 4


Agama dan Kebudayaan yang Menceritakan Banjir Nabi Nuh
Peristiwa Banjir Nuh tersebut disebarluaskan ke hampir semua manusia (kaum) lewat
lesan para Nabi yang menyampaikan Agama yang Benar, tetapi akhirnya cerita itu
menjadi legenda-legenda berbagai kaum-kaum itu, dan kisah itu mengalami penambahanpenambahan
dan juga pengurangan-pengurangan dalam periwayatannya.
Allah telah menyampaikan kisah tentang Banjir Nuh kepada manusia melalui para rasul
dan kitab-kitab yang Dia turunkan kepada berbagai masyarakat agar hal itu menjadi
peringatan atau permisalan. Dalam setiap masa teks atau kitab-kitab tersebut telah
dirubah dari aslinya, dan penuturan tentang banjir Nuh itu juga telah ditambah-tambahai
dengan unsur-unsur yang mistis. Hanyalah al-Qur'an lah sumber yang masih memiliki
kesamaan yang mendasar dengan temuan-temuan dan observasi empiris. Hal ini hanya
tidak lain karena Allah menjaga al-Qur'an dari perubahan, meski hanya sebuah perubahan
kecil sekalipun, dan Dia tidak mengizinkan al-Qur'an itu terkurangi. Menurut padangan
al-Qur'an berikut ini "Kami telah dengan tanpa keraguan menurunkan risalah, dan Kami
dengan pasti akan menjaganya (dari pengurangan)"(QS.Al-Hijr: 9), al-Qur'an berada di
bawah pengawasan khusus Allah.
Dalam bagian terakhir dari bab ini yang berkaitan dengan banjir, kita akan melihat,
bagaimana insiden banjir itu diilustrasikan -meski telah terjadi manipulasi/pengurangan -
dalam berbagai kebudayaan dan di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Banjir Nabi Nuh dalam Perjanjian Lama
Kitab yang sebenarnya diwahyukan kepada nabi Musa adalah Taurat. Hampir semua sisasisa
wahyu dan buku-buku yang berkaitan dengan Injil "Pentateuch (lima buku pertama
dari Kitab perjanjian Lama)", seiring dengan berjalannya waktu, telah lama kehilangan
hubungannya dengan wahyu yang asli. Bahkan, kemudian bagian yang paling meragukan
tersebut telah diubah oleh para rabi (pendeta) dari masyarakat Yahudi. Sama halnya
dengan wahyu-wahyu yang dikirimkan kepada nabi-nabi lain yang diutus kepada Bani
Israel setelah nabi Musa, juga mendapat perlakuan yang sama dan mengalami perubahan
yang luar biasa. Inilah sebab yang menjadikan kita untuk menyebut buku-buku itu
sebagai "Pentateuch yang telah dirubah (Altered Pentateuch)" dikarenakan telah
kehilangan hubungannya dengan aslinya, membawa kita untuk menganggapnya lebih
hanya sebagai bikinan manusia semata yang berupaya untuk mencatat sejarah suku
bangsanya daripada menganggapnya sebagai sebuah kitab suci. Tidaklah mengherankan
jika ciri-ciri dari Pentateuch yang telah dirubah itu dan berbagai kontradiksi yang
terkandung didalamnya bisa dengan mudah terungkap dalam pemaparannya terhadap
cerita tentang nabi Nuh meskipun mempunyai berbagai kesaman dalam sebagian yang
diceritakan dengan al-Qur'an.
Menurut Perjanjian Lama, Tuhan memerintahkan kepada Nuh bahwa semua orang kecual
para pengikutnya akan dihancurkan karena bumi telah penuh dengan berbagai macam
tindak kekerasan. Dan akhirnya Tuhan memerintahkan mereka untuk membuat sebuah
Perahu dan menyebutkan secara detail bagaimana cara mengerjakannya. Tuhan juga
mengatakan kepadanya (Musa) untuk membawa keluarganya, tiga orang anaknya, istriistri
anaknya, dua (sepasang) dari setiap mahkluk hidup dan berbagai persedian bahan
pangan.
Tujuh hari kemudian, ketika waktu banjir telah tiba, semua sumber yang ada di dalam
tanah mendadak terbuka lebar, pintu-pintu surga terbuka dan sebuah banjir besar
menenggelamkan semuanya. Hal ini berlangsung selama empat puluh hari dan empat
puluh malam. Kapal yang dtumpangi Nuh beserta pengikutnya berlayar diatas air yang
menutupi semua pegunungan dan dataran tinggi. Mereka yang berada di dalam kapal
bersama Nuh diselamatkan dan mereka yang tidak ikut ke dalam kapal dan terbawa oleh
air bah tersebut ditenggelamkan hingga mati. Hujan berhenti setelah banjir terjadi, yang
terjadi selama 40 hari 40 malam, dan airpun mulai surut 150 hari kemudian.
Setelah berada pada hari ke tujuh belas dari bulan ke tujuh, kapal tersebut berhenti di
gunung Ararat (Agri). Nuh memerintahkan seekor merpati untuk melihat apakah air telah
benar-benar surut atau tidak, dan ketika akhirnya merpati tersebut tidak kembali lagi, ia
menyadari bahwa air telah benar-benar surut. Tuhan memerintahkannya untuk keluar dari
kapal dan menyebar ke seluruh penjuru bumi.
Salah satu kontradiksi yang terdapat dalam kisah yang terdapat dalam perjanjian Lama ini
adalah; berdasarkan ringkasan ini, dalam versi tulisan yang "berbau Yahudi", dikatakan
bahwa Tuhan memerintahkan kepda Nuh untuk membawaa tujuh dari binatang-binatang
tersebut, jantan dan betina, Ia (Tuhan) menyebut-Nya "clean(halal)" dan hanya pasanganpasangan
binaang-binaang tersebut Ia sebut "unclean(haram)". Hal ini bertentangan
dengan teks dibawah ini. Disamping itu dalam Perjanjian Lama, jangka waktu terjadinya
banjir juga berbeda. Menurut versi yang berbau Yahudi itu, peristiwa naiknya air akibat
banjir terjadi selama 40 hari, sedangkan berdasarkan pendapat orang-orang awam,
dikatakan terjadinya selama 150.
Sebagian dari Perjanjian Lama yang menceritakan tentang banjir Nuh mengatakan ; Dan
Tuhan berkata kepada Nuh, akhir dari semua jasad manusia adalah menghadap
kepadaKu; dan karena bumi telah penuh dengan kekerasan; maka lihatlah Aku akan
menghancurkan mereka bersama dengan bumi. Maka kamu buatlah perahu dari kayu
gopher;…..
..Dan, lihatlah meskipun Aku memberikan banjir yang membanjiri seluruh bumi untuk
menghancurkan semua manusia, dimana semua yang bernafas, dari bawah surga;
(dan)setiap yang ada dibumi akan mati. Namun bersamamu Aku akan menetapkan
janjiKu; dan kamu akan masuk ke dalam perahu, kau dan anakmu, dan istrimu, dan istriistri
anak-anak mu. Dan semua mahkluk hidup, dua (sepasang) dari setiap mahkluk kamu
bawa ke dalam perahu, untuk tetap menjaga mereka hidup bersamamu; mereka haruslah
jantan dan betina…
…demikianlah yang dilakukan Nuh; berdasrkan semua yang Tuhan perintahkan
kepadanya. (Genesis 6:13-22).
Dan perahupun berhenti pada bulan ke tujuh, pada hari ke tujuhbelas dari bulan
tersebut di atas gunung Ararat. (Genesis 8:4).
Setiap binatang yang halal kamu bawa sebanyak tujuh ke dalam perahu jantan dan
betinanya, dan biatang yang tidak halal kamu bawa sebanyak dua jantan dan
betinanya, unggas juga kamu ambil dari udara sebanyak tujuh, jantan dan
betinanya, untuk menjaga agar bebih tetap hidup diseluuh penjuru bumi (Genesia
7:2-3).
Dan Aku akn menepati janjiKu terhadapmu, dan semua orang-orang yang lain
akan ditenggelamkan oleh air banjir, dan banjir akan lebih banyak lagi yang akan
menghancurkan dunia (Genesis, 9:11).
Berdasarkan kepada Perjanjian Lama, berkenaan dengan keputusan yang menyatakan
bahwa "semua mahkluk hidup yang ada di dunia akan mati" dalam sebuah banjir yang
menggenagi seluruh permukaan bumi, maka semua orang dihukum, dan yang selamat
hanyalah mereka yang berlayar dengan perahu bersama Nuh.
Banjir Nuh dalam Perjanjian Baru
Perjanjian Baru yang kita miliki saat ini adalah bukan sebuah Kitab Suci dalam arti kata
yang sebenarnya. Terdiri dari perkataan dan perbuatan dari 'Isa (jesus), Pernanjian Baru
dimulai dengan empat "Gospels (ajaran)" yang ditulis satu abad setelah kematian 'Isa oleh
orang-orang yang belum pernah melihatnya atau berteman dengan Isa; mereka (para
penulis) ini bernama Matius, Markus, Lukas dan Johanes . Terdapat berbagai kontradiksi
yang sangat gamblang diantara keempat gospel (ajaran) ini. Khususnya Gospel of John
(Johanes) yang sangat memiliki banyak perbedaan dengan dari ketiga yang lain (Synoptic
Gospel), meski dalam beberapa tingkat tertentu memiliki kesamaan. Buku-buku lain dari
Perjanjian Baru terdiri dari surat-surat yang ditulis oleh Apostle (utusan/rasul) dan Saul
dari Tarsus ( yang kemudian disebut dengan Saint Paul) menyebutkan perbuataan setelah
kematian Isa.
Namun demikian Perjanjian Baru yang terdapat saat ini bukan lagi merupakan sebuah
naskah suci namun lebih merupakan sebuah buku semi-sejarah semata.
Dalam Perjanjian Baru, banjir Nuh disebutkan secara singkat sebagai berikut; Nuh diutus
sebagai seorang pembawa pesan kepada sebuah masyarakat yang tidak patuh dan tersesat,
namun kaumnya tidak mau mengikutinya dn meneruskan penyimpangan mereka,
kemudian Allah menimpakan kepada mereka yang menolak keimanan dengan sebuah
peristiwa banjir dan menyelamatkan Nuh dan para pengikutnya dengan menempatkan
mereka ke dalam perahu. Beberapa bab dri perjanjian Baru yang berkaitan dengan hal ini
adalah sebagai berikut;
Tetapi, pada masa Nabi Nuh, dan juga kedatangan seorang anak laki-laki. Dan
pada hari-hari di mana mereka sebelum datangnya banjir, mereka makan dan
minum, mereka menikah dan saling memberi dalam pernikahan itu, hingga
datanglah suatu waktu ketika Nuh masuk ke dalam perahu, dan mengertilah dia
tidak lebih hingga datangnya banjir, dan dia membawa mereka semua menjauh,
demikian juga dengan datangnya seorang anak lelaki itu. (Matius, 24:37-39).
Dan terpisah, bukan di bumi yang telah tua, tetapi selamatlah Nuh sebagai orang
yang ke delapan, seorang penyeru kesalehan, membawa dalam banjir ke atas dunia
yang tidak taat pada Tuhan. (Peter kedua,2: 5)
Dan sebagaimana pada hari-hari masa Nuh, dan seharusnya juga juga pada masa
seorang anak laki-laki. Mereka makan, minum, menikahi isteri, mereka saling
diberi dalam perkawinan, hingga datanglah suatu hari ketika Nuh memasuki
perahu, dan banjir datang, dan menghancurkan mereka semua. (Lukas, 17: 26-27).
Di saat mereka itu ingkar (tidak mentaati), ketika suatu masa Tuhan lama
menderita menunggu di masa Nuh, sembari perahu dipersiapkan, dalam jumlah
beberapa, delapan jiwa diselamatkan oleh air. (Peter pertama, 3:20).
