Jumat, 01 Maret 2013

kisah bag.3


Bukti-Bukti Arkeologis tentang Banjir
Bukanlah suatu hal yang kebetulan bila masa sekarang ini kita sedang mengungkap
jejak-jejak dari mayoritas komunitas manusia yang oleh al-Qur'an dikatakan telah
dibinasakan. Bukti-bukti arkeologis menyajikan fakta, bahwa semakin mendadak
kehancuran sebuah komunitas terjadi, semakin memungkinkan bagi kita untuk melacak
jejak-jejaknya.
Dalam kasus apabila sebuah peradaban hancur secara tiba-tiba, yang ini bisa saja
terjadi karena bencana alam, perpindahan tempat (migrasi) yang mendadak, atau karena
perang, jejak-jejak peradaban sering bisa lebih terpelihara. Rumah-rumah yang mereka
huni, peralatan-peralatan yang mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari, tidak
lama kemudian akan terkubur di bawah bumi. Jadi, jejak-jejak peninggalan mereka itu
bisa terpelihara dalam waktu yang lama dan tidak tersentuh oleh manusia, dan itu semua
merupakan bukti yang penting tentang sejarah masa lampau bila diungkapkan pada saat
sekarang.
Inilah masalah besar sehubungan dengan bukti tentang Banjir masa Nabi Nuh yang telah
diungkap pada saat ini. Walaupun peristiwa penghancuran kaum Bani Nuh itu telah
terjadi sekitar millenium ketiga sebelum Masehi (SM), banjir itu telah mengakhiri
seluruh peradaban untuk jangka waktu tertentu, dan kemudian, menyebabkan lahirnya
lagi sebuah peradaban yang baru di daerah tersebut. Jadi, bukti-bukti yang muncul
tentang banjir ini telah terpelihara selama ribuan tahun agar kita bisa mengambil
pelajaran darinya.
Usaha-usaha penggalian telah dilakukan dalam rangka menginvestigasi peristiwa banjir
yang telah menenggelamkan daratan-daratan di wilayah Mesopotamia. Dalam
penggalian-penggalian yang dilakukan di wilayah tersebut, di empat kota utama
ditemukan jejak-jejak yang menunjukkan bahwa telah terjadi sebuah banjir yang besar.
Kota-kota tersebut adalah kota-kota penting di Mesopotamia; Ur, Erech, Kish, dan
Shuruppak.
Penggalian-penggalian yang dilakukan di kota-kota ini telah mengungkap bahwa semua
dari empat kota ini telah dilanda sebuah banjir pada sekitar millenium ketiga Sebelum
Masehi.
Pertama, mari kita lihat penggalian-penggalian yang dilakukan di Kota Ur.
Sisa-sisa tertua dari sebuah peradaban yang tersingkap dari penggalian di kota Ur, yang
telah diganti namanya menjadi "Tell al Muqayyar" pada masa sekarang ini, menunjuk
pada suatu masa 7000 tahun SM. Sebagai sebuah situs yang pernah menjadi lokasi bagi
peradaban-peradaban tertua, kota Ur telah menjadi sebuah wilayah hunian di mana
berbagai kebudayaan tampil silih berganti.
Temuan arkeologis dari kota Ur memperlihatkan bahwa di sinilah peradaban telah
pernah terputus setelah terjadinya sebuah banjir dahsyat, dan kemudian, peradabanperadaban
baru tampil. R.H. Hall dari British Museum melakukan penggalian yang
pertama di tempat ini. Leonard Woolley yang melakukan penggalian meneruskan setelah
Hall, yang juga menjadi supervisor (pengawas/pembimbing) penggalian yang secara
kolektif diorganisir oleh the British Museum dan University of Pensilvania. Penggalianpenggalian
yang dilakukan oleh Woolley, yang telah memberikan pengaruh besar di
seluruh dunia, berlangsung dari 1922 sampai 1934.
Penggalian yang dilakukan Sir Woolley mengambil lokasi di tengah-tengah padang pasir
antara Baghdad dan Teluk Persi. Pendiri pertama kota Ur adalah orang-orang yang
datang dari Mesopotamia Utara dan mereka menyebut diri mereka dengan "Ubaidian".