Dikarenakan mereka mengabaikan, bahwa dengan kata Tuhan surga-surga
menjadi tua, dan bumi mempertahankan air dan berada di dalam air: Di mana
bumi kemudian, diluapi dengan banjir, dibinasakan. (Peter kedua,3:5-6).
Peristiwa Terjadinya Banjir dalam Kebudayaan Lain Dalam Kebudayaan Sumeria
Tuhan/ Dewa yang bernama Enlil berkata kepada suatu kaum bahwa tuhan yang lain
ingin menghancurkan umat manusia, namun ia sendiri berkenan untuk meyelamatkan
mereka. Pahlawan dalam kisah ini adalah Ziusudra, raja yang taat kepada raja negeri
Sippur. Tuhan Enlil menyuruh Ziusudra apa yang harus dilakukan untuk bisa selamat dari
banjir. Naskah yang berkaitan dengan pembuatan kapal tersebut telah hilang, namun
fakta bahwa bagian ini pernah ada, diungkapkan dalam bagian yang menyebutkan
bagaimana Ziusudra diselamatkan. Berdasarkan versi bangsa Babylonia tentang banjir,
bisa disimpulkan bahwa dalam versi bangsa Sumeria pun, tentulah terdapat perincian
yang lebih luas secara utuh tentang kejadian tersebut, tentang sebab-sebab terjadinya
banjir dan bagaimana perahu tersebut dibuat.
Dalam Kebudayaan Babilonia
Ut-Napishtim adalah persamaan tokoh bangsa Babilonia terhadap pahlawan dalam
peristiwa banjir dalam kisah bangsa Sumeria yaitu Ziusudra. Tokoh penting yang lain
adalah Gilgamesh. Menurut legenda, Gilgamesh memutuskan untuk mencari dan
menemukan para leluhurnya untuk mengupayakan rahasia kehidupan yang abadi. Ia
melakukan sebuah perjalanan yang menentang bahaya dan pebuh dengan kesulitan. Ia
diperintahkan supaya melakukan sebuah perjalan dimana ia harus melewati "Gunung
Mashu dan air kematian" dan sebuah perjalanan yang hanya dapat diselesaikan oleh
seorang anak tuhan bernama Shamash. Namun Gilgamesh tetap dengan gagah berani
melawan semua bahaya selama perjalanan dan akhirnya berhasil mencapai Ut-Napishtim.
Naskah ini dipotong/selesai pada titik dimana terjadi pertemuan antara Guilgamesh dan
Ut-Napishtim, dan ketika akhirnya menjadi jelas, Ut-Napishtim bekata kepada Gilgamesh
bahwa "para tuhan hanya menyimpan rahsia kematiandan kehidupam untuk diri mereka
sendiri" (yang mereka tidak akan memberikannya kepada manusia). Atas jawaban ini
Gilgamesh bertanya kepada Ut-Napishtim bagaimana ia dapat memperoleh keabadian;
dan Ut-Napishtim menceritakan kepadanya kisah tentang banjir sebagai jawaban atas
pertanyaannya. Banjir tersebut juga diceritakan dalam kisah "duabelas meja (twelve
tables) " yang terkenal dalam epik tentang Gilgamesh.
Ut-Napishtim memulainya dengan mengatakan bahwa kisah yang akan diceritakan
kepada Gilgamesh adalah merupakan"sesuatu yang rahasia, sebuah rahasia dari tuhan". Ia
berkata bahwa ia dari kora Shuruppak, kota tertua diantara kota-kota di daratan Akkad.
Berdasarkan ceritanya, tuhan "Ea" telah menyerukan kepaanya melalui tembok gubuknya
dan mengumumkan bahwa tuhan-tuhan telah memutuskan untuk menghancurkan semua
benih kehidupan dengan perantaraan sebuah banjir; namun alasan tentang keputusan
mereka tidaklah diterangkan dalam cerita banjir bangsa Babylonia sebagaimana telah
diterangkan dalam kisah banjir bangsa Sumeria. Ut-Napishtim berkata bahwa Ea telah
menyuruhnya untuk membuat sebuah perahu dimana ia harus membawa serta dan
membwa "benih-benih dari semua makhluk hidup". Ea memberitahukan kepadanya
tentang ukuran dan bentuk dari kapal tersebut, berdasarkan hal ini, lebar, panjng dan
ketinggian dari kapal sama satu sama dengan yang lain. Badai besar menjungkirbalikan
semuanya dalam waktu enam hari dan enam malam. Pada hari yang ke tujuh, badai mulai
reda. Ut-Napishtim melihat bahwa diluar kapal, "telah berubah menjadi Lumpur yang
lengket'. Dan sang kapalpun berhenti di gunung Nisir.
Menurut catatan bangsa Sumeria dan Babylonia, Xisuthros atau Khasisatra diselamatkan
dari banjir oleh sebuah kapal dengan panjang 925 meter, bersama dengan keluarga dan
teman-temannya dan bersama burung-burung dan berbagai jenis binatang. Hal ini
dikatkan bahwa "air terbentang menuju ke surga, lautan menutupi pantai dan sungai
meluap dari dasar sungai". Dan kapalpun akhirnya berhenti di gunung Corydaean.
Menurut cattan bangsa Babilonia-Syria, Ubar Tutu atau Khasisatra diselamatkan bersama
dengan keluarga dan pembantunya, umatnya dan binatang-binatang dalam sebuah kapal
dengan lebar 600 cubits (ukuran panjang), tinggi dan lebarnya 60 cubit. Banjir tersebut
berlangsung selama 6 hari dan 6 malam. Ketika kapal tersebut menapai gunung Nizar,
merpati yang dilepaskan kembali ke kapal sedangkan burung gagak yang sama-sama
dilepaskan tidak kembali.
Berdasarkan beberapa catatan bangsa Sumeria, Asyiria dan Babylonia, Ut-Napishtim
bersama dengan keluarganya selamat dari banjir yang terjadi selama 6 hari dan 6 malam.
Hal ini dikatakan " Pada hari ke tujuh Ut-napishtim melihat keluar. Ternyata sangatlah
sepi. Orang telah berubah menjadi Lumpur". Ketika kapal berhenti di gunung Nizar, Utnapishtim
menerbangkan seekor burung merpati, seekor ggak dan seekor buurng pipit.
Burung gagak tinggal untuk memakan bangkai, sedangkan dua burung yang lain tidak
kembali.
Dalam Kebudayaan India
Dalam epic dari India berjudul Shatapata Brahmana dan Mahabharata, seseorang yang
disebut dengan Manu diselamatkan dari banjir bersama dengan Rishiz. Menurut legenda ,
seekor ikan yang ditangkap oleh Manu dan ikan tersebut diselamatkannya, tiba-tiba
berubah menjadi besar dan mengatakan kepadanya untuk membuat sebuah perahu dan
mengikatkan ke tanduknya. Ikan ini dilambangkan sebagai pengejawantahan dari dewa
Wisnu. Ikan tersebut menuntun kapal mengarungi ombak yang besar dan membawanya
ke utara ke gunung Hismavat.
Dalam Kebudayaan Wales
Menurut legenda Welsh (dari Wales, dari Celtic di Inggris), dikatakan bahwa Dwynwen
dan Dwfach selamat dari bencana yang besar dengan sebuah kapal. Ketika banjir yang
amat mengerikan yang terjadi dari meluapnya Llynllion yang disebut dengan Danau
Gelombang. Setelah selamat akhirnya mereka berdua mulai menghuni kembali daratan
Inggris.
Dalam Kebudayaan Scandinavia
Legenda Nordic Edda melaporkan tentang Bergalmir dan istriya selamat dari banjir
dengan sebuah kapal yang besar.
Dalam Kebudayaan Lithuania
Dalam legenda Lithuania, diceritakan bahwa beberapa pasang manusia dan binatang
diselamatkan dengan berlindung di puncak permukaan gunung yang tinggi. Ketika angin
dan banjir yang berlangsung sela dua hari dan dua belas malam tersebut mulai mencapai
ketinggian gunung yang hampir akan menenggelamkan yang ada diatas puncak gunung
tersebut, sang Pencipta melemparkan sebuah kulit kacang raksasa kepada mereka.
Sehingga mereka yang ada di gunung tersebut diselamatkan dari bencana dengan berlayar
didalam kulit kacang raksasa ini.
Dalam Kebudayaan China
Sumber di bangsa China menghubungkan cerita ini dengan seseorang yang dipanngil
denangan nama Yao bersama dengan tujuh orang lain atau Fa li bersama dengan istri dan
anak-anaknya, diselamatkan dari bencana banjir dan gempa bumi dalam sebuah perahu
layar. Disini dikatakan "dunia semuanya berada dalam kehancuran. Air menyembur dan
menutupi semua tempat". Akhirnya, airpun surut.
Banjir Nuh dalam Mitologi Yunani
Dewa Zeus memutuskan untuk menghancurkan orang-orang yang telah menjadi semakin
bertindak sesat setiap saat, dengan sebuah banjir. Hanya Deucalion dan istrinya Pyrrha
yang diselamatkan dari banjir, karena ayah Deucalion sebelumnya telah menyarankan
anaknya untuk membuat sebuah kapal. Pasangan ini turun ke gunung Parnassis pada hari
ke sembilan setelah turun dari kapal.
Semua legenda ini mengindikasikan sebuah realitas sejarah yang konkret. Dalam sejarah
setiap masyarakat/kaum menerima pesan dan risalah, setiap insan menerima wahyu Suci,
sehinga banyak kaum yang telah belajar tentang Banjir. Sayangnya, sebagaimana kaumkaum
yang berpaling dari inti wahyu Suci, peristiwa banjir besar itupun mengalami
banyak perubahan dan menjadi bermacam legenda dan mitos.
Satu-satunya sumber dimana kita dapat menemukan kisah sejati tentang Nuh dan kaum
yang menolaknya adalah di dalam Al Qur'an, yang merupakan satu-satunya sumber yang
belum (dan tidak akan) mengalami perubahan sebahai Wahyu suci.
Al Qur'an menyediakan bagi kita keterangan yang benar tidak hanya tentang banjir Nuh
namun juga tentang kaum dan peristiwa sejarah lainnya, dalam bab-bab berikut kita akan
melihat kembali kisah-kisah sejati ini.
KEHIDUPAN NABI IBRAHIM
Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani akan
tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Allah) dan
sekali-kali bukanlah dia dari golongan orang yang musyrik.Sesungguhnya
orang yang paling dekat kepaa Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya
dan Nabi ini (Muhammad) serta orang-orang yan beriman (kepada
Muhammad), dan Allah adalah pelindung semua orangh-orang yang beriman.
(QS Ali Imran 67-68).
Nabi Ibrahim (Abraham) sering disebutkan di dalam Al Qur'an dan mendapatkan tempat
yang istimewa di sisi Allah sebagai contoh bagi manusia. Dia menyampaikan kebenaran
dari Allah kepada umatnya yang menyembah berhala, dan dia mengingatkan mereka agar
takut kepada Allah. Umat nabi Ibrahim tidak mematuhi perintah itu, bahkan sebaliknya
mereka menentangnya. Ketika penindasan yang semakin meningkat dari kaumnya, nabi
Ibrahim pindah ke mana saja bersama istrinya, bersama dengan nabi Lut dan mungkin
dengan bebeapa orang lain yang menyertai mereka.
Nabi Ibrahim adalah keturunan dari nabi Nuh. Al qur'an juga mengemukakan bahwa dia
juga mengikuti jalan hidup (diin) yang diikuti Nabi Nuh.
"Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam". Sesungguhnya
demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman.
Kemudian Kami tengelamkan orang-orang yang lain. Dan sesungguhnya
Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh).(QS Ash- Shafaat: 79-83).
Pada masa Nabi Ibrahim, banyak orang yang menghuni dataran Mesopotamia dan di
bagian Tengah dan Timur dari Anatolia tinggal orang-orang yang menyembah surgasurga
dan bintang-bintang. Tuhan yang mereka anggap paling penting adalah "Sin" yaitu
Dewa Rembulan. Tuhan mereka ini dipersonifikasikan sebagai seorng manusia yang
berjenggot panjang, memakai pakaian panjang membawa rembulan berbetuk bulan sabit
diatasnya. Lagian, orang -orang tersebut membuat hiasan gambar-gambar timbul dan
pahatan-pahatan (patung) dari tuhan mereka itu dan itulah yang mereka sembah. Hal ini
merupakan system kepercayaan yang tersebar luas ketika itu, yang mendapatkan tempat
persemaiannya di Timur Dekat (Near East), dimana keberadaannya terpelihara dalam
jangka waktu yang lama. Orang-orang yang tinggal di wilayah tersebut terus saja
menyembah tuhan-tuhan tersebut hingga sekitar tahun 600 M. Sebagai akibat dari
kepercayaan itu, banyak bangunan yang dikenal dengan nama "ziggurat" yang dulu
dipakai sebagai observatorium (tempat penelitian bintang-bintang) sekaligus sebagai kuil
tempat peribadatan yang dibangun di daerah yang membentang sejak dri Mesopotamia
hingga ke kedalaman Anatolia, disinilah beberapa tuhan,terutama dewa(i) Rembulan
yang bernama "Sin" disembah oleh orang-orang ini. 1
Kepercayaan yang hanya bisa ditemukan dalam penggalian arkeologis yang dilakuan saat
ini, telah disebutkan dalam Al Qur'an. Sebagaimana disebutkan dalam Al Qur'an, Ibrahim
menolak penyembahan tuhan-tuhan tersebut dan berpegang teguh kepada Allah saja,
satu-satunya Tuhan yang sebenarnya. Dalam Al Qur'an, perjalanan hidup Ibrahim
digambarkan sebagai berikut :
Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: "Pantaskah
kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?. Sesungguhnya aku
melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata. Dan demikianlah Kami
perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdpat) di
langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orangorang
yang yakin. Ketika malah telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang
(lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetpi tatkala bintang itu tenggelam dia
berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam". Kemudian tatkala dia
melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu
terbenam dia berkata : "Sesungguhnya jika Tuhnaku tidak memberikan
petunjuk kepadakum pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat". Kemudian
tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah tuhanku, ini lebih
besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata : "Hai kaumku,
sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.
Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan
langit dan b umi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku
bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.(QS. Al-An'an:
74-79)
Dalam al Qur'an, tempat kelahiran Ibrahim dan tempat di mana dia tinggal tidak
dikemukakan dengan terperinci. Tetapi diindikasikan bahwa Ibrahim dan Lut tinggal di
tempat yang saling berdekatan satu sama lain dan malaikat yang diutus kepada umat nabi
Lut juga mendatangi Ibrahim dan memberitahukan pada istrinya suatu berita gembira
tentang bayi laki-laki (yang dikandungnya), sebelum para malaikat itu pergi melanjutkan
perjalanan mereka menuju nabi Lut.
Cerita penting tentang Nabi Ibrahim dalam al Qur'an yang tidak disebutkan dalam
Perjanjian Lama adalah tentang pembangunan Ka'bah. Dalam Al Qur'an, kita diberitahu
bahwa Ka'bah dibangun oleh Ibrahim dan putranya Ismail. Sekarang ini, satu-satunya hal
yang diketahui oleh ahli sejarah tentang Ka'bah adalah bahwa Ka'bah merupakan tempat
yang suci sejak masa yang sangat tua. Adapun penempatan berhala-berhala pada Ka'bah
selama masa jahiliyah berlangsung sampai diutusnya Nabi Muhammmad, dan itu
merupakan penyimpangan dan kemunduran atas agama suci Ilahi yang pernah
diwahyukan kepada Nabi Ibrahim.
Ket.Gambar hal 36. (Atas : Pada masa Nabi Ibrahim, agama politheisme menyebar ke
seluruh wilayah Mesopotamia. Sang Dewa rembulan "Sin" salah satu berhala yang paling
penting. Orang-orang membuat patung-patung dari tuhan-tuhan mereka dan
menyembahnya. Disebelah tampak patung sin. Simbul bulan sabit dapat terlihat dengan
jelas pada dada patung tersebut).
(Bawah: Ziggurat yang digunakan baik sebagai kuil dan observatory perbintangan yang
dibangun dengan teknik yang paling maju ada masa itu. Bintang, rembulan dan matahari
menjadi objek utama dari penyembahan dan langi memiliki hal yang sangat penting. Di
sebelah kiri dan bawah adalah ziggurat utama dari bangsa Mesopotamia.
Pada masa Nabi Ibrahim,
agama politeisme
menyebar di wilayah
Mesopotamia. Sang Dewa
Bulan “Sin”, merupakan
salah satu berhala yang
paling penting. Orangorang
membuat patung
dari tuhan-tuhan mereka
dan menyembahnya. Di
sebelah tampak patung
Sin. Bentuk bulan sabit
terlihat jelas pada dada
patung tersebut. Zigurat,
yang digunakan baik
sebagai kuil dan tempat
pengamatan bintang,
merupakan bangunan
yang dibuat dengan
teknik paling maju pada
masa itu. Bintang, bulan
dan matahari menjadi
objek utama
penyembahan dan
karenanya, langit
merupakan hal sangat
penting. Di sebelah kiri
dan bawah adalah zigurat
utama bangsa
Mesopotamia.
Ibrahim Dalam Perjanjian Lama
Perjanjian Lama kemungkinan besar merupakan sumber paling detail dalam hal-hal yang
berkenaan dengan Ibrahim, meskipun banyak diantaranya yang mungkin tidak bisa
dipercaya. Menurut pembahasan dalam perjanjian lama, Ibrahim lahir sekitar 1900 SM di
kota Ur, yang merupakan salah satu kota terpenting saat itu yang berlokasi di Timur
Tengah dataran Mesopotamia. Pada saat lahir, Ibrahim tidak (belum) bernama "Ibrahim",
tetapi "Abram". Namanya kemudian kemudian dirubah oleh Allah (YHWH).
Pada suatu hari, menurut Perjanjian Lama, Tuhan meminta Ibrahim untuk mengadakan
perjalanan meninggalkan negeri dan masyarakatnya, menuju ke suatu negeri yang tidak
pasti dan memulai sebuah masyarakat baru di sana. Abram pada usia 75 tahun
mendengarkan seruan/pangilan itu dan melakukan perjalanan bersama istrinya yang
mandul yang bernama Sarai - yang kemudian dikenal dengan nama "Sarah" yang berarti
puteri raja - dan anak dari saudaranya yang bernama Lut. Dalam perjalanan menuju ke
"Tanah yang Terpilih (Chosen Land)" mereka singgah/tingal di Harran untuk sementara
waktu dan kemudian melanjutkan perjalanan mereka. Ketika mereka sampai di tanah
Kanaan yang djanjikan oleh Allah kepada mereka, mereka diberikan wahyu oleh Allah
berupa berupa pemberiahuan bahwa tempat tersebut secara khusus dipilihkan oleh Allah
buat mereka dan dianugerhkan buat mereka. Ketika Abram mencapai usia 99 tahun, dia
membuat perjanjian dengan Allah dan namanya kemudian dirubah menjadi Ibrahim
(Abraham). Dia meninggal pada usia 175 tahun dan dikubur di gua Macpelah yang
berdekatan dengan kota Hebron (e l-Kalil) di West Bank (tepi barat)yang hari ini wilayah
tersebut di bawah penguasan Israel. Tanah tersebut sebenarnya dibeli oleh Ibrahim
dengan sejumlah uang dan itu merupakan kekayaannya dan keluarganya yang pertama di
Tanah Yang Dijanjikan itu (Promise Land).
Tempat Kelahiran Ibrahim Menurut Perjanjian Lama
Dimanakah tempat dilahirkannya Ibrahim, tetaplah merupakan sebuah isu yang
diperdebatkan. Orang Kristen dan Yahudi menyatakan bahwa Ibrahim dilahirkan di
sebelah Selatan Mesopotamia, pemikiran yang lazim dalam dunia Islam adalah bahwa
tempat kelahiran nya adalah di sekitar Urfa-Harran. Beberapa penemuan baru
menunjukkan bahwa thesis dari kaum Yahudi dan Kristen tidaklah menyiratkan
kebenaran yang seutuhnya.
Orang Yahudi dan Kristen menyandarkan pendapat mereka pada Perjanjian Lama, karena
dalam Perjanjian lama tersebut, Ibrahim dikatakan telah dilahirkan di kota Ur sebelah
Selatan Mesopotamia setelah Ibrahim lahir dan dibesarkan di kota ini, dia dcieritakan
telah menempuh sebuah perjalanan menuju Mesir, dan dalam perjalanan tersebut mereka
melewati suatu tempat yang dikenal dengan nama Harran di wiayah Turki.
Meskipun demkian, sebuah manuskrip Perjanjian Lama yang ditemukan baru-baru ini,
telah memunculkan keraguan yang serius tentang kesahihan/validitas dari informasi di
atas. Dalam manuskrip yang ditulis dalam bahasa Yunani yang dibuat sekitar sekitar abad
ketiga SM, dimana manuskrip tersebut diperhitungkan sebagai salinan yang tertua dari
Perjanjian Lama, juga nama tempat "Ur" tidak pernah disebutkan. Hari ini banyak
peneliti Perjanjian Lama yang menyatakan bahwa kata-kata "Ur" tidak akurat atau bahwa
Ibahim tidak dilahirkan di kota Ur dan mungkin juga tidak pernah mengunjungi
daerah/wilayah Mesopotamia selama hidupnya.
Disamping itu, nama-nama beberapa lokasi serta daerah yang disebutkan itu, telah
berubah karena perkembangan jaman. Pada saat ini dataran Mesopotamia biasanya
merujuk kepada tepi sungai sebelah selatan dari daratan Irak, diantara sungai Efrat dan
Tigris. Lagipula, dua milinium (2000 tahun) sebelum kita, daerah Mesopotamia
digambarkan sebagai sebuah daerah yang letaknya lebih ke Utara, bahkan lebih jauh ke
autara sejauh Harran, dan membentang sampai ke daerah yang saat ini merupakan
daratan Turki. Karena itulah, bila sekalipun kita menerima pendapat bahwa "Dataran
Mesopotamia" yang disebutkan dalam Perjanjian Lama, tetap saja akan terjadi misleading
(keliru) untuk berpikir bahwa Mesopotamia dua millennium yang lebih awal dan
Mesopotamia hari ini adalah sebuah tempat yang persis sama.
Banhkan seandainya juga ada keraguan serius dan ketidaksepakatan tentang kota Ur
sebagai tempat kelahiran Ibrahim, tetapi ada sebuah pandangan umum yang disetujui
yaitu tentang fakta bahwa Harran dan daerah yang melingkupinya adalah tempat dimana
Nabi Ibrahim hidup. Lebih dari itu, peneliltian singkat yang dilakukan terhadap isi
Perjanjian Lama tersebut memunculkan beberapa informasi yang mendukung pandangan
bahwa tempat kelahiran Nabi Ibrahim adalah Harran. Sebagai contoh di dalam Perjanjian
Lama, daerah Harran ditunjuk sebagai "daerah Artam" (Genesis, 11:31 dan 28:10).
Disebutkan bahwa orang yang datrang dari keluarga Ibrahim adalah "anak-anak dari
seorang Arami" (Deutoronomi, 26:5). Identifikasi penyebutan Ibrahim dengan sebutan
"seorang Arami" menunjukkan bahwa beliau (Ibrahim) melangsungkan kehidupannya di
daerah ini.