Pada awalnya, penggalian itu dilakukan untuk menghimpun informasi berkenaan dengan
orang-orang tersebut. Penggalian yang dilakukan Woolley digambarkan oleh seorang
arkeolog Jerman, Werner Keller, sebagai berikut:
"Kuburan Raja-Raja Ur"- begitu ungkap Woolley dalam kegembiraan besar tatkala
menemukan, telah membubuhkan lubang kuburan bagi kejayaan Sumeria, yang
kehebatan kekuasaannya telah tersingkap saat skop/cangkul para arkeolog mengenai
sebuah tanggul sepanjang 50 kaki di sebelah selatan candi dan ditemukan sebuah
deretan panjang dari pekuburan yang sangat menarik. Kubah/kolong batu yang
ditemukan benar-benar merupakan peti-peti harta yang berharga, yang dipenuhi dengan
piala-piala yang mahal, kendi-kendi dan vas-vas yang dibentuk secara menakjubkan,
barang becah belah terbuat dari perunggu, kepingan-kepingan mutiara, lapis lazuli, dan
perak yang mengelilingi tubuh-tubuh tersebut, yang telah terbentuk menjadi debu/abu.
Barang-barang semacam kecapi dan lyre disandarkan di dinding-dinding. "Hampir
hanya dalam sekali" dia kemudian menulis dalam buku hariannya, "penemuan-penemuan
dihasilkan yang telah memberikan ketegasan tentang kecurigaan-kecurigaan kami. Tepat
di bawah lantai dari salah satu lubang kubur para raja kami menemukan sebuah lapisan
abu berbagai tablet tanah liat, yang tertutupi oleh huruf-huruf yang jauh lebih tua
dibandingkan dengan prasasti di atas kuburan. Dengan mendasarkan pada sifat dari
tulisan yang ada, tablet-tablet tersebut bisa diduga dibuat pada sekitar tahun 3000 SM.
Berarti, itu dua atau tiga abad lebih awal dari lubang kuburan tersebut."
Terowongan/lubang itu ternyata masih bisa dirunut lebih dalam. Tingkatan yang baru,
dengan pecarhan-pecahan kendi, pot dan mangkuk masih tetap nampak terjaga. Para
ahli (ilmuwan) memperhatikan bahwa barang-barang tembikar itu masih cukup
mengejutkan karena tetap tidak berubah. Benar-benar nampak seperti yang telah
ditemukan di pekuburan para raja. Karena itulah, nampaknya selama beberapa abad
peradaban Sumeria tidak mengalami perubahan yang radikal. Mereka tentulah, menurut
kesimpulan yang bisa ditarik, telah mencapai tingak perkembangan yang tinggi yang
menakjubkan pada awal peradaban mereka.
Setelah beberapa hari penggalian dilakukan, beberapa pekerja Woolley berteriak
kepadanya, "Kita telah sampai paga lapisan dasar (ground)", dia kemudian turun sendiri
menuju lantai lubang galian agar bisa puas menyaksikan. Semula, pikiran Woolley
adalah bahwa "Ini adalah penggalian yang terakhir". Wujudnya adalah pasir, pasir
murni yang hanya bisa dikandung oleh air.
Mereka memutuskan untuk menggali lapisan tersebut dan membuat lubang lebih dalam
lagi. Semakin dalam, semakin dalam menuju dasar: tiga kaki, enam kaki -- masih penuh
lumpur. Tiba-tiba, pada kedalaman sepuluh kaki, lapisan lumpur terhenti tiba-tiba. Di
bawah deposit tanah liat ini sekitar sepuluh kaki tebalnya, mereka menemukan buktibukti
baru dari hunian manusia. Wujud dan kualitas dari tembikar telah jelas berubah.
Di sini, barang-barang itu adalah bikinan tangan. Besi belum juga ditemukan di sini.
Peralatan primitif yang nampak adalah peralatan yang terbuat dari tebangan batu api.
Ini mesti terjadi pada masa Zaman Batu!.
Banjir. Itulah penjelasan yang paling mungkin bagi deposit yang tanah liat yang besar di
bawah bukit di kota Ur, yang secara cukup jelas telah memisahkan dua zaman
kehidupan. Samudera telah meninggalkan jejak-jejak yang tidak terpungkiri dalam
bentuk sisa-sisa organisme laut yang terlekat/tersimpan dalam lumpur. 1
Berdasarkan
penemuan arkeologis,
banjir Nabi Nuh
terjadi di daratan
Mesopotamia. Kala itu,
daratan ini memiliki
bentuk yang berbeda.