Dalam berbagai sumber agama Islam, terdapat bukti yang kuat bahwa tempat kelahiran
Ibrahim adalah Harran dan Urfa. Di Urfa yang disebut dengan "kota para Nabi" ada
banyak cerita dan legenda tentang Ibrahim.
Mengapa Perjanjian Lama Dirubah?.
Perjanjian Lama dan Al Qur'an dalam mengungkapkan kisah tentang Ibrahim, tampaknya
hampir-hampir menggambarkan dua orang sosok Nabi yang berbeda, yang bernama
Abraham dan Ibrahim. Dalam Al Qur'an, Ibrahim diutus sebagai rasul bagi sebuah kaum
penyembah berhala. Kaum Ibrahim tersebut menyembah surga-surga, bintang-bintang
dan rembulan serta berbagai sembahan lain. Dia berjuang melawan kaumnya dan selalu
berusaha untuk mencoba agar mereka meninggalkan kepercayaan-kepercayaan tahayul
dan secara tidak terhindarkan, hal; itu juga telah membangkitkan nyala api permusuhan
dari seluruh masyarakatnya bahkan termasuk ayahnya sendiri.
Sebenarnya, tidak ada satupun dari hal yang disebutkan diatas diceritakan dalam
Perjanjian Lama. Dilemparkannya Ibrahim ke dalam api, bagaimana Ibrahim
menghancurkan berhala-berhala yang disembah oleh masyarakatnya, tidaklah disebutkan
dalam Perjanjian Lama. Secara umum Ibrahim digambarkan sebagai nenek moyang
bangsa Yahudi dalam Perjanjian Lama. Hal ini menjadi bukti bahwa pandangan di dalam
Perjanjian Lama ini dibuat oleh para pemimpin masyarakat Yahudi yang mencoba
memberikan pijakan di masa mendatang konsep "ras/suku bangsa". Bangsa Yahudi
percaya bahwamereka adalah kaum yang selalu dipilih oleh Tuhan dan merasa lebih
unggul dari yang lainya. Mereka dengan sengaja dan penuh keinginan untuk mengubah
kitab Suci mereka dan membuat penambahan-penambahan serta berbagai pengurangan
berdasarkan keyakinan seperti di atas. Inilah sebabnya mengapa Ibrahim digambarkan
sebagai nenek moyang bangsa Yahudi belaka dalam Perjanjian Lama.
Penganut Kristen yang percaya terhadap Perjanjian Lama, berpikir bahwa Ibrahim adalah
nenek moyang bangsa Yahudi, namun hanya terdapat satu perbedaan; menurut penganut
Kristen, Ibrahim bukanlah seorang Yahudi namun ia adalah seorang Kristen. Penganut
Kristen yang tidak begitu memperhatikan konsep mengenai ras/suku bangsa sebagaimana
dilakukan Yahudi, mengambil pendirian ini dan hal ini menjadi salah satu penyebab
perbedaan dan pertentangan diantara kedua agama ini. Allah memberikan keterangan
sebagaimana yang disebutkan dalam Al Qur'an sebagai berikut :
Hai ahli kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat
dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?.
Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah-membantah tentang hal yang kamu
ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah dalam hal yang tidak kamu ketahui;
Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.
Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani akan tetapi dia
adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah
dia dari golongan orang yang musyrik".
Sesungguhnya orang yang paling dekat kepaa Ibrahim adalah orang-orang
yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) serta orang-orang yan beriman
(kepada Muhammad), dan Allah adalah pelindung semua orangh-orang yang
beriman.(QS Ali Imran 65-68).
Di dalam Al Qur'an sangatlah berbeda dengan apa yang ditulis dalam Perjanjian Lama,
Ibrahim adalah seseorang yang memperingatkan kaumnya agar mereka takut kepada
Allah, serta bahwa dia adalah seseorang yang berperang/berjuang melawan kaumnya itu
pada akhirnya. Dimulai sejak masa mudanya, ia memperingatkan kaumnya yang
m,enyembah berhala-berhala untuk menghentikan perbuatan mereka itu. Sebagai reaksi,
kaumnya bertindak dengan mencoba untuk membunuh Ibrahim. Untuk menghindar dari
kejahatan yang dilakukan oleh kaumnya, maka Ibrahimpun akhirnya berpindah tempat.
CATATAN
1. Everett C. Blake, Anna G. Edmonds, Biblical Sites in Turkey, Istanbul: Redhouse Press, 1977, hlm. 13

kisah bag.3


Bukti-Bukti Arkeologis tentang Banjir
Bukanlah suatu hal yang kebetulan bila masa sekarang ini kita sedang mengungkap
jejak-jejak dari mayoritas komunitas manusia yang oleh al-Qur'an dikatakan telah
dibinasakan. Bukti-bukti arkeologis menyajikan fakta, bahwa semakin mendadak
kehancuran sebuah komunitas terjadi, semakin memungkinkan bagi kita untuk melacak
jejak-jejaknya.
Dalam kasus apabila sebuah peradaban hancur secara tiba-tiba, yang ini bisa saja
terjadi karena bencana alam, perpindahan tempat (migrasi) yang mendadak, atau karena
perang, jejak-jejak peradaban sering bisa lebih terpelihara. Rumah-rumah yang mereka
huni, peralatan-peralatan yang mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari, tidak
lama kemudian akan terkubur di bawah bumi. Jadi, jejak-jejak peninggalan mereka itu
bisa terpelihara dalam waktu yang lama dan tidak tersentuh oleh manusia, dan itu semua
merupakan bukti yang penting tentang sejarah masa lampau bila diungkapkan pada saat
sekarang.
Inilah masalah besar sehubungan dengan bukti tentang Banjir masa Nabi Nuh yang telah
diungkap pada saat ini. Walaupun peristiwa penghancuran kaum Bani Nuh itu telah
terjadi sekitar millenium ketiga sebelum Masehi (SM), banjir itu telah mengakhiri
seluruh peradaban untuk jangka waktu tertentu, dan kemudian, menyebabkan lahirnya
lagi sebuah peradaban yang baru di daerah tersebut. Jadi, bukti-bukti yang muncul
tentang banjir ini telah terpelihara selama ribuan tahun agar kita bisa mengambil
pelajaran darinya.
Usaha-usaha penggalian telah dilakukan dalam rangka menginvestigasi peristiwa banjir
yang telah menenggelamkan daratan-daratan di wilayah Mesopotamia. Dalam
penggalian-penggalian yang dilakukan di wilayah tersebut, di empat kota utama
ditemukan jejak-jejak yang menunjukkan bahwa telah terjadi sebuah banjir yang besar.
Kota-kota tersebut adalah kota-kota penting di Mesopotamia; Ur, Erech, Kish, dan
Shuruppak.
Penggalian-penggalian yang dilakukan di kota-kota ini telah mengungkap bahwa semua
dari empat kota ini telah dilanda sebuah banjir pada sekitar millenium ketiga Sebelum
Masehi.
Pertama, mari kita lihat penggalian-penggalian yang dilakukan di Kota Ur.
Sisa-sisa tertua dari sebuah peradaban yang tersingkap dari penggalian di kota Ur, yang
telah diganti namanya menjadi "Tell al Muqayyar" pada masa sekarang ini, menunjuk
pada suatu masa 7000 tahun SM. Sebagai sebuah situs yang pernah menjadi lokasi bagi
peradaban-peradaban tertua, kota Ur telah menjadi sebuah wilayah hunian di mana
berbagai kebudayaan tampil silih berganti.
Temuan arkeologis dari kota Ur memperlihatkan bahwa di sinilah peradaban telah
pernah terputus setelah terjadinya sebuah banjir dahsyat, dan kemudian, peradabanperadaban
baru tampil. R.H. Hall dari British Museum melakukan penggalian yang
pertama di tempat ini. Leonard Woolley yang melakukan penggalian meneruskan setelah
Hall, yang juga menjadi supervisor (pengawas/pembimbing) penggalian yang secara
kolektif diorganisir oleh the British Museum dan University of Pensilvania. Penggalianpenggalian
yang dilakukan oleh Woolley, yang telah memberikan pengaruh besar di
seluruh dunia, berlangsung dari 1922 sampai 1934.
Penggalian yang dilakukan Sir Woolley mengambil lokasi di tengah-tengah padang pasir
antara Baghdad dan Teluk Persi. Pendiri pertama kota Ur adalah orang-orang yang
datang dari Mesopotamia Utara dan mereka menyebut diri mereka dengan "Ubaidian".
Pada awalnya, penggalian itu dilakukan untuk menghimpun informasi berkenaan dengan
orang-orang tersebut. Penggalian yang dilakukan Woolley digambarkan oleh seorang
arkeolog Jerman, Werner Keller, sebagai berikut:
"Kuburan Raja-Raja Ur"- begitu ungkap Woolley dalam kegembiraan besar tatkala
menemukan, telah membubuhkan lubang kuburan bagi kejayaan Sumeria, yang
kehebatan kekuasaannya telah tersingkap saat skop/cangkul para arkeolog mengenai
sebuah tanggul sepanjang 50 kaki di sebelah selatan candi dan ditemukan sebuah
deretan panjang dari pekuburan yang sangat menarik. Kubah/kolong batu yang
ditemukan benar-benar merupakan peti-peti harta yang berharga, yang dipenuhi dengan
piala-piala yang mahal, kendi-kendi dan vas-vas yang dibentuk secara menakjubkan,
barang becah belah terbuat dari perunggu, kepingan-kepingan mutiara, lapis lazuli, dan
perak yang mengelilingi tubuh-tubuh tersebut, yang telah terbentuk menjadi debu/abu.
Barang-barang semacam kecapi dan lyre disandarkan di dinding-dinding. "Hampir
hanya dalam sekali" dia kemudian menulis dalam buku hariannya, "penemuan-penemuan
dihasilkan yang telah memberikan ketegasan tentang kecurigaan-kecurigaan kami. Tepat
di bawah lantai dari salah satu lubang kubur para raja kami menemukan sebuah lapisan
abu berbagai tablet tanah liat, yang tertutupi oleh huruf-huruf yang jauh lebih tua
dibandingkan dengan prasasti di atas kuburan. Dengan mendasarkan pada sifat dari
tulisan yang ada, tablet-tablet tersebut bisa diduga dibuat pada sekitar tahun 3000 SM.
Berarti, itu dua atau tiga abad lebih awal dari lubang kuburan tersebut."
Terowongan/lubang itu ternyata masih bisa dirunut lebih dalam. Tingkatan yang baru,
dengan pecarhan-pecahan kendi, pot dan mangkuk masih tetap nampak terjaga. Para
ahli (ilmuwan) memperhatikan bahwa barang-barang tembikar itu masih cukup
mengejutkan karena tetap tidak berubah. Benar-benar nampak seperti yang telah
ditemukan di pekuburan para raja. Karena itulah, nampaknya selama beberapa abad
peradaban Sumeria tidak mengalami perubahan yang radikal. Mereka tentulah, menurut
kesimpulan yang bisa ditarik, telah mencapai tingak perkembangan yang tinggi yang
menakjubkan pada awal peradaban mereka.
Setelah beberapa hari penggalian dilakukan, beberapa pekerja Woolley berteriak
kepadanya, "Kita telah sampai paga lapisan dasar (ground)", dia kemudian turun sendiri
menuju lantai lubang galian agar bisa puas menyaksikan. Semula, pikiran Woolley
adalah bahwa "Ini adalah penggalian yang terakhir". Wujudnya adalah pasir, pasir
murni yang hanya bisa dikandung oleh air.
Mereka memutuskan untuk menggali lapisan tersebut dan membuat lubang lebih dalam
lagi. Semakin dalam, semakin dalam menuju dasar: tiga kaki, enam kaki -- masih penuh
lumpur. Tiba-tiba, pada kedalaman sepuluh kaki, lapisan lumpur terhenti tiba-tiba. Di
bawah deposit tanah liat ini sekitar sepuluh kaki tebalnya, mereka menemukan buktibukti
baru dari hunian manusia. Wujud dan kualitas dari tembikar telah jelas berubah.
Di sini, barang-barang itu adalah bikinan tangan. Besi belum juga ditemukan di sini.
Peralatan primitif yang nampak adalah peralatan yang terbuat dari tebangan batu api.
Ini mesti terjadi pada masa Zaman Batu!.
Banjir. Itulah penjelasan yang paling mungkin bagi deposit yang tanah liat yang besar di
bawah bukit di kota Ur, yang secara cukup jelas telah memisahkan dua zaman
kehidupan. Samudera telah meninggalkan jejak-jejak yang tidak terpungkiri dalam
bentuk sisa-sisa organisme laut yang terlekat/tersimpan dalam lumpur. 1
Berdasarkan
penemuan arkeologis,
banjir Nabi Nuh
terjadi di daratan
Mesopotamia. Kala itu,
daratan ini memiliki
bentuk yang berbeda.
Pada gambar di atas,
daratan tersebut kini
dibatasi oleh bagian
yang ditandai dengan
garis merah putusputus.
Wilayah luas
yang terletak di
belakang garis merah
tersebut diketahui
dahulunya sebagai bagian dari laut.
Analisa dengan mikroskop mengungkapkan bahwa deposit tanah liat di depan bukit di
kote Ur telah terkumpul disebabkan oleh banjir yang begitu besar yang telah meludeskan
peradaban Sumeria kuno. Epik tentang Gilgamesh dan cerita tentang Nuh tersatukan
dengan lubang galian yang dalam di bawah gurun Mesopotamia.
Max Mallowan menghubungkan pikiran-pikiran Leonard Woolley , yang menyatakan
bahwa endapan massif yang besar itu terbentuk dalam satu waktu tertentu yang hanya
bisa terjadi dikarenakan bencana banjir yang sangat besar. Woolley juga
menggambarkan tentang permukaan banjir yang telah memisahkan kota di Sumeria, kota
Ur dengan kota Al-Ubaid yang penduduknya biasa bekerja mengecat barang tembikar,
sebagaimana yang masih tersisa dari peristiwa banjir tersebut.2
Ini semua menunjukkan bahwa kota Ur adalah salah satu dari berbagai daerah yang
terkena banjir. Werener Keller mengekspressikan arti penting dari penggalian yang telah
disebutkan di atas dengan menyatakan bahwa hasil dari sisa-sisa kota di bawah lapisan
tanah lumpur dalam penggalian arkeologis di Mesopotamia membuktikan bahwa dahulu
kala pernah terjadi banjir di tempat ini. 3
Kota lain yang masih menyimpan jejak-jejak dari banjir Nuh adalah kota Kish di
Sumeria, yang saat ini dikenal dengan nama "Tall al-Uhaimer". Menurut sumber-sumber
Sumeria kuno, kota ini merupakan tempat kedudukan "tahta dari dinasi 'postdiluvian'
yang pertama".4
Kota Shurrupak di sebelah selatan Mesopotamia , yang saat ini diberi nama dengan
"Tall Far'ah", demikian juga, menyimpan jejak-jejak yang masih terlihat dari peristiwa
banjir tersebut. Studi arkeologis yang dilakukan di kota ini dipimpin oleh Erich Schmidt
dari the University of Pensilvania antara tahun 1922-1930. Penggalian-penggalian yang
dilakukan mengungkapkan adanya tiga lapisan yang pernah dihuni oleh manusia dalam
rentang waktu sejak masa pra sejarah hingga dinasti Ur ketiga ( 2112-2004 SM).
Temuan yang paling istimewa adalah reruntuhan dari sebuah bangunan rumah-rumah
yang bagus sepanjang tablet (belahan-belahan batu/prasasti) tulisan-tulisan kuno
berbentuk baji (cuneiform) dari simpanan administrasi dan daftar-daftar kata,
mengindikasikan adanya sebuah masyarakat yang telah berkembang maju hingga akhir
millenium keempat Sebelum Masehi. 5
Penggalian yang dilakukan
oleh Sir Leonard Woolley
di daratan Mesopotamia
menyingkap adanya lapisan
tanah liat berlumpur
dengan ke dalaman 2,5 m
di dalam tanah. Lapisan
tanah liat berlumpur ini
sangat mungkin terbentuk
oleh sejumlah besar tanah
liat yang terbawa air bah,
dan di seluruh dunia, ini
hanya terdapat di bawah daratan Mesopotamia. Penemuan ini menjadi
sebuah bukti penting yang membenarkan bahwa banjir tersebut hanya
terjadi di dataran Mesopotamia.
Masalah terpenting adalah bahwa sebuah banjir besar telah bisa dipahami dengan jelas
terjadi di kota ini pada sekitar 2900-3000 SM. Menurut perhitungan yang dilakukan
Mallowan, 4-5 meter di bawah tanah, Schmidt telah mencapai lapisan tanah kuning
(yang dibentuk oleh banjir) yang terbentuk dari sebuah campuran antara tanah liat dan
pasir. Lapisan ini lebih dekat ke dataran daripada profil tumulus dan bisa diamati
seluruhnya di seputar tumulus…. Schmidt mendefinisikan bahwa lapisan ini terbentuk
dari campuran tanah liat dan pasir, yang masih tersisa sejak masa Kerajaan Kuno
Cemdet Nasr, sebagai "sebuah pasir yang masih dengan keasliannya di dalam sungai"
dan ini diasosiasikan dengan Banjir Nuh. 6
Di dalam penggalian yang dilakukan di kota Shuruppak, sisa-sisa sebuah banjir bisa
ditemukan yang masih berhubungan dengan kurang lebih tahun 2900-3000 SM.
Mungkin, kota Shuruppak terkena imbas dari banjir sebebesar imbas yang diderita kotakota
lain. 7
Tempat (kota) yang terakhir yang terkena banjir adalah kota Erech hingga sebelah
selatan kota Shuruppak yang saat ini dikenal dengan nama "Tall al-Warka". Di kota ini,
sebagaimana di kota-kota yang lainnya, lapisan sebuah banjir juga nampak. Lapisan ini
merujuk pada masa 2900-3000 SM sebagaimana yang lain. 8
Sebagaimana diketahui dengan baik, sungai Eufrat dan Tigris memotong menyeberangi
Mesopotamia dari ujung satu ke ujung yang lain. Nampaknya bahwa selama masa itu,
dua sungai ini dan disertai banyak sumber mata air, besar maupun kecil, meluap, dan,
dengan bersatunya dengan air hujan, telah menyebabkan sebuah banjir yang dahsyat.
Peristiwa itu digambarkan dalam al-Qur'an:
Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah (11).
Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air itu
untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan (12). (QS. Al-Qamar: 11-12).
Ketika faktor-faktor yang menyebabkan banjir itu dibahas satu persatu, nampaklah
bahwa kesemuanya itu merupakan fenomena yang sangat alami. Adapun yang
menjadikan peristiwa itu penuh mukjizat adalah karena kejadiannya pada saat yang
bersamaan dengan peringatan Nabi Nuh kepada kaumnya tentang akan datangnya
bencana semacam itu sebelumnya.
Pengujian terhdap bukti yang didapat dari studi yang komplet mengungkapkan bahwa
daerah banjir membentang sekitar 160 km (lebar) dari timur sampai barat, dan 600 km
(panjang) dari utara sampai selatan. Ini menunjukkan bahwa banjir tersebut menutupi
seluruh daratan-daratan di Mesopotamia. Ketika kita membahas urut-urutan kota Ur,
Erech, Shuruppak dan Kish yang menyembulkan jejak-jejak banjir Nuh, kita melihat
bahwa kota-kota ini berada dalam satu garis sepanjang rute tersebut. Karena itulah,
banjir tersebut pastilah telah mengenai keempat kota ini dan daerah-daerah sekitarnya.
Di samping itu, harus dicatat bahwa pada sekitar 3000 tahun BC, struktur geografis dari
daratan Mesopotamia berbeda dengan kondisi yang ada sekarang. Pasa masa tersebut,
posisi sungai Eufrat terletak lebih ke timur dibandingkan dengan posisi sungai tersebut
saat ini; garis arus sungai ini ternyata dulunya sama dengan garis yang melewati
menembus kota Ur, Erech, Shuruppak dan Kish. Dengan terbukanya "mata air di bumi
dan di surga", agaknya sungai Eufrat meluap dan mengalir tersebar sehingga merusak
empat kota yang disebut di atas.
Catatan
1. Werner Keller, Und die Bibel hat doch recht (The Bible as History; a Confirmation of the Book of
Books), New York: William Morrow, 1964, hlm. 25-29
2. Max Mallowan, Nuh's Flood Reconsidered, Iraq:XXVI-2, 1964, hlm. 70
3. Werner Keller, Und die Bibel hat doch recht (The Bible as History; a Confirmation of the Book of
Books), New York: William Morrow, 1964, hlm. 23-32
4. "Kish", Britannica Micropaedia, Volume 6, hlm. 893
5."Shuruppak", Britannica Micropaedia, Volume 10, hlm. 772
6 Max Mallowan, Early Dynastic Period in Mesapotamia, Cambridge Ancient History 1-2, Cambridge:
1971, hlm. 238
7 Joseph Campbell, Eastern Mythology, hlm. 129
8 Bilim ve Utopya, July 1996, 176. Footnote hlm. 19

kisah bag.2


GENERASI-GENERASI MASA LAMPAU
Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang
sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk
Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah?. Telah datang kepada
mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata; maka Allah tidaklah
sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi mereka lah yang menganiaya diri
mereka sendiri.(QS. At-Taubah: 70)
Pesan-pesan suci, disampaikan untuk umat manusia oleh Allah melalui utusan-utusan-
Nya, telah dikomunikasikan kepada kita sejak penciptaan umat manusia, Beberapa
masyarkat/kaum telah menerima pesan/ajaran ini sementara yang lain telah
mengingkarinya. Adakalanya, ada sejumlah kecil dari suatu masyarakat yang mau
menerima perintah suci tersebut mengikuti seorang pembawa risalah(nabi).
Namun sebagian besar dari masyarakat yang telah didatangi risalah suci tersebut tidak
bersedia menerimanya. Mereka tidak hanya mengabaikan pesan suci yang disampaikan
oleh sang pembawa pesan, namun juga berusaha untuk melakkan perbuatan keji terhadap
para pembawa pesan dan para pengikutnya. Para pembawa pesan suci tersebut biasanya
dituduh serta difitnah sebagai "pembohong, sihir, orang yang sakit gila dan penuh dengan
kesombongan" dan menjadi pemimpin dari banyak orang yang harus mereka cari-cari
untuk dibunuh.
Semua hal yang diinginkan oleh para nabi dari kaumnya adalah kepatuhan mereka
kepada Allah. Mereka tidak meminta uang ataupun berbagai keuntungan dunia lainnya
sebagai balasan. Dan juga mereka tidak berusaha memaksa kaum mereka. Yang mereka
inginkan hayalah mengajak kaum mereka kepada agama yang haq dan bahwa mereka
seharusnya memulai sebuah jalan hidup yang berbeda bersama dengan para pengikutnya
terpisah dari masyarkat.
Apa yang telah terjadi antara Syu'aib dan kaum Madyan dimana dia diutus,
menggambarkan hubungan antara nabi dengan kaumnya sebagaimana yang disebutkan
dimuka. Reaksi dari suku Syu'aib terhadap Syu'aib, yang menyerukan kepada mereka
untuk beriman kepada Allah dan menghentikan semua tindakan ketidakadian yang telah
mereka lakukan, dan bagaimana itu semua berakhir sangatlah menarik :
Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka Syu'aib, Ia berkata:
"Hai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan selain Dia. Dan jaganlah
kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam
keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan
azab hari yang membinasakan (kiamat)."