Pada gambar di atas,
daratan tersebut kini
dibatasi oleh bagian
yang ditandai dengan
garis merah putusputus.
Wilayah luas
yang terletak di
belakang garis merah
tersebut diketahui
dahulunya sebagai bagian dari laut.
Analisa dengan mikroskop mengungkapkan bahwa deposit tanah liat di depan bukit di
kote Ur telah terkumpul disebabkan oleh banjir yang begitu besar yang telah meludeskan
peradaban Sumeria kuno. Epik tentang Gilgamesh dan cerita tentang Nuh tersatukan
dengan lubang galian yang dalam di bawah gurun Mesopotamia.
Max Mallowan menghubungkan pikiran-pikiran Leonard Woolley , yang menyatakan
bahwa endapan massif yang besar itu terbentuk dalam satu waktu tertentu yang hanya
bisa terjadi dikarenakan bencana banjir yang sangat besar. Woolley juga
menggambarkan tentang permukaan banjir yang telah memisahkan kota di Sumeria, kota
Ur dengan kota Al-Ubaid yang penduduknya biasa bekerja mengecat barang tembikar,
sebagaimana yang masih tersisa dari peristiwa banjir tersebut.2
Ini semua menunjukkan bahwa kota Ur adalah salah satu dari berbagai daerah yang
terkena banjir. Werener Keller mengekspressikan arti penting dari penggalian yang telah
disebutkan di atas dengan menyatakan bahwa hasil dari sisa-sisa kota di bawah lapisan
tanah lumpur dalam penggalian arkeologis di Mesopotamia membuktikan bahwa dahulu
kala pernah terjadi banjir di tempat ini. 3
Kota lain yang masih menyimpan jejak-jejak dari banjir Nuh adalah kota Kish di
Sumeria, yang saat ini dikenal dengan nama "Tall al-Uhaimer". Menurut sumber-sumber
Sumeria kuno, kota ini merupakan tempat kedudukan "tahta dari dinasi 'postdiluvian'
yang pertama".4
Kota Shurrupak di sebelah selatan Mesopotamia , yang saat ini diberi nama dengan
"Tall Far'ah", demikian juga, menyimpan jejak-jejak yang masih terlihat dari peristiwa
banjir tersebut. Studi arkeologis yang dilakukan di kota ini dipimpin oleh Erich Schmidt
dari the University of Pensilvania antara tahun 1922-1930. Penggalian-penggalian yang
dilakukan mengungkapkan adanya tiga lapisan yang pernah dihuni oleh manusia dalam
rentang waktu sejak masa pra sejarah hingga dinasti Ur ketiga ( 2112-2004 SM).
Temuan yang paling istimewa adalah reruntuhan dari sebuah bangunan rumah-rumah
yang bagus sepanjang tablet (belahan-belahan batu/prasasti) tulisan-tulisan kuno
berbentuk baji (cuneiform) dari simpanan administrasi dan daftar-daftar kata,
mengindikasikan adanya sebuah masyarakat yang telah berkembang maju hingga akhir
millenium keempat Sebelum Masehi. 5
Penggalian yang dilakukan
oleh Sir Leonard Woolley
di daratan Mesopotamia
menyingkap adanya lapisan
tanah liat berlumpur
dengan ke dalaman 2,5 m
di dalam tanah. Lapisan
tanah liat berlumpur ini
sangat mungkin terbentuk
oleh sejumlah besar tanah
liat yang terbawa air bah,
dan di seluruh dunia, ini
hanya terdapat di bawah daratan Mesopotamia. Penemuan ini menjadi
sebuah bukti penting yang membenarkan bahwa banjir tersebut hanya
terjadi di dataran Mesopotamia.
Masalah terpenting adalah bahwa sebuah banjir besar telah bisa dipahami dengan jelas
terjadi di kota ini pada sekitar 2900-3000 SM. Menurut perhitungan yang dilakukan
Mallowan, 4-5 meter di bawah tanah, Schmidt telah mencapai lapisan tanah kuning
(yang dibentuk oleh banjir) yang terbentuk dari sebuah campuran antara tanah liat dan
pasir. Lapisan ini lebih dekat ke dataran daripada profil tumulus dan bisa diamati
seluruhnya di seputar tumulus…. Schmidt mendefinisikan bahwa lapisan ini terbentuk
dari campuran tanah liat dan pasir, yang masih tersisa sejak masa Kerajaan Kuno
Cemdet Nasr, sebagai "sebuah pasir yang masih dengan keasliannya di dalam sungai"
dan ini diasosiasikan dengan Banjir Nuh. 6
Di dalam penggalian yang dilakukan di kota Shuruppak, sisa-sisa sebuah banjir bisa
ditemukan yang masih berhubungan dengan kurang lebih tahun 2900-3000 SM.