Dan Syu'aib berkata: "hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan
adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan
janganlah kamu berbuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.
Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagi kamu jika kamu orang-orang
yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas diri kamu.
Mereka berkata: "Hai Syu'aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar
meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami
berbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah
seorang yang sangat penyantun lagi berakal.
Syu'aib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti
yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku daripada-Nya rezeki yang baik
(patutkah aku menyalahi perintah-Nya). Dan aku tidak berkehendak mengerjakan
apa yang aku larang kamu daripadanya. Aku tidak bermaksud kecuali
(mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada
taufik bagiku, melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku
bertawakal dan hanya kepada-Nya lah aku kembali.
Hai kaumku, janganlah hendakya pertentangan antara aku (dengan kamu)
menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang
menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaun Luth tidak
(pula) jauh (tempatnya) dari kamu.
Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya.
Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi maha Pengasih.
Mereka berkata: "Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu
katakana itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang
benar-benar lemah diantara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah
kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa
disisi kami.
Syu'aib menjawab: "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut
pandanganmu daripada Allah, sedangkan Allah kamu jadikan sesuatu yang
terbuang dibelakangmu?. Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa
yang kamu kerjakan".
Dan (dia berkata): "Hai kaumku, berbuatalah menurut kemampuanmu,
sesungguhya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang
akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah
azab (tuhanku), sesungguhnya akupun menungu bersama kamu."
Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang
beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang
yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka
mati bergelimpangan di tempat tinggalnya. Seolah-olah mereka belum pernah
berdiam di tempat itu. Ingatlah kebinasaanlah bagi penduduk Madyan
sebagaimana kaum Tsamud yang telah binasa.(QS Huud 84-95).
Dengan memikirkan "batu /prasasti Syu'aib" yang tidak lain kecuali menerukan mereka
kepada kebaikan, kaum Mdyan dihukum dengan kutukan dari Allah dan merekapun telah
dibinasakan sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat diatas. Masyarakat Madyan
bukanlah satu-satunya contoh. Sebaliknya sebagaimana Syu'aib sedang berbicara kepada
kaumnya, banyak masyarakat yang telah ada lebih dahulu sebelum masyarakat Madyan
yang telah dibinasakan. Setelah Madyan, banyak masyarakat lain yang juga dihancurkan
oleh kemurkaan Allah.
Di dalam halaman-halaman berikut, kita akan menyebutkan masyarakat-masyarakat yang
telah disebutkan diatas yang telah dibinasakan dan sisa-sisa peninggalan mereka. Di
dalam Al Qur'an, masyarakat-masyarakat ini disebutkan secara mendetail dan orangorang
diajak untuk merenungkan dan mengambil pelajaran serta peringatan tentang
bagaimana kaum-kaum ini berakhir.
Pada titik ini, Al Qur'an secara khusus menarik perhatian terhadap kenyataan bahwa
sebagian besar dari masyarakat yang dihancurkan tersebut memiliki tingkat peradaban
yang tinggi. . Di dalam Al Qur'an, sifat-sifat dari kaum-kaum yang dihancurkan
ditekankan sebagai berikut:
Dan berapa banyakkah umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka
yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini, maka mereka (yang
telah dibinasakan itu) telah pernah menjajah di beberapa negeri. Adakah (mereka)
mendapat tempat lari (dari kebinasaan)?.(QS Qaf 36).
Dalam ayat tersebut, dua sifat dari kaum yang telah dihancurkan secara khusus
ditekankan. Yang pertama adalah mereka merasa "lebih besar kekuatannya". Hal ini
berarti bahwa masyarakat-masyarakat yang telah dibinasakan tersebut telah berada dalam
suatu tingkat kedisiplinan dan system birokrasi militer yang tangguh dan merenggut
kekuatan diwilayah mereka berada memalui dengan cara paksaan kekuatan. Point kedua
adalah masyarakt-masyarakat yang telah disebutkan dimuka mendirikan kota-kota besar
yang dihiasai dengan karya-karya arsitektur mereka.
Hal ini patut untuk diperhatikan bahwa dari kedua macam sifat-sifat ini termasuk yang
dimiliki oleh peradaban yang ada dijaman kita sekarang ini, yang telah membentuk
sebuah kebudayaan dunia yang begitu luas melalui ilmu pengetahuan dan teknologi saat
ini dan telah mendirikan negara-negara yang tersentralisir, kota-kota besar, namun
mereka masih tetap mengingkari dan mengabaikan Allah, melupakan bahwa semua hal
tersebut memungkinkan untuk dibuat kaena Kekuasan Allah saja. Namun, sebagaimana
dikatakan di dalam ayat, peradaban mereka yang telah berkembang tidak bisa
menyelamatkan masyarakat yang telah dihancurkan tersebut, dikarenakan peradaban
mereka berdiri diatas landasan pengingkaran terhadap Allah. Akhir dari peradaban saat
inipun tidak akan berbeda selama peradaban sekarang ini berdasarkan kepada
pengingkaran dan berperilaku jahat di dunia.
Sejumlah peristiwa penghancuran, beberapa diantaraya yang diceritakan dalam Al
Qur'an, telah dibenarkan oleh berbagai penelitian arkeologis yang dilakukan di jaman
modern, Temuan-temuan ini yang secara jelas membuktikan bahwa peristiwa-peristiwa
yang dikutip dalam Al Qur'an benar-benar pernah terjadi, menjelaskan perlunya untuk
menjadi "peringatan terlebih dahulu" yang banyak digambarkan dalam kisah-kisah Al
Qur'an. Allah berfirman di dalam Al Qur'an bahwa penting untuk "bepergian di muka
bumi" dan "melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka".
Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan
wahyu kepadanya diantara penduduk negeri. Maka tidaklah mereka bepergian di muka
bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang
mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orangorang
yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memikirkanya.
Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harrapan lagi (tentang keimanan mereka)
dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada rasul itu
pertolongan Kami, lalu diselamatkanlah orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak
dapat ditolak siksa Kami daripada orang-orang yang berdosa.
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang
yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi
membenarkan (kiab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan
sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.(QS Yusuf 109-111).
Sesungguhnya, terdapat banyak contoh dalam kisah-kisah tentang masyarakat di waktu
lampau bagi orang-orang yang dikaruniai kepahaman. Kehancuran mereka yang
disebabkan oleh pemberontakan mereka terhadap Allah dan penolakan terhadap perintahperintah-
Nya, kaum-kaum ini mengungkapkan kepada kita betapa lemah dan tidak
berdayanya umat manusia dhadapan Allah. Di dalam halaman-halaman berikut, kita akan
mempelajari contoh-contoh dalam susunan yang urut berdasarkan kronologi kejadiannya.
BANJIR NABI NUH
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di
antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir
besar dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al Ankabut: 14)
Sebagaimana Banjir Nuh itu juga dikisahkan dalam hampir seluruh kebudayaan manusia,
banjir Nuh adalah salah satu dari sekian banyak contoh kisah-kisah yang paling banyak
diuraikan dalam al-Qur'an. Kengganan umat Nabi Nuh terhadap nasehat dan peringatan
dari Nabi Nuh, bagaimana reaksi mereka terhadap risalah Nabi Nuh, serta bagaimana
peristiwa banjir selengkapnya terjadi, semuanya diceritakan dengan sangat detail dalam
banyak ayat al-Qur'an.
Nabi Nuh diutus untuk mengingatkan umatnya yang telah meninggalkan ayat-ayat Allah
dan menyekutukanNya, dan menegaskan kepada mereka untuk hanya menyembah Allah
saja dan berhenti dari sikap pembangkangan mereka. Meskipun Nabi Nuh telah
menasehati umatnya berkali-kali untuk mentaati perintah Allah serta mengingatkan akan
murka Allah, mereka masih saja menolak dan terus menyekutukan Allah.
Tentang bagaimana kejadian itu berkembang, dilukiskan dengan jelas dalam ayat-ayat
berikut:
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Lalu ia berkata
"Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan
bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya)?". Maka
pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: "Orang ini tidak
lain hanyalah manusia seperti kamu , yang bermaksud hendak menjadi seorang
yang lebih tinggi dari kamu . Dan kalau Allah menghendaki , tentu Dia mengutus
beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar seruan (seruan yang
seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. Ia tidak lain hanyalah
seorang laki-laki yang berpenyakit gila , maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya
sampai suatu waktu. Nuh berdoa, "Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka
mendustakanku" .(Al-Mukminun : 23-26)
Sebagaimana dikemukakan dalam ayat-ayat tersebut, pemuka masyarakat di sekitar Nabi
Nuh berusaha menuduh bahwa Nabi Nuh telah berusaha untuk munjukkan
superioritasnya atas masyarakat lingkungannya, mencari keuntungan pribadi seperti
status sosial, kepemimpinan dan kekayaan......
Karena itulah, Allah menyampaikan pada Rasulullah Nuh bahwa mereka yang menolak
kebenaran dan melakukan kesalahan akan dihukum dengan detenggelamkan, dan mereka
yang beriman akan diselamatkan.
Maka, pada saat hukuman datang, air dan aliran yang sangat deras muncul dan
menyembur dari dalam tanah, yang dibarengi dengan hujan yang sangat lebat, telah
menyebabkan banjir yang dahsyat. Allah memerintahkan kepada Nuh untuk "menaikkan
ke atas berahu pasangan-pasangan dari setiap species, jantan dan betina, serta
keluarganya". Seluruh manusia di daratan tersebut ditenggelamkan ke dalam air,
termasuk anak laki-laki Nabi Nuh yang semula berpikir bahwa dia bisa selamat dengan
mengungsi ke sebuah gunung yang dekat. Semuanya tenggelam kecuali yang dimuat di
dalam perahu bersama Nabi Nuh. Ketika air surut di akhir banjir tersebut, dan "kejadian
telah berakhir", perahu terdampar di Judi, yaitu sebuah tempat yang tinggi, sebagaimana
yang diinformasikan oleh Qur'an kepada kita.
Studi arkeologis, geologis, dan studi historis menunjukkan bahwa insiden tersebut terjadi
dengan cara yang sangat mirip dan berhubungan dengan informasi al-Qur'an. Banjir
tersebut juga digambarkan secara hampir mirip di dalam beberapa rekaman atas
peradaban-pertadaban masa lalu di dalam banyak dokumen sejarah, meski ciri-ciri dan
nama-nama tempat bervariasi, dan "seluruh apa yang terjadi pada sebuah asbak manusia"
disajikan untuk manusia saat ini dengan tujuan sebagai peringatan.
Di samping dikemukakan dalam Perjanjian Lama, kisah tentang banjir Nuh ini diungkap
dengan cara yang hampir mirip dalam rekaman-rekaman sejarah Sumeria dan Assiria-
Babilonia, dalam legenda-legenda Yunani, dalam Shatapatha, Brahmana serta epik-epik
dalam Mahabarata dari India, dalam beberapa legenda dari Welsh di British Isles, di
dalam Nordic Edda, dalam legenda-leganda Lituania, dan bahkan dalam cerita-cerita
yang berasal dari Cina.
Bagaimana mungkin bisa terjadi, cerita-cerita yang sebegitu detail dan konsisten bisa
didapat dari daratan-daratan yang secara gegografis dan kultural berbeda jauh, yang
saling berjauhan letaknya baik antara satu tempat dengan tempat yang lainnya, maupun
dari tempat-tempat tersebut dengan tempat terjadinya banjir?.
Jawabannya sangat jelas: fakta bahwa peristiwa yang sama, yang saling berkaitan dalam
berbagai rekaman sejarah berbagai bangsa tersebut, yang mana sangat kecil
kemungkinannya bahwa mereka bisa saling berkomunikasi (mengingat masih rendahnya
peradaban masa itu), itu semua merupakan bukti yang sangat gamblang bahwa orangorang
dari berbagai bangsa itu menerima pengetahuan tentang banjir itu dari sebuah
sumber Ilahiah. Nampaknya bahwa banjir Nuh, salah satu dari tragedi yang paling besar
dan destruktif sepanjang sejarah itu, telah diriwayatkan oleh banyak Nabi yang diutus ke
berbagai peradaban bangsa-bangsa dengan tujuan untuk memberikan sebuah contoh atau
I'tibar. Dengan demikian bisalah dipahami dengan mudah bahwa berita tentang banjir
Nuh itu tersebar dalam berbagai budaya di dunia.
Namun, di balik diriwayatkannya kejadian itu dalam berbagai budaya dan sumbersumber
ajaran berbagai agama, cerita banjir dan tragedi yang terjadi pada masa Nabi Nuh
itu telah mengalami perubahan yang cukup banyak dan telah terpendar dari kisah aslinya
dikarenakan kepalsuan berbagai sumber ceritanya, pemindahan cerita dengan cara yang
tidak benar, atau bahkan mungkin dikarenakan memang sengaja dilakukan untuk suatu
tujuan-tujuan yang tidak baik. Riset menunjukkan bahwa, di antara sekian banyak
riwayat tentang banjir Nuh yang secara mendasar masih berkaitan namun dengan
berbagai perbedaan, satu-satunya penggambaran (periwayatan) yang paling konsisten
hanya satu, yakni di dalam al-Qur'an.
Nabi Nuh dan Banjir dalam al-Qur'an
Banjir Nuh disebutkan dalam banyak ayat di dalam al-Qur'an. Di bawah ini bisa dilihat
ayat-ayat yang disusun berdasarkan urut-urutan peristiwa banjir tersebut:
Nabi Nuh Menyeru Kaumnya pada Agama Kebenaran
Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnyalalu ia berkata: "Wahai
kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selainNya".
Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa
azab hari yang besar (kiamat)". (Al-A'raf: 59)
Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,
maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak
minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari
Tuhan semesta alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. QS.
Asy-Syuara': 107-110)
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Lalu ia berkata
"Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan
bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya)?".QS. Al-
Mukminun: 23)
Peringatan Nabi Nuh kepada kaumnya untuk Menghindari Hukuman dari Allah
Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan
memerintahkan): "Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab
yang pedih"(QS. Nuh: 1)
Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang
menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal. (QS. Hud:39)
Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan
ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan. (QS. Hud: 26)
Pembangkangan kaum Nabi Nuh
Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya kami memandang kamu
berada dalam kesesatan yang nyata".(QS. Al-A'raf: 60)
Mereka berkata: "Hai Nuh sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan
kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah
kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orangorang
yang benar. (QS. Hud: 32)
Dan mulailah Nuh membuat bahtera . Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan
melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkata Nuh: "Jika kamu mengejek kami,
maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian
mengejek (kami). (QS. Hud: 38)
Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: "Orang ini
tidak lain hanyalah manusia seperti kamu , yang bermaksud hendak menjadi
seorang yang lebih tinggi dari kamu . Dan kalau Allah menghendaki , tentu Dia
mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar seruan
(seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. Ia tidak lain
hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah)
terhadapnya sampai suatu waktu. (QS. Al-Mukminun: 24-25)
Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kaum Nuh maka mereka mendustakan
hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: "Dia seorang gila dan dia sudah pernah
diberi ancaman".(QS. Al-Qamar: 9)
Penghinaan terhadap para pengikut Nabi Nuh
Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak
melihat kamu , melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan
kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu , melainkan orang-orang
yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat
kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa
kamu adalah orang-orang yang dusta". (QS. Hud: 27)
Mereka berkata: "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti
kamu ialah orang-orang yang hina?" Nuh menjawab: "Bagaimana aku mengetahui
apa yang telah mereka kerjakan?". Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak
lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari .Dan aku sekali-kali tidka
akan mengusir orang-orang yang beriman. Aku (ini) tidak lain melainkan pemberi
peringatan yang menjelaskan. (QS. Asy-Syuara': 111-115)
Peringatan Allah agar Nabi Nuh tidak Bersedih
Dan diwahyukan kepada Nuh , bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di
antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah
kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Hud: 36)
Doa Nabi Nuh
Maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka , dan
selamatkanlah aku dan orang-orang yang mukmin besertaku. (QS. Asy-Syuara':
118).
Maka dia mengadu kepada Tuhannya : "bahwasanya aku ini adalah orang yang
dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah (aku). (QS. Al-Qamar: 10)
Nuh berkata: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan
siang. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). (QS.
Nuh: 5-6).
Nuh berdoa : "Ya Tuhanku tolonglah aku, karena mereka mendustakan aku."(QS.
Al-Mukminun: 26)
Sesungguhnya Nuh telah menyeru kami : Maka sesungguhnya sebaik-baik yang
memperkenankan (adalah Kami).(QS. Ash-Shaffat: 75)
Pembuatan Kapal (Bahtera)
Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami , dan
janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang zalim itu ,
sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (QS. Hud: 37)
Penghancuran umat Nabi Nuh dengan cara Ditenggelamkan
Maka mereka mendustakan Nuh , kemudian kami selamatkan dia dan orang-orang
yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata
hatinya).(QS. Al-A'raf: 64).
Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. (QS. Asy-
Syuara: 120)
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di
antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun.Maka mereka ditimpa banjir
besar , dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al- Ankabut: 14)
Dibinasakannya Putera Nabi Nuh
Al-Qur'an sehubungan dengan dengan dialog yang terjadi antara Nabi Nuh dan
puteranya, pada tahap-tahap awal dari terjadinya banjir mengungkapkan:
Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung,
dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat jauh terpencil :
"Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada
bersama orang-orang yang kafir." Anaknya menjawab: "Aku akan mencari
perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!". Nuh berkata :
"Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang
Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya ; maka
jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (QS. Hud: 42-43)
Diselamatkannya Orang-Orang yang Beriman dari Banjir
Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal
yang penuh muatan.(QS. Asy-Syuara: 119).
Maka kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan kami
jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia. (QS. Al-Ankabut: 15)
Bentuk Fisik dari Banjir yang Terjadi
Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah .
Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air
itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke
atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku. (QS. Al-Qamar: 11-13)
Hingga apabila perintah Kami datang dan 'dapur'(permukaan bumi yang
memancarkan air hingga meneyebabkan timbulnya taufan) telah memancarkan
air, Kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing
binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah
terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman".
Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. Dan Nuh berkata:
"Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu
berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang". Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam
gelombang laksana gunung, dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada
di tempat jauh terpencil : "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan
janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir." .(QS. Hud: 40-42)
Lalu Kami wahyukan kepadanya : "Buatlah bahtera di bawah penilikan dan
petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan 'tannur' telah
memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap
(jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan
(akan ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku
tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan
ditenggelamkan.(QS. Al-Mukminun: 27)
Terdamparnya Perahu di Tempat yang Tinggi
Dan difirmankan: "Hai bumi tahanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,"
dan airpun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di
atas bukit Judi, dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim". (QS. Hud:
44)
I'tibar yang Diambil dari Peristiwa Banjir
Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa )nenek
moyang) kamu ke dalam bahtera, agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi
kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. (QS. Al-Haqqah:
11-12)
Pujian Allah terhadap Nabi Nuh
"Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam". Sesungguhnya
demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS.
Ash-Shaffat: 79-81)
Apakah Banjir itu Bencana Lokal Saja ataukah Global ?
Mereka yang menolak realitas terjadinya Banjir masa nabi Nuh, menopang pendirian
mereka dengan menyatakan bahwa banjir global atas seluruh dunia adalah suatu hal yang
mustahil. Bukan hanya itu, penyangkalan mereka atas terjadinya banjir yang
bagaimanapun bentuknya adalah ditujukan untuk menyerang apa yang telah
dikemukakan al-Qur'an. Menurut mereka, semua kitab yang berasal dari wahyu, termasuk
al-Qur'an, mempertahankan pendirian bahwa banjir Nuh adalah banjir yang global, dan
karenanya, seluruh berita itu adalah informasi yang keliru.
Penolakan terhadap pernyataan al-Qur'an ini tidak benar. Al-Qur'an diwahykan oleh
Allah, dan al-Qur'an ini merupakan satu-satunya kitab suci yang tidak terrubah. Al-
Qur'an memandang banjir dengan sudut pandang yang sangat berbeda dibandingkan cara
pandang Pentateuch dan legenda-legenda tentang banjir yang lain yang diriwayatkan
dalam berbagai kebudayaan. Pentateuch, nama bagi lima buku (kitab) pertama dalam
Perjanjian Lama, menyatakan bahwa banjir tersebut bersifal global, menutupi seluruh
bumi. Namun, al-Qur'an tidak memberikan keterangan seperti itu, dan sebaliknya, ayatayat
yag relevan dengan peristiwa ini membawa pada suatu kesimpulan bahwa banjir itu
hanya bersifat regional (menutupi wilayah tertentu) dan tidak menutupi seluruh bumi, dan
hanya menenggelamkan umat Nabi Nuh saja yang mereka itu telah diberi peringatan oleh
nabi Nuh dan akhirnya membangkang, sehingga mereka dihukum.
Ketika riwayat-riwayat tentang banjir dalam Perjanjian Lama dan riwayat-riwayat sejenis
dalam Al-Qur'an diuji, perbedaannya sederhana saja. Perjanjian Lama, yang telah
mengalami banyak perubahan dalam penambahan sepanjang sejarahnya, yang karenya
tidak bisa dinilai sebagai wahyu yang orisinil, menggambarkan bagaimana banjir berawal
dalam uraian sebagai berikut:
"Dan Tuhan melihat bahwa kejahatan manusia di bumi adalah besar, dan bahwa setiap
imajinasi dari pikiran-pikiran dalam hatinya hanya selalu perbuatan jahat. Dan ini
menjadikan Allah menyesali bahwa Dia telah menciptakan manusia, dan ini
menyedihkan hatiNya. Dan Tuhan berkata, "Saya akan membinasakan manusia yang
telah saya ciptakan dari permukaan bumi; kedua jenis yang ada, manusia dan binatang,
dan segala yang merayap, dan unggas-unggas di udara, yang karena telah
mengecewakanKu yang telah mencipatakan mereka. Akan tetapi, (Nabi) Nuh
mendapatkan kasih sayang di mata Tuhan" (Genesis, 6: 5-8)
Meski demikian, dalam al-Qur'an, diperlihatkan dengan jelas bahwa banjir itu tidak
meliputi seluruh dunia (bumi), tetapi hanya umat Nabi Nuh yang dihancurkan. Tidak
berbeda sebagaimana Nabi Hud diutus hanya untuk kaum 'Ad (QS. Hud: 50), Nabi Shalih
diutus untuk kaum Tsamud (QS. Hud: 61) serta seluruh Nabi kemudian
sebelumMuhammad adalah diutus hanya untuk umat mereka saja, Nabi Nuh hanya diutus
untuk umatnya dan banjir tersebut hanya menyebabkan punahnya umat Nabi Nuh;
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata):
"Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak
menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab (pada)
hari yang sangat menyedihkan. (QS. Hud: 25-26)
Mereka yang dimusnahkan adalah orang-orang yang secara total tidak menghiraukan
Proklamasi Nabi Nuh akan kerasulannya dan senantiasa menentang. Ayat-ayat yang
senada telah menggambarkan dengan cara yang cukup gamblang:
Maka mereka mendustakan Nuh , kemudian kami selamatkan dia dan orang-orang yang
bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan
ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).(QS. Al-
A'raf: 64).