Mungkin, kota Shuruppak terkena imbas dari banjir sebebesar imbas yang diderita kotakota
lain. 7
Tempat (kota) yang terakhir yang terkena banjir adalah kota Erech hingga sebelah
selatan kota Shuruppak yang saat ini dikenal dengan nama "Tall al-Warka". Di kota ini,
sebagaimana di kota-kota yang lainnya, lapisan sebuah banjir juga nampak. Lapisan ini
merujuk pada masa 2900-3000 SM sebagaimana yang lain. 8
Sebagaimana diketahui dengan baik, sungai Eufrat dan Tigris memotong menyeberangi
Mesopotamia dari ujung satu ke ujung yang lain. Nampaknya bahwa selama masa itu,
dua sungai ini dan disertai banyak sumber mata air, besar maupun kecil, meluap, dan,
dengan bersatunya dengan air hujan, telah menyebabkan sebuah banjir yang dahsyat.
Peristiwa itu digambarkan dalam al-Qur'an:
Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah (11).
Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air itu
untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan (12). (QS. Al-Qamar: 11-12).
Ketika faktor-faktor yang menyebabkan banjir itu dibahas satu persatu, nampaklah
bahwa kesemuanya itu merupakan fenomena yang sangat alami. Adapun yang
menjadikan peristiwa itu penuh mukjizat adalah karena kejadiannya pada saat yang
bersamaan dengan peringatan Nabi Nuh kepada kaumnya tentang akan datangnya
bencana semacam itu sebelumnya.
Pengujian terhdap bukti yang didapat dari studi yang komplet mengungkapkan bahwa
daerah banjir membentang sekitar 160 km (lebar) dari timur sampai barat, dan 600 km
(panjang) dari utara sampai selatan. Ini menunjukkan bahwa banjir tersebut menutupi
seluruh daratan-daratan di Mesopotamia. Ketika kita membahas urut-urutan kota Ur,
Erech, Shuruppak dan Kish yang menyembulkan jejak-jejak banjir Nuh, kita melihat
bahwa kota-kota ini berada dalam satu garis sepanjang rute tersebut. Karena itulah,
banjir tersebut pastilah telah mengenai keempat kota ini dan daerah-daerah sekitarnya.
Di samping itu, harus dicatat bahwa pada sekitar 3000 tahun BC, struktur geografis dari
daratan Mesopotamia berbeda dengan kondisi yang ada sekarang. Pasa masa tersebut,
posisi sungai Eufrat terletak lebih ke timur dibandingkan dengan posisi sungai tersebut
saat ini; garis arus sungai ini ternyata dulunya sama dengan garis yang melewati
menembus kota Ur, Erech, Shuruppak dan Kish. Dengan terbukanya "mata air di bumi
dan di surga", agaknya sungai Eufrat meluap dan mengalir tersebar sehingga merusak
empat kota yang disebut di atas.
Catatan
1. Werner Keller, Und die Bibel hat doch recht (The Bible as History; a Confirmation of the Book of
Books), New York: William Morrow, 1964, hlm. 25-29
2. Max Mallowan, Nuh's Flood Reconsidered, Iraq:XXVI-2, 1964, hlm. 70
3. Werner Keller, Und die Bibel hat doch recht (The Bible as History; a Confirmation of the Book of
Books), New York: William Morrow, 1964, hlm. 23-32
4. "Kish", Britannica Micropaedia, Volume 6, hlm. 893
5."Shuruppak", Britannica Micropaedia, Volume 10, hlm. 772
6 Max Mallowan, Early Dynastic Period in Mesapotamia, Cambridge Ancient History 1-2, Cambridge:
1971, hlm. 238
7 Joseph Campbell, Eastern Mythology, hlm. 129
8 Bilim ve Utopya, July 1996, 176. Footnote hlm. 19

Tidak ada komentar:

Posting Komentar