Di samping itu, dalam al-Qur'an , Allah menegaskan bahwa Dia tidak akan
menghancurkan suatu komunitas masyarakat kecuali seorang rasul telah diutus kepada
mereka. Penghancuran terjadi jika seorang pemberi peringatan telah sampai kepada suatu
kaum, dan pemberi peringatan itu didustakan. Allah menyatakan hal itu dalam Surat al-
Qashash:
Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum dia mengutus di ibukota
itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah
(pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan
kezaliman. (QS. Al-Qashash: 59).
Bukanlah cara Allah untuk mengancurkan suatu kaum yang kepada mereka belum Dia
turunkan rasul. Sebagai seorang pemberi peringatan, Nuh hanya diutus untuk kaumnya
saja. Karena itu, Allah tidak menghancurkan kaum-kaum yang kepada mereka tidak Dia
utus rasul, akan tetapi Allah hanya menghancurkan umat Nabi Nuh.
Dari penyataan-pernyataan dalam al-Qur'an ini, kita bisa memastikan bahwa banjir
tersebut adalah bencana yang bersifat lokal, bukannya global (seluruh dunia). Penggalianpenggalian
yang dilakukan pada daerah-daerah arkeologis yang diperkirakan sebagai
lokasi terjadinya banjir - yang nanti akan kita bahas berikutnya- menunjukkan bahwa
banjir tersebut bukanlah sebuah peristiwa global yang mempengaruhi seluruh bumi, akan
tetapi merupakan sebuah bencana yang sangat luas yang mempengaruhi bagian tertentu
dari wilayah Mesopotamia.
Apakah Seluruh Binatang ikut Dinaikkan ke atas Perahu?
Para penfasir Bibel yakin bahwa Nabi Nuh memasukkan seluruh species binatang yang
ada di muka bumi ke atas Perahu dan binatang-binatang itu bisa selamat dari kepunahan
karena kebaikan Nabi Nuh itu. Menurut apa yang mereka yakini ini, setiap pasang dari
tiap species yang ada di muka bumi juga dibawa bersama ke atas perahu.
Mereka yang mempertahankan pernyataan itu dengan tanpa ragu harus menghadapi
kejanggalan-kejanggalan yang serius dalam berbagai hal. Pertanyaan tentang bagaimana
berbagai jenis binatang yang diangkut ke atas perahu itu diberi makan, bagaimana
mereka ditempatkan di dalam perahu itu (kandang-kandang untuk mereka), atau
bagaimana mereka dipisahkan satu dengan lainnya adalah pertanyaan-pertanyaan yang
mustahil bisa terjawab. Lagi pula, masih ada beberapa pertanyaan yang tersisa:
bagaimana binatang-binatang yang berasal dari berbagai benua (daratan) yang berbeda
bisa dibawa bersamaan - berbagai mamalia yang ada di kutub, kanguru dari Australia,
atau bison yang Aneh dari Amerika?. Juga, masih adalah berbagai pertanyaan lebih
banyak lagi, seperti, bagaimana binatang yang sangat membahayakan - yang berbisa
seperi berbagai jenis ular, kalajengking dan binatang-binatang buas - itu semua bisa
ditangkap, serta bagaimana mereka bisa bertahan padahal dipisahkan dari habitat
alamiahnya untuk suatu waktu hingga banjir itu surut?.
Ini adalah berbagai pertanyaan yang dihadapi oleh Perjanjian Lama. Di dalam al-Qur'an,
tidak ada pernyataan yang mengindikasikan bahwa seluruh species binatang di muka
bumi dinaikkan ke atas perahu. Dan sebagaimana yang telah ditegaskan sebelumnya,
banjir tersebut terjadi dalam sebuah wilayah tertentu saja, sehingga, binatang yang
dinaikkan perahu pun hanyalah yang hidup di wilayah di mana umat Nabi Nuh itu
tinggal.
Meski demikian, ini adalah bukti bahwa mustahil sekalipun hanya untuk mengumpulkan
seluruh jenis binatang yang hidup di wilayah tersebut. Sulit dipikirkan Nabi Nuh beserta
sejumlah kecil orang-orang yang beriman yang menyertainya (QS. Hud: 40) pergi
menuju ke segala penjuru untuk mengumpulan masing-masing dua ekor dari ratusan
species binatang di sekitar mereka. Bahkan, lebih mustahil lagi bagi mereka untuk
mengumpulkan berbagai tipe serangga yang hidup di wilayah mereka, serta untuk
memisahkan antara yang jantan dan betina!. Ini alasan mengapa yang lebih
memungkinkan adalah bahwa yang dikumpulkan itu hanya binatang yang bisa dengan
mudah ditangkap dan dipelihara, dan karenanya, binatang tersebut adalah binatang ternak
yang secara khusus berguna bagi manusia. Nabi Nuh agaknya memasukkan ke atas
perahu binatang binatang sejenis itu, yakni seperti, sapi, biri-biri, kuda, unggas, unta dan
sejenisnya, karena inilah binatang-binatang yang dibutuhkan untuk penyangga kehidupan
baru bagi di wilayah yang telah kehilangan sejumlah besar prasarana hidup dikarenakan
bencana banjir tersebut.
Di sini masalah penting terletak pada bahwa kebijaksanaan Ilahiah dalam perintah Allah
kepada Nabi Nuh untuk untuk mengumpulkan berbagai binatang terletak pada arahan
untuk menumpulkan binatang-binatang yang dibutuhkan untuk kehidupan baru setelah
banjir berakhir daripada untuk kepentingan mempertahankan genus berbagai binatang.
Selama banjir itu bersifat lokal, maka kepunahan berbagai jenis binatang tidak akan
mungkin terjadi. Agaknya ada kecenderungan bahwa pada masa setelah banjir, berbagai
binatang dari wilayah-wilayah lain bermigrasi ke tempat tersebut dan memadati daerah
tersebut dengan cara kehidupan lama yang pernah ada. Sehingga yang terpenting adalah
bahwa kehidupan bisa dirintis kembali begitu banjir berakhir, dan binatang-binatang yang
dikumpulkan (dan diangkut ke atas perahu) adalah dimaksudkan untuk tujuan perintisan
kehidupan seperti itu.
Berapa Tinggikah Air Banjir Tersebut?
Perdebatan lain di seputar masalah banjir itu adalah, apakah banjir itu memancar dan
menggenang sebegitu tingginya sehingga menenggelamkan gunung?. Sebagaimana telah
diberitahukan, al-Qur'an menginformasikan kepada kita bahwa perahu Nabi Nuh itu
terdampat di suati tempat yang bernama "al-Judi" setelah banjir selesai. Kata-kata "judi"
secara umum merujuk pada lokasi gunung tertentu, sedangkan kata-kata itu memiliki arti
"tempat yang tinggi atau bukit". Karenanya, hendaknya jangan dilupakan bahwa di dalam
al-Qur'an , "judi" bisa jadi tidak digunakan sebagai nama bagi gunung tertentu, akan
tetapi untuk menunjukkan bahwa perahu telah terdampar dan terhenti pada sebuah tempat
yang tinggi. Di samping itu, makna dari kata-kata "judi" yang disebutkan di atas mungkin
juga memperlihatkan bahwa air bah itu mencapai ketinggian tertentu, tetapi tidak
mencapai ketinggian puncak gunung. Dengan kata lain bisa dikatakan bahwa yang paling
memungkinkan adalah bahwa banjir itu tidak menenggelamkan seluruh bumi dan seluruh
gunung sebagaimana digambarkan dalam Perjanjian Lama, tetapi hanya menggenangi
wilayah tertentu saja.
Lokasi Banjir Nuh
Daratan Mesopotamia diduga kuat sebagai lokasi di mana banjir masa Nabi Nuh terjadi.
Wilayah ini diketahui sebagai tempat bagi peradaban tertua dalam sejarah. Lagi pula,
dengan posisinya yang berada di antara sungai Tigris dan Eufrat, tempat ini sangat
memungkinkan untuk terjadinya sebuah banjir yang besar. Di antara fakor penyebab
terjadinya banjir kemungkinan adalah bahwa kedua sungai ini airnya meluap dan
membanjiri wilayah tersebut.
Alasan kedua mengapa daerah tersebut diduga kuat sebagai tempat terjadinya banjir
adalah bukti-bukti historis. Dalam rekamana sejarah berbagai peradaban manusia yang
pernah menempati lokasi tersebut, banyak dokumen yang ditemukan telah merujuk pada
pernah terjadinya sebuah banjir, dan banjir itu dalam dokumen tersebut disebutkan terjadi
dalam sebuah pereode masa yang sama. Setelah menyaksikan pembinasaan kaum Nabi
Nuh, peradaban-peradaban tersebut agaknya merasa perlu untuk merekam dalam sejarah
mereka, bagaimana banjir itu terjadi, serta bagaimana juga akibat-akibat yang
ditimbulkan oleh banjir tersebut. Telah diketahui pula, bahwa mayoritas legenda-legenda
yang menceritakan banjir tersebut berasal dari Mesopotamia juga. Yang juga lebih
penting bagi kita adalah temuan-temuan arkeologis. Temuan ini memperlihatkan bahwa
sebuah banjir besar pernah terjadi di wilayah ini. Sebagaimana yang akan kami bahas
secara detail pada halaman-halaman berikutnya, banjir ini telah menyebabkan
tertundanya mata rantai perkembangan peradaban untuk selama jangka waktu tertentu.
Dalam penggalian-penggalian yang dilakukan, nampak jejak-jejak dari bencana dahsyat
tersingkap dari timbunan tanah.
Penggalian-penggalian yang dilakukan di wilayah Mesopotamia telah mengungkap,
bahwa berkali-kali dalam sejarah, wilayah ini menderita berbagai macam bencana
sebagai akibat dari berkali-kali banjir dan meluapnya Sungai Eufrat dan Tigris. Sebagai
misal, pada millenium kedua Sebelum Masehi (SM), pada masa Ibbi-sin, penguasa dari
bangsa Ur yang besar, yang berlokasi di sebelah selatan Mesopotamia, sebuah tahun
tertentu ditandai dengan "sesudah terjadinya sebuah banjir yang telah melenyapkan garis
batas antara surga-surga dan bumi" .1 Di sekitar tahun 1700 Sebelum Masehi (SM), pada
masa kekuasaan Hamurabi dari Babilonia, sebuah tahun dikenang sebagai sebuah masa
dimana terjadi di dalamnya insiden " hujan di kota Eshnunna yang disertai dengan
banjir".
Pada abad ke 10 SM, pada masa pemerintahan Nabu-mukin-apal, sebuah banjir terjadi di
kota Babilon.2 Setelah masa kehidupan Isa (Jesus) pada abad ke 7, 8, 10, 11, dan 12,
banjir-banjir yang dinilai bersejarah (penting) terjadi dalam wilayah tersebut. Dalam abad
ke 20, kejadian yang sama terjadi pada tahun 1925, 1930, dan 1954.3 Jelaslah sudah,
bahwa wilayah ini telah menjadi obyek bagi terjadinya bencana banjir, dan sebagaimana
ditunjukkan dalam al-Qur'an, bahwa rupa-rupanya sebuah banjir yang massif
telah menghancurkan dan membinasakan sebuah komunitas manusia secara
keseluruhan
Catatan
1.Max Mallowan, Nuh's Flood Reconsidered, Iraq:XXVI-2, 1964, hlm.66
2. Ibid.
3. Muazzez Ilmiye Cig, Kuran, Incil ve Tevrat'in Sümer'deki Kökleri (The Roots of Qur'an,
Old Testament and New Testament in Sumer), 2.b., Istanbul: Kaynak, 1996